PENGACARA YANG SKEPTIS

Charles Finney

“Jika kekristenan itu benar, mengapa kamu tidak mempertobatkan Finney?” tanya seorang petani muda kepada istrinya yang beragama Kristen dan bersemangat itu.

“Jika ia telah bertobat, aku akan percaya.” Petani itu hanya seorang dari antara orang-orang muda di daerah utara kota Adams, New York, yang berlindung di balik kepopuleran ahli hukum muda dan masih bujangan itu.

Charles Finney dikagumi karena ia gagah dan juga pandai. Sebagai seorang kepala sekolah yang berusia enam belas tahun, ia telah memenangkan pujian dari sarjana-sarjana lain di perbatasan dengan mengalahkan mereka dalam hal berlari, bergulat serta meloncat. Ia menjadi seorang musikus, sarjana klasik kemudian menjadi pengacara pada usia dua puluh enam tahun. Pada tahun 1821, ketika Finney berusia dua puluh sembilan tahun, ia membuka praktek pengacara yang maju dengan pesat dan ia menjadi pujaan orang-orang muda di kota itu.

Setiap orang sadar akan pendapat-pendapat Finney yang bersifat tidak percaya itu. Ia berdebat dengan pendetanya, tetapi karena ia memiliki bakat musik, ia melayani sebagai pemimpin paduan suara di gereja Presbiterian di kota Adams.
Pada suatu kali, dalam suatu persekutuan doa, ia ditanya apakah ia ingin didoakan. “Saya rasa demikian,” ia menjawab setengah hati. “Tetapi Anda sekalian telah cukup berdoa di gereja ini untuk mengusir si iblis keluar dari kota Adams – seandainya ada kuasa dalam doa-doa Anda sekalian.”

Tetapi pernyataan-pernyataan pedas yang diucapkan pemimpin paduan suara itu tidak mencegah sekumpulan kecil orang-orang muda di gereja itu untuk mendoakan dia. Kemudian tanpa setahu mereka, berlakulah proses pertobatan di dalam dirinya.

Daftar bacaan yang paling disukai Finney ialah buku-buku mengenai hukum karangan Blackstone. Ia memperhatikan seri buku-buku yang paling berharga itu, berulang-ulang menyebut Alkitab sebagai kuasa yang paling tinggi. Ia membeli sebuah Alkitab, alasan pertama ialah untuk pendidikannya sendiri, dan alasan lainnya ialah untuk melebihi kepandaian gembala sidangnya. Setelah beberapa minggu, ia menjadi yakin bahwa Alkitab tidak dapat dipersalahkan kalau banyak di antara orang-orang beragama yang dikenalnya tidak konsekwen hidupnya.

Akhirnya ia memutuskan untuk berdamai dengan Allah.

Pada suatu hari Senin, ia mulai membaca Alkitabnya menurut metode – kali ini untuk menolong kebutuhan rohaninya. Tetapi setiap kali ia mendengar kliennya mengetuk pintu, ia menutupi Alkitabnya dengan buku-buku hukum. Ketika memutuskan untuk berdoa, ia menyumbat lubang kunci pintu kantornya agar jangan terdengar dari luar. Namun demikian, usaha-usaha untuk menemukan damai yang dilakukannya diam-diam ini tidak membawa perasaan lega kepadanya.

Hari Rabu pagi telah tiba. Ia berjalan kaki pergi ke kantornya dengan mata yang cekung karena kurang tidur. Tiba-tiba suatu suara dari dalam hatinya seolah-olah berbisik, “Apa yang kau tunggu? Apakah engkau berusaha menjadi benar dengan kekuasaanmu sendiri?” Dalam tulisannya kemudian ia berkata, “Saya mengerti kemudian bahwa karya Kristus adalah karya yang selesai… dan yang harus saya lakukan hanyalah bersedia untuk berhenti berbuat dosa dan untuk menerima Dia.”

Finney menutup kantornya pada hari itu. Diam-diam Ia pergi ke dalam hutan dan menemukan sesuatu seperti ruangan kecil yang terbentuk oleh beberapa pohon besar yang tumbang. Ketika ia berlutut ia mendengar daun-daun bergemerisik. Ia mengangkat wajahnya, karena merasa malu seseorang mungkin menemuinya sedang berlutut. Tetapi tak ada seorang pun di sana. Ia tetap tinggal dalam kesunyian itu untuk berdoa.

Hari telah siang ketika ia berjalan keluar dari hutan itu. Hatinya menyanyi. Ia kembali ke kantornya, berlutut dan berdoa dengan sungguh-sungguh serta menerima Roh Kudus yang memenuhi hatinya dengan penuh kuasa. Setelah itu hampir semua orang di kota Adams itu bertobat – semuanya – kecuali seorang pemuda. Ia berkhotbah di sebuah desa yang dekat, yang bernama Sodom. Seperti kota Adams, Sodom pun tunduk kepada Kristus karena mendengar kesaksian Finney.

Beberapa jemaat lainnya di negara bagian New England tunduk kepada khotbah-khotbahnya yang penuh kuasa. Pelayanannya meluas ke kota-kota besar. Sepuluh ribu orang telah bertobat dalam suatu kebangunan rohani yang diadakan beberapa hari di kota Rochester. Ia kemudian menjadi seorang pengabar Injil yang terkenal, profesor, rektor, dan gembala jemaat. Pada masa sekarang, kuliah-kuliahnya, serta riwayat hidupnya merupakan bacaan standar di sekolah-sekolah yang Injili. Pengacara yang pada mulanya skeptis ini menjadi orang yang sangat berpengaruh dalan kekristenan di Amerika.

Sumber : Bagaimana Tokoh-tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus
Oleh : James C. Hefley
Diterjemahkan oleh : Junny J. Suliman
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung