Kiai Sadrach – Sketsa Kelam Perjumpaan Tradisi Jawa dengan Kristen Kolonial

Ajaran Kiai Sadrach mengundang kontroversi khususnya di kalangan gereja Belanda. Namun upayanya untuk memperkenalkan Kristus kepada bangsanya tidak perlu diragukan. Apa yang bisa kita pelajari dari sosok sederhana ini?

kiai-sadrach.jpg

Suatu hari, seorang pria Jawa sederhana yang masih berusia 35 tahun dan baru saja menjadi Kristen mendengar suara yang memerintahkannya untuk meninggalkan tanah yang telah digarapnya. Ia begitu berduka. Sesudah membuka hutan di Bondo dengan susah payah, ternyata ia harus meninggalkan hasil jerih payahnya. Tetapi ia merasa harus mengikuti perintah itu. Ketika berangkat, beberapa kali ia menoleh dan melihat apa yang harus ditinggalkannya dan menangis…

MENUNTUT ILMU, MENEMUKAN KRISTUS

Pria itu berangkat ke Purworejo. Kelak ia menjadi “rasul” yang mencatat sejarah kekristenan di tanah Jawa, meskipun dengan silang pendapat penuh kontroversi. Ia telah menjangkau banyak jiwa, jauh melebihi prestasi para misionaris Belanda. Tetapi ia juga dituduh sebagai sumber sinkretisme antara nilai Kristen dan kejawen (ritual tradisi Jawa). Bagi orang Jawa, ia seperti guru bahkan ada yang menganggapnya Ratu Adil di tanah Jawa. Sedangkan bagi para misionaris, dia adalah kiai Jawa yang ambisius dan gila hormat. Ya… dia adalah Kiai Sadrach.Radin. Itulah nama sebenarnya Sadrach. Terlahir sekitar tahun 1835 sebagai anak petani miskin di Kawedanan Jepara (mungkin di Demak), bagian utara Jawa Tengah.

Radin kecil pernah hidup mengemis. Hingga ada keluarga Muslim kaya, yang mengangkatnya anak dan membesarkannya menurut tradisi Islam Jawa. Radin pun mendapat pendidikan di sekolah agama, disamping ngenger (mengabdi) pada keluarga tersebut. Tampaknya Radin memang tertarik dengan hal-hal spiritual sehingga banyak melakukan ziarah spiritual un-tuk meningkatkan ilmunya. Di Semarang, ia belajar pada seorang guru ngelmu bernama Kurmen atau Sis Kanoman. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dari pesantren ke pesantren. Dalam hal kemampuan spiritual, Radin bukanlah orang sembarangan. Ia mampu mengaji, menulis pegon (bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab yang diadaptasikan dengan fonetik Jawa) serta membaca dan menulis dengan aksara Jawa. Nama “Abas” yang berbau Arab pun ditambahkan di belakang namanya sebagai tanda bahwa Radin Abas bukan orang biasa. Ia memang guru ngelmu yang patut disegani. Tetapi tingginya ngelmu tiada sebanding dengan kuasa Kristus.

Pertemuannya dengan bekas gurunya, Pak Kurmen menjadi titik balik sejarah imannya. Pak Kurmen ternyata telah menjadi milik Kristus melalui penginjilan Kiai Kristen Tunggul Wulung. Pak Kurmen memperkenalkan Radin Abas kepada Tunggul Wulung dan Radin Abas pun tunduk menyerah kepada ’ilmu yang tertinggi’ ini. Tunggul Wulung membawa Radin Abas ke Batavia untuk menemui Mr. Anthing, pejabat tinggi Belanda (wakil Mahkamah Agung). Di sana Radin Abas mendapat pengajaran tentang kekristenan selama dua tahun. Pada 14 April 1867, Radin Abas dibaptis oleh Pendeta Ader. Sang guru ngelmu telah tunduk di bawah kuasa Kristus dan berganti nama Sadrach.

MENJADI RASUL ORANG JAWA

Sadrach sempat tinggal di sebuah desa Kristen baru bernama Bondo. Desa ini dibuka oleh Tunggul Wulung. Sadrach bersama Sis Kanoman mengelola desa tersebut karena ditinggal berdakwah oleh Tunggul Wulung untuk mencari pengikut yang mau tinggal di desa baru tersebut. Namun sekembalinya Tunggul Wulung, Sadrach mendengar suara ”panggilan” Tuhan untuk pergi dan menyerahkan segala hasil jerih payahnya kepada Tunggul Wulung. Ia pergi ke Purworejo dan diterima oleh keluarga Philips.

Bagaikan Rasul Paulus yang bertobat dan mempersembahkan segenap kemampuannya, Sadrach pun menggunakan kemampuan dan pengalamannya untuk mewartakan kerajaan-Nya. Pengetahuan Sadrach jauh melebihi yang dimiliki orang-orang Jawa pada masa itu. Ia menguasai tiga bahasa yaitu Jawa, Melayu, dan Arab. Ia juga dapat menulis dalam empat aksara yakni Jawa, Arab, pegon, dan Latin. Selain mempelajari dua agama, Islam dan Kristen, Sadrach juga ngelmu Jawa. Pengalamannya pun cukup luas. Ia telah mengelilingi Pulau Jawa melihat berbagai desa Kristen sebagai model dan dekat dengan orang-orang besar Eropa seperti Anthing, wakil Mahkamah Agung. Kini saatnya Sadrach mempersembahkan segala kemampuannya bagi Tuhan untuk mewartakan Injil, ”Ilmu yang Tertinggi”.

Sadrach menunjukkan tugasnya sebagai “rasul” dengan memilih tinggal di Karangyoso, yang oleh penduduk sekitar dianggap angker dan dihuni oleh roh-roh jahat. Sadrach secara tidak langsung telah memperlihatkan kepada penduduk bahwa “ilmu baru” sang kiai telah mengalahkan setan, hantu, dan jin. Selain itu Sadrach selalu berjalan mengunjungi guru-guru (kiai) yang terkemuka di daerah itu serta berusaha meyakinkan mereka akan kepercayaan Kristen. Banyak guru beserta seluruh muridnya menyerah kalah melawan “ilmu” Kiai Sadrach. Mereka bersedia bertobat dan mau belajar tentang “ilmu” ini. Murid-murid baru tersebut kemudian dibawa oleh Sadrach kepada Nyonya Philips untuk mendapat pelajaran agama Kristen (Pengakuan Iman, Doa Bapa Kami, Sepuluh Perintah Allah) lebih mendalam dan dibaptis oleh pendeta dari Gereja Protestan (Indische Kerk). Sadrach sendiri tidak pernah membaptis orang dan memimpin sakramen. Ia hanya menjadikan mereka pengikut Kristus kemudian menyerahkan sepenuhnya kepada Nyonya Philips.

Melalui Sadrach gerakan kekris-tenan mengalami kemajuan luar biasa, bahkan melebihi usaha para misionaris. Lambat laun jumlah orang Kristen Jawa telah melampaui orang Kristen Belanda di Gereja Purworejo. Sayangnya, kerenggangan sentimen ras mulai timbul. Antipati masyarakat Belanda terhadap orang Kristen Jawa semakin terasa. Apalagi dalam kehidupan jemaat Kristen Sadrach masih ditemukan beberapa ritual tradisi Jawa.

PERSELISIHAN

Kematian Nyonya Philips menjadi titik balik hubungan orang-orang Belanda dengan Kiai Sadrach. Orang Belanda memandang Sadrach hanya sebagai pembantu keluarga Philips. Seluruh pertambahan jemaat dianggap hasil kerja keras keluarga Philips. Oleh karena itu gereja menuntut hegomoni atas jemaat-jemaat Sadrach. Kematian Nyonya Philips yang menjadi benang penghubung antara orang Kristen Jawa dan Eropa terputus sama sekali.

Beberapa usaha pemulihan kerjasama pun selalu gagal karena pihak Belanda tidak mau memandang Sadrach sederajad dengan mereka. Rasisme menakdirkan Sadrach dengan cara apa pun harus tunduk terhadap gereja Protestan. Adalah Wilhelm, misionaris Belanda yang mau bekerja sama dengan Sadrach. Ia rela ”duduk bersama Sadrach” dan mulai memahami keunikan jemaat Sadrach. Di mata jemaat Sadrach, Wilhelm dianggap sebagai pendeta yang membantu Sang Kiai.

Tetapi, di sisi lain, ia terasing dan diabaikan dari komunitas gereja Belanda.Sadrach juga semakin disudutkan dengan berbagai tema dogmatis. Ia dianggap melakukan sinkretisme antara Kristen dan kejawen serta tidak mengerti hakikat ortodoksi kekristenan. Tuduhan yang paling parah lagi adalah Sadrach menganggap dirinya sebagai Ratu Adil. Ia dianggap sebagai Kristus atau konsep Ratu Adil yang akan datang. Gencarnya berbagai isu miring tentang Sadrach membuat NGZV melakukan penyelidikan (tanpa wawancara langsung kepada Sadrach). Pada tahun 1891 dikeluarkan pernyataan bersama para misionaris untuk memisahkan diri dari jemaat Sadrach. Purna sudah hubungan orang-orang Kristen Eropa dengan orang Kristen Jawa.

BERJALAN SENDIRI

Gereja Sadrach pada akhirnya berjalan sendiri. Selama tiga puluh tahun (1894-1924) Sadrach telah berperan menjadi pendeta dan mulai memimpin sakramen perjamuan kudus. Seiring perubahan strategi misi, yaitu dari perkebunan di pedesaan bergeser ke arah pendidikan (sekolah) dan kesehatan (rumah sakit) di perkotaan, jemaat Sadrach pun mulai surut. Sadrach semakin terasing dan secara praktis kembali kepada tradisi kiai, yaitu menjadi guru spiritual, dihormati dan ditakuti namun hidup dengan pengikutnya dalam jagad kecil yang tertutup.

Pada malam 14 November 1924, Sadrach menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 89 tahun. Putra angkatnya, Yotham diangkat sebagai pengganti, namun jemaat semakin melemah sedangkan Yotham tidak memiliki kharisma Sadrach. Jemaat mulai tercerai berai. Ada yang bergabung dengan misi (zending), ada yang tetap mempertahankan semangat mandiri kerasulan. Ada pula yang melebur dengan gereja Katolik. Berakhirlah sepenggal kisah sejarah perjumpaan Jawa dan Eropa yang gagal akibat kekristenan tidak mau mendengar kebudayaan. Betapa pun banyak tuduhan buruk tentang Sadrach, Wilhelm telah meninggalkan catatan tertulis tentang pengakuan Sadrach, ”Aku adalah abdi Tuhan Yesus Kristus. Beliau adalah Perantara dan Guruku” .

(Yosef Krisetyo/dari berbagai sumber)