Yesus ke India?

Alkitab adalah satu-satu sumber dan alat ukur kepercayaan kita sebagai orang Kristen. Alkitab banyak mencatat mengenai kehidupan dan karya Tuhan Yesus. Tetapi tidak semua segi kehidupan Yesus perlu ditulis dalam Alkitab karena memang Tuhan memandang kita tidak perlu mengetahuinya. Dilain pihak ada mitos-mitos yang mengaku mengetahui dan mencatat mengenai kehidupan Yesus pada rentang usia tersebut. Beberapa sumber mengatakan bahwa sebelum Yesus melayani di daerah Palestina pada umur 30 tahun Ia berkeliling bahkan sampai ke India. Pada tahun 1887 seorang jurnalis asal Rusia bernama Nicolas Notovitch mengaku pergi ke India dan sampai ke kota Leh di perbatasan antara India dan Tibet, di sana ia melaporkan menemukan gulungan kitab di biara Buddha Himis yang berisi cerita mengenai kehidupan Issa (nama Yesus dalam bahasa Tibet). Menurut pemimpin Lama (pendeta Buddha Tibet) gulungan kitab tersebut disebut ditulis dalam bahasa Tibet setelah diterjemahkan dari bahasa Pali.

Dengan bantuan seorang penterjemah, Notovitch kemudian membujuk pemimpin Lama tersebut untuk menterjemahkan isi Kitab tersebut. Setelah diterjemahkan Notovitch mengatakan bahwa isinya tidak teratur dan tercerai berai jadi ia ‘menolong’ menyusun hasil terjemahan tersebut sehingga tersusun secara kronologis. Dari tulisan tersebut Notovitch menyimpulkan bahwa Yesus pernah pergi ke India dan Tibet bersama para pedagang dari India dan mempelajari ajaran Buddha.

Menurut Notovitch Yesus belajar selama enam tahun bersama para pendeta Hindu Brahma di Juggernaut, Rajagriha, Benares dan kota-kota suci India lainnya. Di sana Yesus mempelajari kitab Veda dan cara menyembuhkan penyakit dengan pertolongan doa.

Yesus juga kemudian mengajar di India. Tetapi karena Yesus juga mengajar kepada kasta Sudra (kasta yang lebih rendah), kaum Brahma dan Ksatria menjadi marah dan Yesus kemudian pergi dari India. Setelah singgah beberapa lama di Persia untuk mengajar, Yesus akhirnya kembali ke Palestina pada umur 29.

Terhadap laporan kontroversial dari Notovitch ini banyak ahli, baik ahli kebudayaan timur maupun ahli sejarah yang menolaknya. Dari sekian banyak penolakan, beberapa diantaranya adalah mengenai cara kerja Notovitch, misalnya hanya mengandalkan satu sumber, penggunaan penterjemah, dan bagaiman Notovitch dengan bebasnya mengatur ulang isi kitab tersebut.

Pada tahun 1895 J. Archibald Douglas, seorang profesor dari Akademi Negri Agra, India, pergi ke biara yang didatangi oleh Notovitch. Setelah diwawancarai, pemimpin Lama biara Himis mengatakan selama 25 tahun ia menjadi pemimpin Lama di biara terebut, tidak pernah ada orang Rusia yang datang ke tempatnya. Lebih lagi pemimpin Lama tersebut juga tidak pernah mendengar tentang gulungan kitab yang berisi mengenai cerita kehidupan Issa di India.

Tetapi walaupun banyak ahli (banyak diantaranya bukan orang Kristen) sudah menganggap laporan Notovitch sebagai dongeng belaka, banyak pihak lain terutama dari kelompok aliran Gerakan Jaman Baru (New Age Movement) yang mendukung dongeng Notovitch. Hal ini umumnya disebabkan karena dongeng ini mendukung klaim mereka bahwa Yesus adalah contoh dari orang biasa yang sudah mencapai tingkat tinggi dalam aktualisasi diri. Bahkan Edgar Cayce mengatakan orang yang kita kenal sebagai Yesus adalah orang yang sudah mengalami reinkarnasi sebanyak 29 kali, termasuk sebagai dewa Hermes, Zend, Amilius, Adam, Yusuf, Yosua, Henokh dan Melkisedek. Jiwa orang ini tidak bisa menjadi ‘Kristus’ sampai reinkarnasi yang ke 30 karena ‘seperti orang biasa’ Yesus juga harus menyelesaikan ‘hutang dosa karma’.

Masih banyak ajaran New Age yang mengajarkan tentang hal ini, tetapi semuanya mengklaim mendapatkan ‘ilham’ dalam bentuk ‘penglihatan’ atau lewat ‘kesadaran tingkat tinggi’. Selain sering bertentangan antara satu dan lainnya, klaim tersebut tidak memiliki dasar sejarah apalagi dasar Alkitab.

Sebagai orang percaya, dasar iman kita hanya satu yaitu Alkitab, Firman Allah yang hidup. Dan Alkitab sendirilah yang bisa menjawab apakah benar Yesus pergi ke India untuk belajar dan lain-lain? Walaupun Alkitab tidak menulis secara detail tentang masa kehidupan Yesus sebelum berumur 30 tahun, tetapi ada bukti yang cukup kuat untuk menolak anggapan bahwa Yesus pernah pergi ke daerah Timur selama delapan belas tahun. Yesus dikenal sebagai tukang kayu (Mrk 6:3) dan juga sebagai anak tukang kayu (Mat 13:55). Orang-orang di Nazareth dan sekitarnya juga menunjukkan bahwa mereka mengenal Yesus dengan baik, selayaknya orang yang sudah lama saling mengenal. Bahkan Lukas 4:22 mengisyaratkan bahwa Yesus sudah sering masuk ke Sinagoga untuk mengajar.

Penting untuk diingat bahwa ketika Yesus mengajar di Sinagoga, Yesus selalu membaca dari kitab-kitab Perjanjian Lama, dan banyak sekali berbicara mengenai peringatan terhadap penyembahan berhala. Pengajarannya juga banyak berbicara mengenai perbedaan antara pencipta dan ciptaannya, hal ini bertentangan dengan pengajaran agama-agama timur yang mengatakan manusia bisa menjadi ‘tuhan’. Yesus juga mengajarkan pentingnya manusia untuk mendapatkan penghapusan dosa dan pertobatan, bukan untuk mencapai tingkat kesadaran dan pengetahuan yang lebih tinggi (gnosis). Yesus juga tidak pernah mengutip atau bahkan menyinggung dari kitab Veda.

Menarik untuk dicatat bahwa agama-agama timur dan gerakan jaman baru (new age) sangat menekankan bahwa manusia bisa mendapatkan pencerahan, aktualisasi diri atau menemukan kekuatan dari dalam, sehingga akhirnya mencapai tingkat seperti tuhan. Sebaliknya Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Tuhan bahkan sebelum manusia diciptakan, bandingkan dengan Yoh 8:58. Jadi mitos tentang perjalanan Yesus ke India tidak bisa dipercaya baik secara ilmiah maupun berdasarkan Firman Tuhan.

Sekali lagi perlu ditekankan, Alkitab sebagai Firman Tuhan sudah cukup sebagai sumber satu-satunya yang dapat dipercaya sebagai dasar iman orang percaya, tidak perlu ada sumber lain baik tertulis ataupun berupa penampakan, penglihatan maupun pewahyuan sebagai tambahan dari Firman Tuhan.

Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” Wahyu 22:18-19