LUPUT DARI PEMENGGALAN KEPALA

Oleh: Pdt. Jembri Tembalino

Jarang sekali seorang pendeta mau ditugaskan melayani di desa Masani – Poso, meskipun ini adalah desa Kristen. Banyak orang Kristen dibantai secara keji di sekitar daerah itu. Jembri Tembalino, 30 th, tidak takut menggantikan tugas penggembalaan seorang gembala GPdl yang meninggal karena sakit di desa Masani. Jembri tetap bertahan menggembalakan hanya 2 keluarga karena jemaat lainnya telah mengungsi. Jembri tidak memiliki kendaraan untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan untuk itu ia meminjam sepeda motor milik orang tuanya.

Suatu sore, Jembri menghadiri ibadah Natal bersama di desa Tangkura. Acara berakhir malam dan kembali ke desanya dalam kegelapan malam adalah berbahaya. Terpaksa ia bermalam di desa orang tuanya, Pantangolemba. Keesokan harinya 24 Desember 2004, pagi sekali Jembri memulangkan istri dan anaknya ke desanya terlebih dahulu, sebelum ia kembali lagi ke Pantangolemba untuk mengembalikan motor milik orang tuanya. Setelah memulangkan istri dan anaknya, ia mengembalikan motor itu ditemani seorang jemaatnya, Joni, 18 th. Mereka masing-masing membawa motor melewati jalan diantara perkebunan coklat.

Ditengah perjalanan antara desa Masani dan Pinedapa tampak seorang berdiri di pinggir kanan jalan. Jembri tidak menyadari jika pria itu adalah seorang “radikal” yang sedang menyembunyikan sebuah parang. Jembri sempat membunyikan klakson dan terus melintas dalam kecepatan 30km/jam. Rupanya pria “radikal” itu berencana mengayunkan parangnya ke bagian leher ketika Jembri melintas di depan pria itu sehingga otomatis kepala Jembri akan terpenggal dan menggelinding ke tanah.

Ketika Jembri melintas persis di depan pria itu, seketika pria itu mengayunkan senjatanya. Ia kaget dan melakukan gerakan refleks untuk menghindar dengan cara membungkukkan badannya. Leher Jembri luput dari sebuah penggalan yang mematikan. Namun, parang itu tetap mengenai wajahnya. Mulut Jembri robek dari bagian atas rontok semua. Lidahnya teriris. Karena pipinya robek, rahangnya bagian bawah menggelantung. Ia tidak sanggup mengatupkan mulutnya dan Jembri melemparkan motornya ke pinggir jalan.

Menyaksikan Jembri terluka parah dan terancam nyawanya. Joni melompat dari motornya dan menghampiri pria “radikal” itu. Merekapun berduel, pria “radikal” itu jatuh. Dari balik semak-semak muncul tiga orang pria “radikal” lainnya bersenjatakan parang, lalu mengeroyok Joni. Joni terluka robek di pelipis dan sekujur punggungnya. Jari telunjuk kirinya putus. Joni berlari kembali ke arah desa Masani dalam kejaran tiga pria “radikal”. Sementara salah seorang pria “radikal” itu mengejar Jembri yang berlari ke arah desa Pinedapa.

Jembri lari sambil memegang rahangnya bagian bawah yang menggelantung sambil terkucur darah segar. Tangan Tuhan menolongnya. Semakin jauh Jembri dan Joni berlari, semakin tertinggal pengejarnya. “Aku menaikkan doa pengampunan saat berlari. Aku berteriak: “Tuhan, beri aku kekuatan! Aku ampuni mereka!” Seketika aku merasakan kekuatan mengalir dari atas yang memampukan aku berlari makin kencang dan aku merasa badanku ringan sekali ketika lari.

Tak terasa 1.5 km telah kulampaui hingga tiba di desa Pinedapa. Aku bertemu warga Kristen dan aparat lalu aku dibawa ke rumah sakit Poso dengan angkutan kota,” kata Jembri. Sementara itu, Joni berlari terus hingga tiba di desa Masani dan bertemu aparat di pos pengamanan, lalu ia dilarikan ke rumah sakit Poso dengan di bonceng sepeda motor. Dilokasi kejadian, polisi menemukan beberapa parang tajam sepanjang 70 cm yang masih ada darahnya dan 5 buah karung yang disediakan untuk membungkus kepala Jembri dan Joni yang akan dipenggal.

Jembri merasa bahwa tugas penggembalaan adalah sebuah panggilan yang mana kita tidak boleh memilih-milih. “Setelah ini aku akan tetap kembali melayani Tuhan. Sekarang aku bisa ikut merasakan penderitaan para martir yang mengasihi Allah. Jika waktu itu aku tidak memiliki roh sukacita dan terlalu berfokus pada penderitaanku, mungkin aku sudah menyangkal Kristus,” ungkap Jembri kepada KDP. Dan lagi Jembri menambahkan, “Aku ingin para pendeta melayani Tuhan dengan benar dan sungguh-sungguh.”

KDP menerbangkan Jembri untuk mendapatkan tindakan medis lebih lanjut. Drg.Kamaludin dan Rizal Sutedjo telah memberikan perawatan yang terbaik dan membuatkannya gigi palsu dengan metode implantasi, yaitu menanamkan titanium alloy sebagai pengganti akar. Sekarang Jembri tidak lagi kesulitan mengunyah makanan. Perhatian ini akan mengingatkan orang-orang Kristen teraniaya bahwa mereka tidak sendirian. Tetapi Tuhan bersama mereka melalui saudara-saudari yang memberikan doa dan perhatian.

Goresan bekas luka tampak jelas di sepanjang wajah Jembri. Goresan ini bisa dihilangkan dengan operasi bedah plastik. Kami menawarkan operasi bedah plastik tetapi Jembri menjawab, “Saya tidak perlu itu. Tanda ini akan menjadi kenangan dan kesaksian bagi banyak orang. Mereka akan sangat diberkati oleh kesaksian saya.” Bagi sebagian orang, tanda bekas luka atau cacat adalah hal yang memalukan, tapi bagi orang yang mengasihiNya tanda itu adalah materai perjanjian kemuliaan dengan Allah. Sumber: The Voice Of The Martyrs, founder: Richard Wurmbrand, In Association with International Christian Association. KDP ( Kasih Dalam Perbuatan ) , PO. Box 1411 Surabaya 60014.