Fiksi “The Da Vinci Code”

Monday, Jun. 12, 2006 Posted: 9:35:46AM PST

“Now the Spirit expressly says that in latter times some will depart from the faith, giving heed to deceiving spirits and doctrines of demons, speaking lies in hypocricy …”

Demikian pesan Rasul Paulus kepada Timotius, bahwa Roh dengan tegas mengatakan di waktu-waktu kemudian ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan, oleh keadaan munafik yang memberitakan dusta (vide-I Timo- tius 4:1-2).

Setelah membaca novel The Da Vinci Code dari penulis Dan Brown dan menyaksikan filmnya yang disadur dari novel tersebut oleh sutradara Ron Howard, saya mempunyai kesimpulan yang sama dengan Sdr Jaime Gomes (misionaris SVD di Argentina), ternyata dewasa ini masih ada “Yudas Iskariot”, yang menjual Yesus seperti Yudas seharga “tiga puluh keping perak” kepada imam-imam kepala di Sanhendrin.

Dan Brawn dan Ron Howard melalui perusahaan Sony Columbia, meraup jutaan bahkan mungkin miliaran dolar dengan menjual Yesus yang dikemas dalam suatu cerita fiksi yang diklaim didukung fakta historis. Ternyata diramu dengan cara licik dan menyesatkan menggabungkan fakta dan fiksi (A seductively clover mix of fact and fiction).

” Holy Grail”

Menurut versi Dan Brown, yang disebut “Holy Grail” atau cawan minuman yang dipakai Yesus dalam Perjamuan Malam (Last Supper) sebelum disalibkan, adalah “sebetulnya” bukan cawan yang digunakan dalam perjamuan tersebut, tetapi “Holy Grail” adalah oknum Maria Magdalena yang menyandang garis keturunan Yesus dengan melahirkan anak.

Dan yang lebih parah lagi Brown mendasarkan kesimpulannya dari Dokumen Gnostic yang ditolak gereja karena dianggap ajaran sesat dari abad kedua, bahwa Yesus tidak hanya mengambil Maria Magdalena sebagai istrinya tetapi juga direncanakan untuk menugaskannya sebagai “penemu” dari gerejaNya (planned her the founder of His Church-hal. 254).

Alkitab dalam Perjanjian Baru yang ditulis atau diilhamkan ke- pada para saksi mata yaitu keempat penulis Injil menyangkut “cawan minuman” dan “Maria Magdalena”, sangat bertentangan dengan kon- sep Brown dalam novel fiksinya tersebut.

Dalam Penetapan Perjamuan Malam yang tersebut dalam Injil Matius 26 :27-28 disebutkan:

“Sesudah itu Ia (Yesus) mengambil cawan, mengucapkan syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa ………….”

Injil Markus dan Lukas menulis hal yang sama, dimana Yesus melambangkan anggur sebagai darahNya yang akan tercurah disalib untuk pengampunan dosa dan roti sebagai lambang tubuh Kristus yang diserahkan dalam kematianNya sebagai Korban Penebus dosa.

Sedang rasul Yohanes, yang selalu menyebut dirinya “murid yang dikasihiNya” (the disciple whom He loved) dalam Perjamuan terakhir, (The Last Supper) duduk dekat Yesus, dalam Karya Leonardo Da Vinci di tafsirkan bahwa itu bukan Yohanes tetapi Maria Magdalena.

Yang Dikasihi

Bukan hanya dalam peristiwa “The Last Supper”, Yohanes menyebut dirinya “murid yang di-Kasihi Yesus”, tetapi tercatat empat kali, yaitu ketika Yesus disalibkan, oleh Yohanes disebutkan: dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria istri Klopas dan Maria Magdalena, dan “murid yang di-Kasihi-Nya di samping ibu-Nya. (vide-Yoh.19:25-26).

Peristiwa ketiga pada saat kebangkitan Yesus, pagi-pagi benar Maria Magdalena ke kubur Yesus dan melihat batu telah diambil dari kubur, kemudian ia melapor kepada Petrus dan kepada “murid lain yang di-Kasihi Yesus” (vide-Yoh. 20:1-2).

Terakhir menutup kesaksiannya dalam Yohanes 21 bahwa “murid yang dikasihi Yesus” adalah dia sendiri, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, yang duduk dekat Yesus sewaktu perjamuan (vide-ayat 20, 24). Jadi jelas bukan Maria Magdalena yang duduk dekat Yesus sewaktu Perjamuan Terakhir.

Dan Brown juga menggambarkan adanya suatu kelompok orang-orang yang dirahasiakan (secret society) yang disebut Priory of Sion (Biarawan Sion) yang berabad-abad merahasiakan hubungan Yesus dengan Maria Magdalena dan mengklaim bahwa Leonardo Da Vinci dan Issac Newton termasuk anggota rahasia dari Priory of Sion tersebut.

Selanjutnya dia mendongengkan bahwa di dalam karya seni Leonardo Da Vinci meninggalkan petunjuk atau kode yang dibaca secara terbalik yang memberikan penjelasan berbeda tentang Kristus yang tidak sejalan dengan ajaran Alkitab. Karena menurut kode tersebut, Yesus hanya manusia biasa yang kawin dengan Maria Magdalena dan turunan terakhir ada di Prancis bernama Sophie Neveu atau St Clair, yang diuber-uber oleh kelompok Opus Dei dari sekte Katholik yang keras, dengan algojonya si Silas, untuk membungkamkan semua musuh-musuh secret society.

Memang pernah ada versi lain tentang The Priory of Sion namun tidak seperti secret society yang digambarkan Dan Brown, yang didirikan oleh Pierre Plantard (1920-2000) seorang Prancis anti Semitik yang pernah dipejarakan tahun 1953 karena penipuan (fraud). Pada tahun 1960-an hingga tahun 1970-an dia memalsukan beberapa dokumen untuk “membuktikan” adanya garis keturunan dari Yesus dan Maria Magdalena melalui raja-raja Prancis kepada Plantard, sehingga ia (Pierre Plantard) berhak menduduki tahta Perancis.

Mereka menyimpan “dokumen-dokumen” tersebut dipelbagai perpustakaan Perancis, termasuk di The National Library.

Akhirnya pada tahun 1993 Plantard mengaku di bawah sumpah di depan Hakim erancis bahwa dia telah memalsukan semua dokumen yang ada hubungannya dengan The Priory of Sion, sehingga mendapat peringatan keras dari hakim dan kemudian ia dibebaskan sebagai orang “sinting.”

Namun Dan Brown memakai sebagian dari “dokumen palsu” Plantard untuk membenarkan argumentasinya yang bernama Les Dossiers Secrets d’Henry Lobinean. Dari bukti palsu (fraudulent evidence) yang direkayasa Dan Brown, sehingga dianggaplah tetap menjaga “kerahasiaan” Maria Magdalena (sumber: Dennis Fisher – Discovery Series).

Kebenaran di Atas Fiksi

Dan Brown telah merekayasa suatu sejarah alternatif yang menabrak kebenaran sejarah bahkan kebenaran Alkitab.

Hikayat dan kehidupan Maria Magdalena dalam Alkitab Perjanjian Baru sangat bertentangan dengan gambaran Dan Brown dalam cerita fiksinya.

Alkitab menggambarkan kehidupan Maria Magdalena sebagai seorang pendosa yang bertobat dan menjadi pengikut Yesus yang setia, pernah disembuhkan dari roh-roh jahat,jadi saksi penyaliban dan saksi pertama kebangkitan Yesus.

Pemutarbalikan sejarah (distortion of history) yang sangat signifikan dari Dan Brown adalah menyangkut sejarah hidup Kaisar Constantine, yang menurut dia adalah penyembah berhala seumur hidup (a life long pagan) yang dibaptis pada waktu sudah sekarat menjelang mati, sehingga terlalu lemah untuk menolak.

Sejarawan Erich S Gruen, dalam World Book – 2001 menjelaskan bahwa Kaisar Constantine (275-337) yang merupakan Kaisar Roma pada abad ke-empat, adalah kaisar pertama yang menjadi Kristen, dan selama pemerintahannya umat Kristen mendapatkan pengesahan.

Dialah yang membangun Katedral Kristen yang besar, Lateran Basilica di Roma dan beberapa gereja terkenal dekat Roma, Syria, Antioch, Constantinople dan Yerusalem. Pemutarbalikan fakta sejarah bahkan manipulasi terhadap kebenaran dan kekudusan Yesus oleh oknum-oknum yang “jual Yesus” hanya untuk meraih keuntungan besar, bagi umat yang mengakuiNya sebagai Juruselamat dan Nabi, tidak perlu gusar karena Yesus Kristus itu sendiri adalah Kebenaran (Yohanes. 14:6).

Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa melainkan supaya orang berbalik dan bertobat, termasuk Dan Brown.Cs. Ucapan Yesus disalib yang mengatakan “ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, masih berlaku bagi mereka.

**Penulis adalah mantan Direktur Politik/Ketua Clearing House-Interdep Pengawasan Barang Cetakan & Aliran Sesat Jamintel