Menghadapi Ajaran Sesat Secara Kristiani

Ditulis oleh Pdm. Timotius W Purnomo, STh.

Minggu, 11 Nopember 2007 Seminar sehari, yang diadakan pada hari Sabtu, 27 Oktober 2007 di gedung Lautan bulan lalu terlaksana bukan saja atas desakan jemaat GBI Sentul City yang resah karena gerakan ajaran sesat di wilayahnya, tetapi juga sejalan dengan misi Departemen Pengajaran GBI Jemaat Induk Danau Bogor Raya dalam rangka memperlengkapi jemaat supaya tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran sesat yang makin marak akhir-akhir ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pihak yang memberitakan injil lain yang pada dasarnya bukan Injil (Gal 1:6-9).
Seminar ini dihadiri oleh beberapa pemimpin Kristen dan sejumlah jemaat, seluruhnya tidak kurang dari 210 orang. Mengingat banyaknya jenis ajaran sesat dan terus bermunculan yang baru dengan penampilan menarik/inovatif, maka seminar ini secara khusus menyoroti salah satu ajaran sesat yaitu Saksi Yehuwa. Alasannya karena mereka begitu militan dalam mengemban misinya untuk mempengaruhi orang-orang Kristen yang lemah iman karena miskin pemahaman Alkitab.

Melihat Saksi Yehuwa dari sisi hukum. Dengan dikeluarkannya SK pencabutan larangan akan beroperasinya aliran Saksi Yehuwa tentu tidak perlu dikuatirkan oleh umat Kristen karena itu sejalan dengan demokrasi yang dijalankan pemerintahan Gus Dur. Namun pencabutan SK itu jelas akan berdampak makin bebasnya mereka mengunjungi rumah-rumah semua orang dari agama apapun karena memang misi mereka demikian. Dilain pihak hal ini menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa kalau selama ini mereka yang sering keluar-masuk rumah penduduk dijadikan stigma sebagai ‘misi penginjilan Kristen’ sekarang dengan terang masyarakat akan tahu bahwa itu adalah para ‘Saksi-Saksi Yehuwa’. Mereka juga mendatangi rumah umat Kristen sekalipun mereka mengaku sebagai ‘Kristen’ juga walaupun jelas mereka bukan organisasi Kristen. Dalam buku doktrin mereka disebutkan:
“Sekarang ini mereka gemar akan melakukan kewajiban yang diletakkan di atas pundak tiap-tiap orang Kristen sejati, yaitu menyiarkan kabar kesukaan mengenai kerajaan Allah. Dengan segala suka hati mereka pergi, dari rumah ke rumah, di jalan-jalan besar, dan di tempat-tempat pertemuan umum memberitakan jalan Allah menuju ke arah hidup kepada umat Katolik, Protestan, Yahudi dan orang-orang penganut kepercayaan agama lain, atau yang tak beragama sama sekali” (Karena Allah Itu Benar Adanya, hlm.257-258). * Ir. Herlianto/YBA. Artikel 022_ 2001

Pembicara dan peserta mengikuti dengan sangat antusias, sehingga 3 session terlewati sampai usai dengan tetap semangat. Materi disampaikan tanpa memojokkan pihak Saksi Yehowa, bahkan terkesan toleran terhadap aliran sesat SY. Tetapi di tempat terpisah panitia seminar mendengar dari nara sumber alasan yang alkitabiah: “Jika kita lansung menutup pintu atau mengusir seorang SY yang mendantangi rumah kita itu bukan cara Kristiani, yang mengajarkan kasih, hormat dan lemah lembut “(1 Ptr 3:15). Tetapi menarik untuk diperhatikan karena ada perserta seminar yang tidak setuju dengan kesimpulan seminar. Mereka memiliki dasar ayat Alkitab, yaitu 2 Yoh 9-11.
“Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.

Berdasarkan ayat di atas peserta tersebut mendesak nara sumber yang mantan penatua dari SY lebih dari 20 tahun itu untuk menerima ayat di atas secara harfiah. Sementara di dalam buku kecil dari nara sumber Ev. Peter Rondel justru menyebutkan bahwa ayat yang sama dikutip oleh SY untuk mengusir beliau dari kelompok mereka, ketika beliau menyatakan keluar dari aliran Saksi Yehuwa (Bersaksi kepada Saksi-saksi Yehuwa hal. 28).

Menurut komentar dari Alkitab Penunutun Hidup Berkelimpahan (The Full Life Study Bible), oleh LAI menjelaskan bahwa “mereka yang tidak tinggal dalam ajaran Kristus, ialah mereka yang menolak penyataan (pewahyuan) semula dari Kristus dan para rasul tidak memiliki Allah. Walaupun mereka mengaku mengenal Allah (1 Yoh 2:4), mereka tertipu jika mereka tidak tinggal dalam ajaran Kristus; mereka yang meninggalkan ajaran Kristus meninggalkan Kristus sendiri. Semua teologi yang tidak berpegang kepada kebenaran yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru bukan perupakan teologi Kristen dan harus ditolak (Ef 2:20).”

Ayat 10 mengatakan: “janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” Kita perlu memperhatikan bahwa konteks dari ayat ini adalah surat Rasul Yohanes kepada seorang ibu yang terhormat. Pada masa-masa awal kekristenan tidak ada gedung pertemuan jemaat yang berfungsi sebagai gereja seperti sekarang ini. Yang ada adalah persekutuan di rumah-rumah yang tersebar di beberapa tempat (Kis 2:46, 5:42, Kol 4:15, 1 Kor 16:19). Penggunaan suatu tempat ibadah khusus tidak muncul hingga awal abad kedua.

Rasul Yohanes mengingatkan ibu dalam surat tersebut untuk tidak mengijinkan pengajar yang sesat untuk masuk ke dalam rumahnya dalam pengertian sebagai tempat pertemuan jemaat. Artinya jangan biarkan pengajar sesat masuk dalam lingkungan persekutuan jemaat yang ada dalam rumah itu. Dengan mempersilahkan mereka masuk ke dalam lingkungan persekutuan jemaat dapat diartikan mengakui ajaran mereka. Hal ini tidak boleh terjadi.

Rasul Yohanes kemungkinan juga melarang untuk menerima para pengajar sesat itu untuk tinggal dan menginap di rumah-rumah jemaat. Karena pada masa itu, para penginjil, pengajar dan gembala adalah orang-orang yang bepergian dari satu lokasi ke lokasi lain – dari rumah ke rumah. Para pelayan ini sangat bergantung kepada kebaikan para tuan rumah dan jemaat lokal di tempat itu. Rasul Yohanes memerintahkan untuk tidak menerima mereka tinggal / menginap di rumah jemaat supaya mereka tidak menggunakan rumah itu sebagai basis operasi pengajaran sesat mereka.

Rasul Yohanes juga mengingatkan jangan juga memberikan pengajar sesat ini kesempatan / dukungan / kepercayaan bagi mereka untuk mengajar. Hal ini dapat dimengerti dari frasa ‘janganlah memberi salam kepadanya’. Pada masa itu salam adalah hal yang sangat dalam artinya. Salam dalam Alkitab bukan sekedar ucapan tanpa makna, tetapi juga menyiratkan bahwa orang yang memberi salam berdoa supaya Tuhan menyertai atau memberkati orang yang menerima salam. Dalam hal ini salam dapat diartikan mendorong atau mendukung orang tersebut dan apa yang dilakukannya. Hal inilah yang dilarang oleh Rasul Yohanes: Jangan mendukung atau mendorong para pengajar sesat.
Jadi hal ini tidak sama dengan stigma kebanyakan orang bahwa kalau ada pengajar sesat yang datang ke rumah harus kita usir dari rumah, bahkan memberi salam pun tidak. Yang benar adalah jangan biarkan mereka masuk kedalam persekutuan jemaat untuk mengajar, dan jangan berikan dukungan atau dorongan moril kepada mereka.
Satu hal yang perlu kita ingat adalah aliran Saksi Yehuwa hanyalah sebagian kecil dari banyak ajaran-ajaran sesat yang ada di seluruh dunia ini. Bahkan tidak tertutup kemungkinan ada ajaran-ajaran sesat yang sudah masuk dalam lingkungan orang percaya. Bagaimana cara kita melindungi diri dari ajaran-ajaran sesat tersebut? Apakah kita harus menutup pintu kita terus-menerus? Ironisnya, justru itulah yang dilakukan oleh para pengikut Saksi Yehuwa, mereka menggunakan ayat 2 Yoh 10 ini untuk ‘melindungi’ pengikut mereka dengan melarang mereka membaca alkitab versi lain selain versi mereka, melarang membaca buku-buku ‘kristen’ karanganan orang lain selain dari kalangan Saksi Yehuwa.
Tetapi cara yang terbaik adalah memperlengkapi diri kita dengan seluruh perlengkapan senjata Allah (Ef 6:13-18). Bangun iman kita dengan dasar Firman Allah (Rom 10:17, Flp 1:27).

Lalu bagaimana seminar ini memberi kesimpulan praktis supaya peserta mendapat gambaran jika sewaktu-waktu dikunjungi/bertemu saksi-saksi Yehuwa?
1. Memperlengkapi diri dengan pengajaran yang benar dan sehat (ikut proses pembelajaran). Di GBI Danau Bogor Raya Anda bisa mengikuti KOM (Kehidupan Orentasi Melayani). Kita harus melihat pentingnya pembelajaran secara sistematis (Ef 4:12-15).
2. Menguji setiap roh dengan cara melihat buahnya (1 Yoh 4:1).
3. Jangan meninggalkan persekutuan-persekutuan orang percaya, masuk dalam komunitas kecil, yaitu COOL (Community of Love) (Ibr 10:25).
4. TOLAK ajaran Saksi Yehowa, tetapi terima orangnya dengan kasih Kristus. Ingatlah bahwa ajaran sesat itu tidak hanya Saksi Yehowa, mereka semua perlu mendengar Injil yang benar dan kita adalah saksi-saksi Kristus. Allah menghendaki semua orang bertobat dan diselamatkan (1 Tim 2:4; 2 Ptr 3:9).
5. Bagi yang merasa belum memiliki kemampuan untuk berdiskusi dengan SY, JANGAN memberi kesempatan diskusi. Tetapi tetaplah bersikap santun (1 Ptr 3:15).
6. Ajaklah Saksi Yehowa untuk berdoa dalam nama Yesus Kristus, jika mereka tidak bersedia tetaplah Anda berdoa untuknya, supaya Roh Kudus bekerja menginsafkan dia akan dosa dan penghakiman (Yoh 16:8).