Mujizat dari Tepi Danau Poso

Kisah Gadis Kecil Melakukan Mukjizat Penyembuhan

Mukjizat dari Tepi Danau PosoPilgrim – July 2007

Dari tepi Danau Poso yang elok di Desa Meko, Pamona Barat, Poso, Sulawesi Tengah, Selvin Bungge (8) telah menyedot perhatian jutaan orang di Indonesia. Gadis kecil ini tiba-tiba saja sanggup menyembuhkan ribuan orang hanya dengan jamahan dan doa.

Rasa penasaranlah yang membawa Aleksander Mangoting, koresponden Bahana di Rantepao, Tana Toraja, mengunjungi Meko. Empat hari (16-19/5) berada di sana, ia menyaksikan rindu dan semangat ribuan orang sakit yang bertahan me-nantikan mukjizat kesembuhan.

TENDA DAN SEMANGAT SEMBUH

Hari masih pagi Rabu (16/5) itu, saat truk yang kami tumpangi berhenti di ujung Desa Meko. Lalu-lalang orang dan kendaraan dari berbagai daerah di Sulawesi membuat jalan kami terhambat. Warung-warung dadakan, pengi-napan sederhana dan wc umum berjajar pada sisi-sisi jalan. Inilah anugerah lain dari mukjizat Meko, batin saya. Truk yang membawa Bahana dan 20 jemaat lain dari Rantepao melaju pelan.

Tampak pucuk-pucuk tenda beraneka warna dari bahan terpal, sejak depan kantor kecamatan Pamona Barat hingga lapangan sepak bola. Ya, lapangan bola di depan rumah orangtua Selvin Bungge telah berubah menjadi pemukiman. Di bawah terpal-terpal itu ribuan orang berteduh dari terik dan hujan, menunggu giliran dijamah sang “dokter kecil”, julukan Selvin.

Bukan hanya lapangan. Tenda telah memenuhi lorong-lorong, hala-man rumah, sekolah, balai desa, dan gereja. Sebuah keluarga dari Makassar membangun tenda di samping kandang babi. Mereka tidak peduli aroma kurang sedap yang menguar dari sana. Makan, minum, tidur dan aktivitas lain dilakukan seperti biasa saja. Barangkali dalam benak mereka, apalah arti bau tak sedap daripada kesembuhan yang akan diperoleh? “Pokoknya dua saudara kami ini bisa sembuh,” ucap seorang bapak. Mendengar kabar penyembuhan oleh Selvin, ia membawa 2 kerabatnya yang lumpuh ke Meko.

Kami dirikan tenda, menata barang-barang dan bekal. Hujan yang masih turun di Meko membuat tanah becek, berlumpur digenangi air. Saya maklum. Hari itu saja sekitar lima ribu orang berada di sana. Jika dihitung mundur sejak bulan Januari, saat awal mukjizat penyembuhan terjadi, barangkali telah ratusan ribu manusia menginjak-injak tanah di lapangan Meko itu.
PEMBARUAN BUDI

Kesembuhan fisik yang dialami orang-orang yang datang ke Meko, ibarat gunung es, hanya pucuknya saja. Akarnya, yang lebih besar dan kokoh, yang lebih abadi, adalah refleksi diri dan pertobatan. Kalau kita berhasil mengubur hawa nafsu dan keserakahan, kata Pdt. James Salarupa, S.Th, akan terjadi pembaruan budi. Pada saat itulah kita yakin Allah dapat melakukan apa saja, bahkan yang mustahil di mata manusia.

Dalam bahasa sehari-hari, Pdt. James merumuskan pembaruan budi sebagai tidak dendam, tidak percaya jimat, tidak menyembah berhala, tidak menginginkan istri orang lain, memberi maaf kepada yang menyakiti hati dan seterusnya, sebagai perwujudannya. “Di Meko yang terjadi adalah pertobatan, bersih diri, koreksi diri, sehingga terjadi pembaruan budi. Implikasi pembaruan budi adalah terjadi kesembuhan fisik,” jelas Pendeta dari Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Meko itu.

Membayar harga untuk kesembuhan tepat untuk menggambarkan situasi di Meko. Kerelaan menunggu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di tenda-tenda yang lembab, dililit rasa bosan, makan seadanya, tidur beralas terpal atau papan, adalah bagian dari proses kesembuhan yang dinanti. Kerin-duan untuk sembuh telah membawa mereka datang. Dengan kerinduan yang sama pula mereka kuat bertahan dalam penantian itu.

Selvin sejak semula telah menyampaikan pesan Tuhan, agar yang datang mencari kesembuhan harus sudah bersih dirinya. Syarat rohani ini harus dipenuhi. Pdt. Menathan Tulak, S.Th punya cerita tentang dua jemaat-nya. Mereka sudah 10 tahun berselisih paham dan tidak saling menyapa. Tetapi Meko mendamaikan keduanya. Sebelum ke sana mereka saling mengun-jungi dan memberi maaf. Bahkan dalam perjalanan Toraja-Meko mereka duduk berdampingan dalam kendaraan yang sama. Begitulah, kebersihan jiwa menjadi syarat utamanya.

REKONSILIASI

Saat kerusuhan sosial merobek-robek Poso, masyarakat merasa Tuhan sudah meninggalkan mereka. Tokoh gereja seperti Pdt. Ishak Pole dan Pdt. James Salarupa sering mendapat pertanyaan bernada putus asa, ‘Di manakah Tuhan’ atau ‘masih adakah Tuhan di Poso’? Saat peristiwa Meko muncul, keduanya yakin Tuhan telah memberi jawaban kepada jemaat mereka. “Inilah jawaban Tuhan kepada kami. Dia tidak pernah meninggalkan kita,” ucap Pdt. James tegas.

Pdt. Ishak mengamini peristiwa Meko merupakan jawaban Tuhan bagi masyarakat Poso pada umumnya. “Coba lihat itu kursi roda, tongkat-tongkat, kacamata di depan rumah Selvin. Itu bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat pilihan-nya,” katanya bersemangat. Bahwa orang dari berbagai daerah, agama, suku bangsa, gereja, dengan hati mendamba ingin mengalami kebesaran Tuhan di Meko tak terbantahkan. Media telah mengekspos begitu banyak mukjizat kesembuhan yang terjadi di sana.

Selvin BunggaKanker stadium empat, stroke, lumpuh, buta, hanyalah sedikit dari beragam penyakit yang sirna setelah didoakan dan disentuh Selvin. Doa Bapa Kami dan lagu Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara terus didaraskan dari tenda-tenda, penuh penghayatan. Kalau Anda sedang berada di Meko, udara seperti hanya menghembuskan cerita mukjizat kesembuhan yang dialami orang-orang.

TUHAN BEGITU DEKAT

Pada awalnya setiap orang dijamah satu persatu oleh Selvin sambil menyebutkan nama dan penyakit yang dideritanya. Tetapi setelah “pasien” mencapai ribuan orang, mereka tetap dijamah tanpa menyebutkan nama. Acara jamahan merupakan bagian yang selalu dinanti-nanti. Biasanya dilakukan setiap hari Jumat mulai pukul 07.00 – 12.00 , kemudian sore hari pukul 14.00 – 19.00. Di luar jam itu orang harus menanti seminggu lagi.

Tetapi Yesus pernah berkata, “jika punya iman sebesar sesawi saja, maka gunung-gunung itu bisa kamu suruh pindah”. Sungguh Allah Maha Kuasa melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. Selama menunggu acara jamahan, orang-orang terus melantunkan Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara. Orang-orang sakit duduk dalam lingkaran. Mereka sedikit demi sedikit bertepuk tangan mengikuti lagu-lagu yang dinyanyikan. Mula-mula perlahan, makin lama kian cepat, sampai mereka bisa berjalan.

Bahana menyaksikan sendiri Pdt. Ch. Latuperissa yang mengalami stroke berat. Di tengah-tengah doa dan nyanyi-an ia tiba-tiba melepas tongkatnya dan bisa berjalan dengan normal. Tangan kanannya yang lumpuh dapat ia gunakan lagi. Ia menyalami semua orang di dalam tenda dengan tangan kanannya, padahal sebelumnya pendeta yang sudah emeritus itu harus dibantu saat bersalaman.

Selama empat hari di Meko, mendengar dan menyaksikan sendiri mukjizat terjadi, beragam perasaan berbaur dalam diri saya. Tetapi di tepi danau Poso yang membentang luas itu, saat gerimis tiba-tiba berderai, saya merasa Tuhan begitu dekat.

(Rantepao akhir Mei 2007, Aleksander Mangoting)

Klip ‘Selvin dalam Solusi’