BUKAN SEKEDAR TUKANG KAYU

Apa yang Membuat Isa
Sangat Berbeda?

Baru-baru ini saya berbicara dengan sekelompok orang di Los Angeles. Saya bertanya kepada mereka, “Menurut pendapat kalian, siapakah Isa Almasih?” Mereka mengatakan bahwa Dia adalah pemimpin agama yang besar. Saya setuju dengan pendapat itu. Isa Almasih memang seorang pemimpin agama yang besar. Tetapi saya yakin, bahwa Dia lebih dari pada itu.

Banyak orang (pria & wanita) hingga akhir abad ini memiliki perbedaan pendapat yang besar atas pertanyaan “Siapakah Isa?” Mengapa banyak konflik terjadi karena seorang pribadi? Mengapa nama itu menyebabkan iritasi melebihi nama-nama pemimpin agama yang lain? Mengapa pada saat Anda berbicara tentang Allah tak ada seorangpun merasa terganggu, tetapi setelah Anda menyebut tentang Isa mereka seringkali segera menghentikan percakapan? Atau mereka menjadi diam? Suatu saat saya menyebut sesuatu tentang Isa kepada sopir taksi di London, dan tiba-tiba dia berkata,”Saya tidak suka berbicara tentang agama, khususnya Isa.”

Seberapa besarkah perbedaan Isa dengan para pemimpin agama lainnya? Mengapa nama-nama seperti Budha, Muhammad, Confucius tidak tarasa menggangu bagi yang mendengarnya? Alasannya adalah bahwa para pemimpin agama ini tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Allah, tetapi Isa mengatakannya. Itulah yang membuat Isa sangat berbeda dengan para pemimpin agama lainnya.

Tidak memerlukan waktu yang lama bagi orang-orang yang mengenal Isa untuk menyadari bahwa Ia telah membuat pernyataan yang mengejutkan tentang diri-Nya sendiri. Ini jelas dari pernyataan-Nya yang telah mengidentifikasikannya sebagai seseorang yang lebih dari sekedar nabi atau guru. Dia secara jelas menyatakan bahwa Dia Tuhan. Dia telah menunjukkan diri-Nya sebagai satu-satunya jalan menuju Allah, satu-satunya sumber pengampunan dosa, dan satu-satunya jalan keselamatan.

Bagi beberapa orang hal ini terlalu tidak umum, terlalu sulit bagi mereka yang ingin mempercayainya. Kini persoalannya bukan apa yang ingin kita pikirkan atau percayai, tetapi apa yang Isa katakan tentang diri-Nya?

Apa yang dikatakan oleh kitab Perjanjian Baru tentang hal ini? Kita seringkali mendengar frasa ini, “Ketuhanan Isa Almasih.” Ini berarti Isa Almasih adalah Tuhan.

A. H. Strong dalam bukunya Teologia Sistematik mendefinisikan Allah sebagai “Roh yang tak terbatas dan sempurna, dimana hanya didalam Dia saja seluruh alam semesta mempunyai sumber, sokongan, dan perhentian.”{1} Definisi ini mewakili semua agama termasuk Muslim dan Yahudi. Teisme mengajarkan bahwa Tuhan adalah pribadi yang merencanakan dan menciptakan alam semesta ini. Tuhan memelihara dan mengaturnya hingga saat ini. Teisme dari sudut Kekristenan memberikan catatan tambahan pada definisi di atas: “…dan yang telah menjelma sebagai Isa dari Nasareth.”

Isa Almasih sesungguhnya adalah sebuah nama dan gelar. Nama Isa (sabutan bahasa Arab) diambil dari nama Grika: Jeshua atau Joshua yang berarti “Yehova – Juruselmat” atau “Alah yang menyelamatkan.” Gelar Almasih diambil dari kata Ibrani: Messiah (atau Ibrani Mashiach – Daniel 9:26) dan berarti “yang diurapi.” Dua jabatan, raja dan imam, dimasukkan dalam penggunaan gelar “Mesias.” Gelar-Nya menegaskan Isa sebagai raja dan imam yang dijanjikan dalam nubuatan kitab Perjanjian Lama. Penegasan ini merupakan salah satu hal yang penting dan krusial untuk memiliki pemahaman yang seimbang tentang Isa dan Kekristenan.

Kitab Perjanjian Baru secara jelas memaparkan Almasih sebagai Tuhan. Nama-nama yang dikenakan kepada Almasih dalam Perjanjian Baru sepantasnya hanya diterapkan kepada Allah. Sebagai contoh, Isa disebut Allah dalam kalimat ini, “Menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita, Isa Almasih.” (Titus 2:13; bandingkan Yohanes 1:1; Ibrani 1:8; Roma 9:5, I Yohanes 5:20,21). Sifat-sifat yang dalam Alkitab dihubungkan dengan Isa hanya dapat diterapkan pada Allah, Isa dinyatakan memiliki eksistensi dengan sendirinya (Yohanes 1:4; 14:6); Mahahadir (Matius 28:20; 18:20); Mahatahu (Yohanes 4:16; 6:64; Matius 17:22-27); Mahkuasa (Whyu 1:8; Lukas 4:39-55; 7:14,15; Matius 8:26,27); dan mempunyai hidup abadi (1 Yohanes 5:11, 12,20; Yohanes 1:4).

Isa menerima penghormatan dan pujian yang selayaknya hanya diterima oleh Tuhan. Dalam konfrontasinya dengan Setan, Isa berkata, “Sudah tertulis, ‘Kamu hanya akan menyembah Tuhan Alllahmu, dan melayani-Nya'” (Matius 4:10) Kini Isa menerima penyembahan sebagai Allah (Matius 14:33; 28:9) dan kadang-kadang menuntut untuk disembah sebagai Tuhan (Yohanes 5:23; bandingkan Ibrani 1:6; Wahyu 5:8-14).

Kebanyakan para pengikut Isa Almasih yang sebelumnya menganut Agama Yahudi percaya adanya satu Allah yang benar. Mereka penganut monoteis yang fanatik, kini mereka mengakui Isa sebagai inkarnasi Allah.

Karena pendidikan kerabiannya yang ekstensif, Paulus tentunya akan kurang suka terhadap gelar ketuhanan Isa, apalagi untuk menyembah seorang manusia yang berasal dari Nasareth dan menyebut-Nya Tuhan. Tetapi itulah yang dilakukan Paulus. Dia mengakui Anak domaba Allah (Isa) sebagai Tuhan ketika dia berkata, ” Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri” (Acts 20:28).

Setelah Almasih bertanya kepada Petrus tentang siapakah Dia sebenarnya, Petrus mengaku,”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” (Matius 16:16). Isa merespon pengakuan Petrus, tidak dengan mengoreksinya, melainkan membenarkan pengakuan itu dan menyebutkan sumbernya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 16:17).

Martha, seorang sahabat yang dekat dengan Isa berkata kepada-Nya, “Aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah” (Yohanes 11:27). Kemudian Natanael, yang berpikir bahwa tidak ada yang baik datang dari Nasaret. Dia mengakui bahwa Isa adalah “Anak Allah; Engkaulah Raja Israel.” (Yohanes 1:49)

Ketika Stefanus dirajam, ia berseru dengan suara nyaring, Ya Tuhan Yesus (Isa), terimalah rohku!” (Kis 7:59). Penulis surat Ibrani menyebutkan Almasih sebagai Allah ketika dia menulis, “ Tetapi tentang Anak Ia berkata, TahtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya.” (Ib 1:8). Yohanes Pembaptis memberitakan kedatangan Isa dengan berkata bahwa “Turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasNya. Dan terdengarlah suara dari langit, ‘Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan’” (luk 3:22).

Kemudian sudah tentu kita mempunyai pengakuan Tomas, yang lebih dikenal sebagai “orang yang kritis.” Barangkali ia seorang sarjana. Ia berkata, “Aku tak akan percaya sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam luka bekas paku itu” (lih Luk 20:25). Saya dapat mengidentifikasikan diri saya dengan Thomas. Ia berkata, “Begini, ini bukan peristiwa seharihari, karena tidak setiap hari orang bangkit dari kematian atau menyatakan dirinya sebagai Allah yang menjelma. Aku perlu bukti.” Delapan hari kemudian setelah Thomas mengatakan rasa sangsinya mengenai Isa di hadapan para murid lainnya, “Isa berada kembali dalam rumah itu dan Thomas berada bersamasama mereka. Sementara pintupintu terkunci, Isa datang dan Ia berdiri di tengahtengah mereka dan berkata, .Damai sejahtera bagi kamu!’ Kemudian Ia berkata kepada Thomas, ‘taruhlah jarimu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan Engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ Thomas menjawab Dia, ‘ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Isa kepadanya, ‘Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.’ “ (Yoh 20:2629). Isa menerima pengakuan Thomas karena ketidakpercayaannya, tetapi bukan karena penyembahannya.

Pada titik ini seorang kritikus barangkali mau mengatakan bahwa semua pengakuan dibuat oleh orang lain mengenai Almasih, dan berasal dari Almasih sendiri mengenai dirinya sendiri. Biasanya tuduhan yang muncul di dalam kelas para mahasiswa ialah bahwa orangorang di masa Almasih itu salah faham tentang Dia, sama halnya dengan kita sekarang ini. Dengan kata lain, Isa tidak sungguhsungguh menyatakan dirinya sebagai Allah.

Saya kira tidak demikian,dan saya yakin bahwa keilahian Almasih itu terdapat langsung dari halamanhalaman perjanjian Baru. Catatancatatan itu berlimpah dan maknanya jelas. Seorang pengusaha yang memeriksa Alkitab untuk memastikan apakah Almasih benarbenar menyatakan diriNya sebagai Allah, berkata, “ Bila ada seorang yang membaca Perjanjian Baru, tetapi tidak menyimpulkan bahwa Isa menyatakan dirinya sebagai Ilahi , maka dia sama halnya dengan seorang buta yang berdiri di luar ruangan pada suatu hari yang cerah dan berkata bahwa dia tak bisa melihat matahari.”

Dalam Injil Yohanes ada konfrontasi antara Isa dengan sejumlah orang Yahudi. Konfrontasi itu dimulai ketika Isa menyembuhkan seorang lumpuh pada hari sabat (hari perhentian untuk ibadah orang Yahudi) dan kemudian memerintahkannya untuk mengangkat tikarnya dan berjalan. “Dan karena alasan inilah maka orangorang Yahudi ingin menganiaya Isa, karena Ia melakukan halhal tersebut pada hari sabat. Tetapi Ia menjawab mereka, ‘BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.’ Sebab itu orangorang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhnya, karena Ia juga mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah” (Yoh 5:1618).

Dalam pemahaman orang Yahudi, dengan mengatakan bahwa Allah adalah “BapaKu” dan bukan “Bapa kita”, maka Isa mengangggap diriNya sebagai Anak Allah. Sebagai akibatnya orang Yahudi semakin membenci Dia. Isa bukan saja menyatakan dirinya sama derajat dengan Allah bila Dia menyebut Allah sebagai Bapanya. Melainkan juga Dia mengklaim bahwa Dia adalah satu dengan Allah Bapa. Pada hari raya Pentahbisan (Peresmian dan pemberkatan) Bait Allah di Yerusalem, Isa didekati oleh sejumlah pemimpinpemimpin Yahudi yang menanyakan apakah Ia memang Mesias itu. Isa mengakhiri komentarNya kepada mereka dengan mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). “Sekali lagi orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Isa. Kata Isa kepada mereka, ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang Yahudi itu, “ Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah (Yoh 10:3133). Orang Yahudi tidak dapat menganggap katakata Isa itu lain daripada hujatan, dan mereka sendiri mulai melaksanakan hukum. Dalam hukum Taurat dinyatakan bahwa hujatan pada Allah harus dihukum rajam (Im 24:16). Tetapi orangorang ini tidak membiarkan berlangsungnya proses hukum seperti seharusnya. Mereka tidak mengajukan tuduhan tertentu sehingga para penguasa dapat mengambil tindakan, tetapi mereka dalam kemarahannya mempersiapkan diri mereka sendiri untuk menjadi hakimhakim dan sekaligus algojoalgojo.

Seorang profesor pernah mengatakan bahwa satusatunya Injil di mana Isa menyatakan Dirinya sebagai Allah adalah Injil Yohanes, sedangkan itu adalah kitab terakhir yang ditulis. Ia menegaskan bahwa dalam Injil yang paling tua yaitu Injil Markus, tak sekalipun menyebutkan pernyataan Isa sebagai Allah. Profesor ini rupanya kurang cermat dalam membaca Injil Markus. Dalam Injil Markus, Isa menyatakan dirinya mampu mengampuni dosa. “Ketika Isa melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, ‘ Hai anakKu, dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5; lihat pula Luk 7:4850). Menurut kaum Yahudi, hal ini hanya bisa dilakukan oleh Allah saja. Orang Yahudi terkejut mendengar perkataan Isa tersebut dan bertanya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat menagampuni dosa, selain Allah sendiri? (Mrk 2:7). Saya dapat mengampuni dosa orang yang bersalah kepada saya, tetapi saya tidak mempunyai wewenang untuk mengampuni dosa seseorang yang dilakukan kepada orang lain, apalagi dosa kepada Allah. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Isa. Ia bertindak sebagai Allah yang mengampuni dosa manusia kepadaNya. Tidak heran jika orang Yahudi bereaksi keras ketika seorang tukang kayu dari Nazaret mengucapkan pernyataan yang demikian berani. Kuasa Isa ini untuk mengampuni dosa adalah contoh yang amat tegas bahwa dia melakukan sesuatu yang merupakan hak istimewa Allah saja.

Juga dalam Injil Markus ada catatan tentang waktu Isa diadili (14:6064). Tata cara peradilan itu adalah salah satu acuan paling jelas terhadap pernyataanpernyataan Isa tentang keilahiannya. “Maka Imam besar bangkit berdiri di tengahtengah sidang dan bertanya kepada Isa, katanya, “ Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhantuduhan saksisaksi ini terhadap Engkau?’ Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apaapa. Imam besar itu bertanya kepadaNya sekali lagi, katanya, ‘Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?’ Jawab Isa, ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan yang Mahakuasa dan datang di tengahtengah awanawan di langit.’ Maka Imam besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata, ‘untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujatNya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?’ Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan bahwa Dia harus dihukum mati.”

Seorang teolog, Robert Anderson menunjukkan, “ Tak ada bukti yang lebih meyakinkan daripada bukti dari para saksi yang menaruh benci. Dan kenyataan bahwa Tuhan menyatakan keilahiannya terbukti jelas melalui tindakan musuhmusuhNya. Kita harus ingat bahwa orangorang Yahudi bukanlah bangsa biadab yang bodoh, melainkan berbudaya tinggi serta amat saleh beribadah. Dan justru berdasarkan tuduhan itu, tanpa satu suara pun yang tidak setuju, hukuman matiNya dijatuhkan oleh Sanhedrin, yaitu Dewan Nasional teringgi mereka, yang terdiri dari pemimpin keagamaan dan yang paling terkemuka.

Menanggapi pernyataan Isa tersebut maka ada dua alternatif yang harus kita hadapi: yaitu bahwa pernyataanpernyataanya itu memang hujatan, atau bahwa dia memang Allah. Hakimhakimnya melihat masalahnya dengan jelas, malah dengan begitu jelas sehingga mereka menyalibkan dia dan kemudian mengejeknya karena “Ia menaruh harapanNya pada Allah … . Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah “ (Mat 27:43).

Hakim Gaynor, ahli hukum terkemuka dari Pengadilan New York, dalam pidatonya mengenai pengadilan Isa, menyatakan bahwa hujatan merupakan tuduhan satusatunya yang dilontarkan kepada Isa dihadapan Sanhedrin. Pada kebanyakan pengadilan, orang diadili karena perbuatan mereka, tetapi bukanlah demikian halnya dengan Isa. Isa diadili karena siapa diriNya. Pengadilan Isa seharusnya cukup untuk memberikan kesaksian bahwa dia mengakui keilahianNya.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan yaitu: Apakah pernyataan Isa itu benar, bahwa Ia adalah Allah, atau pernyataan itu tidak benar, yang menunjukkan Ia pembohong atau mungkin Ia tidak tahu akan apa yang dikatakanNya?

 

Tuhan,
Pembohong atau
Orang Gila?

Pernyataanpernyataan Yesus, dalam mana Dia dengan jelas menyatakan diriNya sebagai Allah, menghapuskan taktik populer kaum skeptis yang menganggap Yesus hanya sebagai seorang manusia baik dengan moral tinggi atau seorang nabi yang mengucapkan banyak hal yang luar biasa hebat dan bersifat dalam. Demikian sering kesimpulan itu diterima sebagai satusatunya kesimpulan yang bisa diterima para sarjana atau sebagai hasil yang jelas dari proses intelektual. Masalahnya banyak orang yang mengangggukkan kepalanya tanda setuju dan tak pernah melihat kesalahan dalam pertimbangan yang demikian.

Bagi Yesus, apa yang dipercayai orang tentang siapa diriNya sangat penting. Bila seseorang mendengar apa yang Yesus katakan dan nyatakan mengenai diriNya sendiri, maka orang itu tak bisa menyimpulkan bahwa Yesus cuma seorang yang baik dengan moral tinggi atau seorang nabi. Alternatif itu tidak ada bagi seseorang, dan Yesus tidak pernah bermaksud memberi alternatif itu.

C.S. Lewis, almarhum profesor di Universitas Cambridge, yang dulunya adalah seorang agnostic (orang yang tidak mengakui adanya Allah), memahami masalah ini dengan jelas. Ia menulis, “Di sini saya mencoba mencegah siapapun untuk mengatakan yang sungguhsungguh bodoh yang sering dikatakan seseorang tentang Dia, yaitu ‘Saya siap menerima Yesus sebagai seorang guru moral yang agung, tetapi saya tidak dapat menerima pernyataanNya bahwa Dia adalah Allah.’ Justru itulah itulah satusatunya hal yang tidak boleh kita katakan. Seseorang yang cuma manusia saja yang mengatakan halhal yang Yesus katakan, tak mungkin seorang guru moral yang agung. Pastilah dia seorang gilasetingkat dengan orang yang mengatakan dirinya telur goreng – atau tentulah dia iblis sendiri yang berasal dari neraka. Anda harus menentukan pilihan anda. Entah orang ini Anak Allah, atau orang gila atau sesuatu yang lebih buruk lagi.”

Kemudian Lewis menambahkan,”Anda dapat menyuruhNya menutup mulutNya dengan menyebutkanNya seorang tolol, anda dapat meludahiNya dan membunuhNya dengan menyebutkanNya setan, atau anda dapat jatuh berlutut di kakiNya dan menyebutNya Tuhan dan Allah. Tetapi jangan menyebutkan omong kosong dengan mengatakan bahwa Dia seorang manusia dan guru yang agung. Ia tidak pernah memberi pilihan itu kepada kita.

Isa menyatakan diriNya sebagai Allah. Ia tidak membiarkan pilihanpilihan lain terbuka bagi manusia. Maka pernyataanNya haruslah salah atau benar. Karena itu kita, setiap manusia, harus mempertimbangkan dengan sungguhsungguh. PertanyaanNya yang dikatakan pada muridmuridNya, “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku?” (Mat 16:15), mempunyai beberapa alternatif.

Pertama mari kita mempertimbangkan kemungkinan bahwa pernyataanNya sebagai Allah adalah salah. Kalau pernyataan itu salah, maka hanya mempunyai dua alternatif saja. Entah Isa tahu bahwa pernyataanNya itu salah, atau Dia tidak mengetahuinya. Kita akan membahas masingmasing alternatif secara terpisah dan menguji buktibuktinya.

APAKAH IA SEORANG PENIPU?

Kalau, pada waktu Isa menyatakan pernyataanpernyataanNya mengenai diriNya Dia tahu bahwa diriNya bukan Allah, maka berarti Ia berdusta dan dengan sengaja menipu pengikutpengikutNya. Tetapi jika Dia seorang pembohong, maka Dia pun juga seorang munafik karena Dia mengajarkan orang lain untuk bersikap jujur, apapun akibatnya, sementara Dia sendiri mengajarkan dan menjalankan hidupNya sebagai suatu kebohongan besarbesaran. Lebih daripada itu, tentulah Ia itu setan, karena dia mengatakan kepada orang lain untuk percaya kepadaNya demi memperoleh kehidupan kekal mereka. Jika Ia tidak dapat menopang pernyataanpernyataanNya ini, dan Dia mengetahui hal itu, maka jelas sekali bahwa Dia adalah seorang yang luar biasa jahat. Yang terakhir, pastilah Ia juga seorang yang tolol karena justru pernyataanpernyataanNya bahwa Ia adalah Anak Allah, yang telah menyebabkan penyalibanNya.

Banyak orang akan mengatakan bahwa Isa adalah seorang guru moral yang baik. Marilah kita bersikap realistis. Bagaimana mungkin ia bisa menjadi seorang guru moral yang agung dan dengan penuh kesadaran menyesatkan orang mengenai pokok terpenting dari ajaranNya, yaitu identitas diriNya sendiri?

Dengan demikian secara logis kita terpaksa menyimpulkan bahwa Isa dengan sadar seorang pembohong. Namun demikian pandangan ini mengenai Isa tidak cocok dengan apa yang kita tahu baik tentang diriNya, maupun tentang hasilhasil dari kehidupan dan ajaranajaranNya. Di manapun Isa diberitakan, ternyata kehidupan manusia berubah menjadi lebih baik. Ada pencuripencuri yang telah berubah menjadi orangorang yang jujur. Pecandu alkohol disembuhkan. Pendengki menjadi saluran kasih. Dan mereka yang tidak adil menjadi orang yang adil.

William Lecky, salah seorang dari ahliahli sejarah Inggris yang paling terkemuka, dan seorang lawan gigih terhadap agama Kristen yang terorganisasi, menulis, “Sudah ditetapkan bagi agama Kristen untuk memberikan kepada dunia ini seorang tokokh ideal yang, selama seluruh perubahan yang terjadi dalam 18 abad, telah memberikan inspirasi kepada hati orangorang dengan kasih yang sangat dalam. Agama Kristen telah membuktikan dirinya mampu berfungsi dalam manusia segala usia, dalam semua bangsa, dalam segala temperamen manusia, dan semua keadaan. Agama inipun terbukti bukan saja merupakan satusatunya pola kebajikan yang tertinggi, melainkan pula dorongan yang paling kuat bagi prakteknya … . Catatan sederhana dari kehidupan aktif (Isa) selama tiga tahun yang singkat ini telah berjasa lebih banyak untuk mengubah serta melunakkan manusia daripada semua pencarian para ahli filsafat dan semua desakan dari kaum moralis.

Philip Schaff, seorang ahli sejarah, mengatakan, “Kesaksian (Isa) ini, kalau tidak benar, maka tentunya suatu hujatan atau kegilaan yang terangterangan. Hipotesa yang disebutkan pertama di atas tak bisa bertahan sejenakpun di hadapan kemurnian moral dan martabat Isa, yang diungkapkan dalam setiap kata dan perbuatanNya, dan yang diakui oleh bangsabangsa di seluruh dunia. Penipuan diri (Isa) dalam masalah yang demikian menentukan, dan dengan otak yang dalam segala hal begitu jelas dan sehat, pun tak mungkin. Bagaimana mungkin Ia dapat menjadi seorang yang penuh semangat ataupun seorang gila yang tak pernah kehilangan kewarasan pikiranNya, yang dengan tenang menempuh segala kesusahan dan penganiayaan, bagaikan matahari di atas awanawan, yang selalu mengembalikan jawaban yang paling bijaksana terhadap pertanyaanpertanyaan yang penuh jebakan, yang dengan tenang dan penuh pertimbangan meramalkan kematianNya di kayu salib, kebangkitanNya, kehancuran Yerusalem – ramalanramalan yang kesemuanya secara harafiah telah dipenuhi? Seorang tokoh yang begitu orisinal, begitu lengkap dan begitu konsisten, begitu sempurna, begitu manusiawi dan pada saat yang sama begitu tinggi melalmpaui segala kebesaran umat manusia, tak mungkin menjadi seorang penipu atau tokoh khayalan belaka. Dalam hal ini, si penyair, seperti telah dikatakan, tentunya lebih hebat daripada si pahlawan. Diperlukan lebih daripada sekedar seorang Isa untuk mengkhayalkan seorang Isa.

Pada kesempatan lain Scahaff mengemukakan argumen yang meyakinkan dalam melawan anggapan bahwa Almasih adalah seorang pembohong: “Bila ditinjau dari sudutsudut logika, akal sehat dan pengalaman, bagaimana mungkin, seorang penipu, yaitu seorang yang penuh tipu daya, egois dan rusak akhlak, telah menciptakan tabiat yang paling murni dan mulia yang pernah dikenal dalam sejarah, yang begitu sempurna, yang begitu sempurna dalam hal kebenaran dan realitas, serta berhasil mempertahankannya sejak semula sampai akhir secara konsisten? Bagaimana mungkin Ia berhasil menciptakan dan berhasil melaksanakan suatu rencana yang tak terbanding manfaat kebaikannya, kebesaran moralnya dan keagungannya, serta mengorbankan hidupnya sendiri untuk hal itu, sementara menghadapi prasangkaprasangka yang paling kuat dari bangsanya sendiri dan zamannya?

Jika Isa ingin supaya banyak orang mengikut Dia dan percaya kepadaNya sebagai Allah, mengapa Dia pergi kepada bangsa Yahudi? Mengapa Dia tampil sebagai seorang tukang kayu dari Nazaret kepada sebuah negeri yang begitu kecil ukurannya serta sedikit penduduknya serta begitu kuat keyakinannya akan keesaan Allah yang tak mungkin terpisahkan? Mengapa Ia tidak pergi misalnya ke Mesir, atau, terlebih lagi ke Yunani, di mana semua orang itu percaya akan berbagai dewa dan berbagai perwujudannya?

Seseorang yang menjalankan hidupnya sebagaimana dilakukan Isa, yang mengajar seperti Isa mengajar, dan mati seperti Isa mati, tak mungkin adalah seorang penipu. Lalu apakah alternatifalternatif yang lain?

APAKAH IA SEORANG GILA?

Jika sama sekali tak masuk akal memikirkan Isa sebagai seorang pembohong, lalu mungkinkah Isa sendiri keliru dalam hal mengira diriNya adalah Allah? Bagaimanapun juga, adalah mungkin bagi seseorang untuk bersifat tulus hati namun toh keliru. Tetapi kita harus ingat bahwa jika seseorang menganggap dirinya Allah, khususnya dalam suatu kebudayaan monotheistis yang amat kuat, dan kemudian mengatakan kepada orang lain bahwa masa depan . Tetapi kita harus ingat bahwa jika seseorang menganggap dirinya Allah, khususnya dalam suatu kebudayaan monotheistis yang amat kuat, dan kemudian mengatakan kepada orang lain bahwa masa depan eka yang kekal tergantung pada kepercayaannya pada dia, maka orang tersebut bukanlah sekedar mengalami suatu khayalan yang sedikit menyeleweng, melainkan pemikirannya adalah pemikiran seorang gila dalam arti yang sepenuhnya. Apakah Isa Almasih orang yang demikan?

Seseorang pada zaman itu menganggap dirinya Allah, kedengarannya pada masa kini seperti seseorang yang menganggap dirinya Napoleon. Dia akan terkecoh dan menipu dirinya sendiri, dan mungkin dia akan ditahan di sebuah tempat khusus supaya dia tidak menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain. Namun demikian di dalam Isa kita tidak menemukan tandatanda ketidak normalan dan ketidakwarasan yang biasanya kelihatan pada orang yang gila. Sikap tenangNya dan tingkahlakuNya yang meyakinkan itu tentu akan amat mengherankan seandainya Dia memang gila.

Dua dokter, arthur P. Noyes dan lawrence C. Kolb, dalam sebuah buku kedokteran, menggambarkan seorang yang menderita penyakit jiwa schizophrenia sebagai orang yang sifatnya lebih terpusat pada pikiran tentang dirinya sendiri dan dunia kahyalan daripada bersifat realistis. Keinginan seorang schizophrenia sudah melarikan diri dari dunia realistis. Baiklah kita menghadapi kenyataan ini. Menyatakan diri sebagai Allah tentunya berarti melarikan diri dari kenyataan.

Berdasarkan halhal lain yang kita tahu tentang Isa, sulit untuk kita bayangkan bahwa Dia adalah orang yang tidak waras pikiranNya. Dia adalah seorang lakilaki yang mengatakan sebagian ucapanucapan yang artinya paling dalam yang pernah dicatat oleh manusia. AjaranajaranNya telah membebaskan banyak orang yang sebelumnya terikat secara mental. Clark H. Pinnock bertanya, “Apakah Ia terkecoh tentang kebesaranNya itu? Apakah ia penderita paranoia, seorang yang tak sengaja menipu, seorang schizophrenis? Sekali lagi, kecakapan dan kedalaman ajaranajaranNya mendukung kesehatan mentalNya secara menyeluruh. Kalau saja kita bisa sewaras Dia!”

Seorang mahasiswa pada sebuah universitas California mengatakan pada saya bahwa profesor psikologinya pernah berkata di kelas bahwa “dia cuma perlu mengambil Alkitab dan membacakan bagianbagian dari Ajaran Almasih kepada banyak pasiennya. Cuma itu konseling yang mereka perlukan.

J.T. Fisher, seorang psikiater, menyatakan, “Seandainya kita mengumpulkan keseluruhan artikel bermutu yang pernah ditulis para psikolog dan psikiater yang paling berbobot tentang kesehatan mental – seandainya kita mengkombinasikan serta memperbaikinya dan membuang segala kata yang hanya merupakan hiasan, dan seandainya kita mengumpulkan setiap bagian dari pengetahuan ilmiah yang murni dan tidak menyeleweng ini, yang secara tepat dan padat diungkapkan oleh para penyair paling pandai yang hidup sekarang ini, kita akan memiliki suatu ringkasan yang janggal dan tidak lengkap dari Kotbah di Bukit. Dan bila diperbandingkan dengan Kotbah di Bukit, maka ringkasan itu akan sangat tidak memadai. Selama hampir 2000 tahun dunia Kristen telah memegang dengan tangannya jawaban yang lengkap terhadap keinginankeinginannya yang penuh kegelisaan dan keseasiaan. Di sini … terdapat rancangan bagi kehidupan manusia yang dapat berhasil dengan optimisme, kesehatan mental dan kepuasan.

C.S. Lewis menulis, “ Kesulitan historis dalam memberikan penjelasan apa pun bagi kehidupan, ucapanucapan dan pengaruh Isa yang tidak lebih sulit daripada penjelasan Kristen amatlah besar. Kesenjangan antara kedalaman dan kesehatan … dari ajaranajaran moralNya dan megalomania yang merajalela yang harus terletak di balik ajaran theologisNya kecuali kalau dia benarbenar Allah, tak pernah dijelaskan dengan cara yang sungguhsungguh memuaskan. Karena itu hipotesahipotesa nonKristen menggantikan yang satu dengan yang lain dengan kebingungan yang terusmenerus penuh dengan kegelisahan.”

Philip Schaff berargumentasi,”Apakah pemikiran yang demikian – yang jelas bagaikan langit, yang menyegarkan bagaikan udara dingin dipegunungan, yang tajam dan mampu menembus bagaikan pedang, yang secara keseluruhan sehat dan kuat, yang selalu siap dan selalu penuh penguasaan diri – dapaty dikenakan oleh pengecohan yang radikal dan paling serius mengenai tabiat dan isiNya sendiri? Sungguh suatu khayalan yang konyol.”

APAKAH DIA TUHAN?

Secara pribadi saya tak bisa menyimpulkan bahwa Isa adalah pembohong atau orang gila. Alternatif lainnya yang tinggal ialah bahwa Dia adalah Almasih, Anak Allah, sperti yang dinyatakanNya.

Bila saya membicarakan hal ini dengan kebanyakan orang Yahudi, saya tertarik dengan tanggapan mereka. Umumnya mereka mengatakan bahwa Isa adalah seorang pemimpin keagamaan yang jujur dan bermoral, seorang yang baik, atau sejenis nabi. Kemudian saya menceritakan kepada mereka pernyataanpernyataan yang Isa buat tentang diriNya serta bahan pembicaraan dalam bab ini mengenai ketiga pilihan tersebut (pembohong, orang gila, atau Tuhan). Ketika saya tanyakan kepada mereka apakah mereka percaya bahwa Isa seorang pembohong, dengantajam merekamenjawab “tidak!” Lalu saya bertanya, “apakah anda percaya bahwa Dia orang gila?” jawabannya, “Sudah tentu tidak.” Apakh anda percaya Dia itu Allah?” sebelum saya menarik napas, terdengar suara yang menggema, “Sama sekali tidak.” Namun demikian terbataslah pilihan yang ada.

Masalah dengan ketiga pilihan ini bukanlah pilihan mana yang mungkin, karena jelas sekali bahwa ketigatiganya itu mungkin. Melainkan pertanyaannya adalah, “Pilihan mana yang paling mungkin?” Siapa Isa Almasih menurut anda tidak boleh menjadi suatu latihan intelektual yang isengiseng saja. Anda tak dapat mengesampingkanNya sebagai seorang guru moral yang agung. Itu bukan pilihan yang sah. Atau bahkan Dia seorang pembohong, seorang gila atau Tuhan dan Allah. Anda harus menentukan pilihan. “Tetapi” demikian tulis rasul Yohanes, “Semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Isa-lah Mesias, Anak Allah, dan “ – yang lebih penting lagi – “supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya” (Yoh. 20:31)

Bukti dengan jelas menunjukkan bahwa Isa adalah Tuhan, tetapi sejumlah orang tertentu menolak bukti yang jelas ini karena implikasiimplikasi moral yang terlibat dengannya. Mereka tak mau menghadapi tanggungjawab atau implikasi dari menyebut Isa sebagai Tuhan. Bagaimana pendapat Saudara?

Bagaimana
tentang Ilmu Pengetahuan?

Banyak orang mencoba untuk meletakkan komitmen pribadinya kepada Almasih dengan menyuarakan asumsi bahwa jika anda tidak dapat membuktikan sesuatu secara ilmiah, maka sesuatu itu tidak benar atau tidak dapat diterima. Sejak seseorang tidak dapat membuktikan secara ilmiah ketuhanan Almasih atau tentang kebangkitan-Nya, orang-orang pada abad kedua puluh lebih sekedar mengenal-Nya daripada menerima Almasih sebagai Juruselamat atau mempercayai kebangkitan.

Seringkali dalam sebuah kelas filsafat atau sejarah, saya diperhadapkan dengan tantangan “Dapatkah anda membuktikannya secara ilmiah?” Saya selalu berkata, “Tidak, saya bukanlah seorang ilmuwan.” Lalu anda dapat mendengar kelas cekikikan dan selalu ada beberapa suara yang mengatakan, “Jangan berbicara tentang hal itu kepada saya,” atau “Benar kan, anda harus mempercayai semua itu dengan iman” (maksudnya iman yang buta).

Baru-baru ini dalam penerbangan ke Boston saya berbicara dengan penumpang di sebelah saya tentang bagaimana saya secara pribadi mempercayai Kristus sebagaimana Dia telah mengatakannya. Sementara itu Pilot menyampaikan salam kepada semua penumpang di tengah-tengah pecakapan kami. “Anda mempunyai masalah,” kata teman saya tadi. “Apakah itu?” tanya saya. “Anda tidak dapat membuktikan hal itu secara ilmiah,” lanjutnya.

Mentalitas manusia modern telah menurun luar biasa. Bagaimanapun juga, pada abad kedua puluh ini kita dapat menjumpai banyak orang yang berpegang pada pendapat bahwa jika anda tidak dapat membuktikan ketuhanan Yesus dan kebangkitan-Nya secara ilmiah, hal itu tidak benar. Baiklah, itu tidak benar! Ada satu masalah dalam pembuktian tentang seseorang atau sebuah peristiwa dalam sejarah. Kita harus memahami perbedaan antara pembuktian ilmiah dan apa yang saya katakan pembuktian sejarah resmi. Akan saya jelaskan kedua hal ini.

Pembuktian ilmiah didasarkan pada keberhasilan memperlihatkan bahwa sesuatu adalah sebuah fakta, dengan mengulang peristiwa tersebut pada masa kini dihadapan orang yang bertanya tentang fakta tersebut. Pembuktian itu dikontrol oleh lingkungan yang memungkinkan pengamatan dapat dibuat, data dapat diperoleh, dan hipotesa secara empiris dapat dibuktikan.

“Metode ilmiah, sebagaimana hal itu didefinisikan, diperlukan untuk pengukuran fenomena dan percobaan atau pengulangan pengamatan.” {1} Dr. James B.Conant, mantan Presiden Harvard, menulis: “ilmu pengetahuan adalah bagian-bagian yang tidak saling berhubungan dari konsep-konsep atau skema konseptual yang telah dibangun sebagai sebuah hasil dari percobaan dan pengamatan, dan hal itu kemudian membuahkan percobaan dan pengamatan selanjutnya.”{2}

Menguji kebenaran dari sebuah hipotesa dengan memanfaatkan kontrol percobaan adalah salah satu teknik kunci dari metode ilmiah modern. Sebagai contoh, seseorang berkata, “Sabun Ivory tidak mengapung.” Maka saya meminta seseorang pergi ke dapur, mengambil dan menaruh air ke dalam panci setinggi delapan inci pada suhu 82.7°, dan memasukkan sabun tersebut ke dalamnya. Plung! Pengamatan dilakukan, data ditulis, dan hipotesa secara empiris dibuktikan: sabun Ivory mengapung.

Jika metode ilmiah hanya satu-satunya cara pembuktian sesuatu, anda tidak dapat membuktikan bahwa anda telah mengikuti kelas jam pertama pada pagi ini atau bahwa anda telah makan siang hari ini. Tidak ada jalan bagi anda untuk mengulang peristiwa-peristiwa itu dalam situasi yang dikontrol.

Sekarang, berikut ini apa yang disebut pembuktian sejarah resmi, yang didasarkan pada pemaparan bahwa sesuatu adalah fakta yang pasti masuk akal. Dengan kata lain, sebuah keputusan ditetapkan berdasarkan bobot dari fakta-fakta. Berdasarkan hal itu lah tidak alasan yang layak untuk meragukan keputusan. Hal ini bergantung pada tiga jenis kesaksian: kesaksian lisan, kesaksian tertulis, dan barang bukti (seperti pistol, peluru, buku catatan, dll.). Dengan menggunakan metode resmi untuk mengungkap apa yang terjadi, anda dapat dengan baik membuktikan kepastian bahwa anda masuk kelas pagi tadi, dengan mengumpulkan fakta-fakta: teman-teman anda melihat anda, anda punya catatan kuliah, dan dosen mengingat anda.

Metode ilmiah hanya dapat digunakan untuk membuktikan sesuatu yang dapat diulang. Metode ilmiah tidak memadai untuk membuktikan atau tidak membuktikan pertanyaan-pertanyaan tentang seseorang atau peristiwa dalam sejarah. Metode ilmiah tidak cocok untuk menjawab pertanyaan seperti “Apakah Josh Washington pernah hidup?” “Apakah Martin Luther King adalah pemimpin hak asasi sipil?” “Siapakah Isa dari Nazareth?” “Apakah Robert Kennedy Jaksa Agung USA?” “Apakah Isa Almasih telah bangkit dari kematian?” Semua itu diluar bidang pembuktian secara ilmiah, dan kita perlu meletakkannya dalam bidang pembuktian sejarah-resmi. Dengan kata lain, metode ilmiah yang didasarkan pada pembuktian melalui pengamatan, pegumpulan data, pembuatan hipotesa, deduksi, dan percobaan hanya untuk mendapatkan dan menjelaskan keberaturan empiris dalam alam, tetapi tidak mempunyai jawaban akhir terhadap pertanyaan seperti “Dapatkan anda membuktikan kebangkitan Isa?” atau “Dapatkah anda membuktikan bahwa Isa adalah Anak Allah?” Ketika orang-orang menyandarkan diri pada metode sejarah-resmi, mereka perlu melihat kembali kesaksian yang dapat dipercayai.

Satu hal yang secara khusus mengangkat iman saya adalah bahwa iman Kristen bukanlah iman yang membabi buta, keparcayaan yang bodoh, tetapi lebih dari itu adalah sebuah iman yang masuk akal. Setiap kali di dalam Alkitab ketika seseorang dipanggil untuk menjalani ujian iman, ini adalah iman yang masuk akal. Isa berkata dalam Yohanes 8, “Kamu akan mengetahui kebenaran,” jangan abaikan hal ini. Almasih pernah bertanya, “Apakah perintah terbesar dari semuanya?” Dia berkata, “Mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap akal budimu.” Permasalahannya adalah sebagian besar orang hanya berhenti pada hati mereka. Fakta-fakta tetang Almasih tidak pernah ditaruh dalam pikiran mereka. Kita diberi sebuah pikiran yang telah diperbaharui oleh Roh Kudus untuk mengenal Allah, sebaik hati yang mengasihi Dia, dan kemauan untuk memilih Dia. Kita perlu memfungsikan ketiga wilayah tersebut (hati, pikiran, dan kemauan) untuk membangun hubungan pribadi dengan Allah yang maksimal dan untuk memuliakan Dia. Saya tidak tahu dengan anda para pembaca, tetapi hati saya tidak dapat bersukacita dalam suatu hal yang tidak dapat diterima oleh pikiran saya. Hati dan pikiran saya diciptakan untuk bekerja besama-sama secara harmonis. Tidak pernah ada seseorang yang telah dipanggil untuk membunuh akal budi-nya dalam mempercayai Mesias sebagai Juruselamat dan Tuhan.

Dalam bab berikutnya kita akan melihat fakta-fakta yang dapat dipercayai dari dokumen-dokumen tertulis, juga kredibilitas dari kesaksian lisan dan saksi mata yang bersama-sama Isa Almasih.

 

CATATAN :
1. The New Encyclopedia Britannica, Micropaedia Vol. VIII, p. 985.
2.
James B. Conant, Science and Common Sense (New Haven: Yale University Press, 1951), p. 25.

Apakah Catatan-catatan
Alkitab dapat Dipercaya?

Perjanjian Baru merupakan sumber sejarah utama bagi informasi mengenai Isa. Karena itu, banyak kritikus dalam abab ke 19 dan ke 20 sudah menyerang reliabilitas dokumendokumen Alkitab. Tampaknya ada tuduhan terusmenerus yang tak mempunyai dasar sejarah ataupun yang kini telah ketinggalan jaman dengan adanya hasilhasil penemuaan dan penelitian arkeologis terbaru.

Ketika saya memberi ceramahceramah di universitas Arizona State, seorang profesor yang membawa mahasiswamahasiswa jurusan sastranya bersamanya, mendekati saya setelah suatu kuliah “bebas” di ruangan terbuka. Katanya, “Tuan McDowell, anda mendasarkan pernyataanpernyataan anda mengenai Almasih dengan menggunakan dokumen abad ke 2 yang kini sudah kuno. Saya membuktikan di kelas saya hari ini bagaimana Perjanjian Baru ditulis pada waktu yang sebegitu lama setelah Almasih hidup sehingga catatancatatan itu tak mungkin tepat.”

Saya menjawab, “Pandanganpandangan atau kesimpulankesimpulan anda mengenai perjanjian Baru sudah dua puluh lima tahun ketinggalan jaman.” Pandanganpandangan profesor tersebut mengenai catatancatatan tentang Isa di dasarkan pada kesimpulankesimpulan dari seorang kritikus Jerman, F.C. Baur. Baur menyimpulkan bahwa kebanyakan kitabkitab perjanjian Baru baru ditulis pada akhir abad ke 2 Masehi. Ia menyimpulkan bahwa tulisantulisan tersebut pada dasarnya berasal dari mitosmitos atau legendalegenda yang telah berkembang dalam kurun waktu yang lama, antara masa hidup Isa sampai laporanlaporan tersebut ditulis.

Namun pada abad ke 20, penemuanpenemuan arkeologis telah memastikan ketepatan naskahnaskah perjanjian Baru. Penemuanpenemuan naskahnaskah papirus tua (manusciptmanuscript John Ryland, tahun 130 M., Papirus Cester Beatty, 155 M., dan Papirus Bodmer II, 200 M.) Menjembatani jurang antara masa Isa dan naskahnaskah yang berasal dari masa sesudahnya.

Millar Burrows dari universitas Yale mengatakan, “ Hasil lain dari perbandingan bahasa Yunani yang dipakai pada naskah Perjanjian Baru dengan bahasa yang dipakai pada papirus ( yaitu, penemuanpenemuan itu) merupakan peningkatan keyakinan akan ketepatan penyampaian teks Perjanjian Baru itu sendiri. Penemuanpenemuan seperti itu telah meningkatkan keyakinan para sarjana bahwa Alkitab dapat dipercayai.

William Albright, yang dulu arkeolog Alkitab paling terkemuka di dunia, menulis, “Kita dapat mengatakan dengan sungguhsungguh bahwa tak ada lagi alasan kuat untuk memperkirakan tanggal kitab manapun dari Perjanjian Baru itu setelah tahun 80 M., dua generasi penuh sebelum tanggal yang diberikan oleh para kritikus Perjanjian Baru yang lebih radikal di masa kini, yaitu 130 dan 150.” Ia mengungkapkan pandangan ini dalam suatu wawancara dalam majalah Christianity Today, “Saya berpendapat, setiap kitab dari Perjanjian Baru ditulis oleh seorang Yahudi yang telah (menjadi Kristen dan) dibaptiskan antara tahun 40 sampai 80 dari abad I Masehi (kemungkinan sekali antara tahun 5075).

Sir William Ramsay dipandang sebagai salah satu dari arkeologarkeolog terbesar yang pernah hidup. Ia seorang pengikut aliran sejarah Jerman yang mengajarkan bahwa Kisah Para Rasul merupakan produk dari pertengahan abad ke 2 Masehi, dan bukan abad pertama sperti yang dikemukakan oleh buku itu sendiri. Setelah membaca kritik modern mengenai Kisah Para Rasul, ia menjadi yakin bahwa kitab itu tidak memuat catatan yang akurat yang dapat dipercayai mengenai faktafakta waktu itu (tahun 50 M) dan karena itu tidak patut dipertimbangkan oleh seorang ahli sejarah. Karena itu dalam penelitiannya mengenai sejarah Asia kecil, Ramsay memberikan sedikit saja perhatian terhadap Perjanjian Baru. Namun penelitiannya memaksa dia untuk mempertimbangkan tulisantulisan Lukas. Ia mengamati keakuratan secara terinci dari catatancatatan historis penulis Lukas dan pelanpelan sikapnya terhadap Kisah Para Rasul mulai berubah. Ia terpaksa menyimpulkan bahwa, “Lukas adalah ahli sejarah kelas 1. Penulis ini seharusnya ditempatkan bersamasama dengan para ahli sejarah terbesar. Karena keakuratan Lukas sampai halhal yang paling terinci itulah, Ramsay akhirnya mengakui bahwa Kisah Para Rasul tak mungkin merupakan dokumen abad kedua, melainkan adalah laporan pertengahan abad pertama.

Banyak sarjana liberal kini terpaksa mempertimbangkan tanggaltanggal yang lebih awal untuk Perjanjian Baru. Kesimpulankesimpulan Dr. John A.T. Robisnson dalam bukunya yang baru Redating the New Testament ternyata amatlah radikal. Penilitiannya membawa dia kepada keyakinan bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis sebelum runtuhnya Yerusalem pada tahun 70 M.

Dimasa sekarang ini Kritik Bentuk mengatakan bahwa bahanbahan itu disampaikan dari mulut ke mulut sampai kemudian ditulis dalam bentuk kitabkitab Injil. Meskipun periodenya jauh lebih pendek dari pada yang sebelumnya dipercayai, mereka menyimpulkan bahwa kisakisah dalam keempat kitab Injil mengambil bentuk sastra rakyat (legendalegendalegenda, ceritacerita, mitosmitos, dan perumpamaan perumpamaan).

Salah satu dari kritik
kritik utama terhadap gagasan Kritik Bentuk mengenai perkembangan tradisi lisan ialah bahwa periode tradisi lisan itu (seperti yang didefinisikan oleh para kritikus) tidak cukup panjang untuk memungkinkan terjadinya perubahanperubahan dalam tradisi seperti yang telah dilontarkan oleh para kritikus tersebut. Berbicara nengenai singkatnya unsur waktu yang terlibat dalam penyusunan Perjanjian Baru, Simon Kistemaker, profesor Alkitab pada Dort College, menulis, “Biasanya, Pengumpulan kisahkisah rakyat diantara masyarakat berbudaya primitif berlangsung dalam banyak generasi. Ini merupakan pross bertahap yang berlangsung selama berabadabad. Tetapi sesuai denga pemikiran kritik bentuk, kita harus menyimpulkan bahwa kisahkisah Injil dihasilkan dan dikumpulkan dalam waktu sedikit lebih dari satu generasi. Berdasarkan pemikiran dari pendekatan kritik bentuk, penyusunan masingmasing kitab Injil harus dipahami sebagai suatu proyek yang terjadi sebagai akibat percepatan yang dipaksakan. kritik Bentuk tidak menangani tradisi dari katakata Isa secermat yang seharusnya mereka lakukan. Suatu pemeriksaan yang teliti terhadap 1 Korintus 7 :10, 12, 25 memperlihatkan pelestarian yang dilakukan secara hatihati serta adanya suatu tradisi tulen dalam mencatat katakata ini. Dalam agama Yahudi terdapat kebiasaan antarasiswanya untuk menghafalkan ajaran seorang rabi. Seorang murid yang baik itu bagaikan “sebuah waduk air yang dindingdindingnya dibuat dari plester sehingga tak mungkin kehilangan satu tetes air pun yang termuat didalamnya” (Mishna, Aboth, ii, 8). Kalau kita mengandalkan teori C. F. Burney (dalam The Poetry of Our Lord, 1925), kita dapat menyimpulkan bahwa , banyak ajaran Tuhan mengambil bentuk puisi Aram, sehingga mudah dihafal.

Paul L. Meier, profesor dalam bidang sejarah purba pada Universitas Michigan Barat, menulis, “Argumen bahwa agama Kristen melahirkan mitos Paskahnya pada suatu periode waktu yang panjang, atau bahwa sumbersumbernya ditulis banyak tahun setelah peristiwa tersebut sama sekali tidak berdasarkan fakta. Sambil menganalisa Kritik Bentuk, Albright menulis, “Hanya para sarjana modern yang meiliki metode dan perspektif sejarah dapat menjalin jaringan spekulasi begitu rupa seperti yang digunakan oleh kritikkritik bentuk untuk menyelubungi tradisi Injil.” Kesimpulan Albright sendiri ialah bahwa “suatu periode antara 20 sampai 50 tahun itu terlalu sempit untuk memungkinkan terjadinya perubahan berarti terhadap isinya yang mendasar dan bahkan terhadap perkataanperkataan spesifik dari ungkapanungkapan Isa.

Seringkali ketika saya sedang berbicara dengan orang lain mengenai Alkitab, mereka menjawab dengan cemoohan bahwa kita tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan Alkitab karena Alkitab ditulis 2.000 tahun yang lalu. Katanya Alkitab itu penuh dengan kesalahan dan kesenjangan.
Saya menjawab bahwa saya yakin saya dapat mempercayai Alkitab. Lalu saya menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi pada suatu kuliah di kelas sejarah. Saya membuat pernyataan bahwa saya yakin akan lebih banyak bukti untuk mempercayai Perjanjian Baru dari pada hampir 10 sastra klasik manapun yang dikumpulkan bersama.

Profesor dari kelas itu duduk di sudut sambil terkekeh seolaholah berkata, “Oh, jangan membadut.” Saya berkata, “Mengapa anda terkekeh?” Ia berkata, “Atas keberanian anda untuk membuat pernyataan di dalam kelas sejarah bahwa Perjanjian Baru itu bisa dipercaya. Itu konyol.”

Saya menghargai orang yang membuat pernyataan demikian karena saya pun selalu ingin melontarkan pertanyaan yang berikut. (Saya tak pernah mendapatkan jawaban yang positif). Saya berkata, “Tolong anda katakan, sebagai seorang ahli sejarah, pengujianpengujian apa yang anda terapkan pada karya sejarah yang manapun untuk menetukan apakah karya itu akurat atau patut dipercaya?” Hal yang mengejutkan ialah bahwa ternyata dia tak punya pengujian apa pun.

Saya meneruskan, “Saya mempunyai pengujianpengujian tertentu.”Saya yakin bahwa reliabilitas historis Alkitab seharusnya diuji oleh ukuran yang sama seperti yang digunakan kepada semua dokumen sejarah. Ahli sejarah C. Sanders mendaftarkan serta menjelaskan tiga prinsip dasar dari pengujianpengujian terhadap penulisan sejarah (historiografi), yaitu pengujian bibliografi, pengujian bukti internal (dalam) dan pengujian bukti eksternal (luar).

PENGUJIAN BIBLIOGRAFI

Pengujian bibliografi adalah pengujian tentang penyampain teks yang menyebabkan dokumendokumen tersebut sampai di tangan kita. Dengan kata lain, tampa adanya dokumendokumen asli, seberapa jauhkah kita bisa mempercayai salinansalinan yang kita miliki sehubungan dengan jumlah manuskrip serta waktu yang berlangsung antara salinan yang asli dengan salinan yang ada?

Kita dapat menghargai kekayaan luar biasa akan kewibawaan manuskrip dari Perjanjian Baru dibandingkan dengan bahanbahan teks dari sumbersumber kuno yang penting lainnya.

Sejarah mengenai Thucydides (460400 seb.M.) kita peroleh hanya dari delapan manuskrip yang berasal dari sekitar tahun 900 M., hampir 1.300 tahun setelah ia menulis naskah itu. Manuskrip dari sejarah Heroditus pun berasal dari masa belakangan serta sdikit jumlahnya. Namun demikian, seperti yang disimpulkan F.F. Bruce, “Tak ada sarjana klasik yang akan mendengarkan argumen yang menyatakan bahwa keaslian Herodotus ataupun Thucydides itu diragukan karena manuskripmanuskrip yang tertua dari karyakarya mereka yang kita miliki masa kini berasal dari 1.300 tahun sejak karyakarya asli mereka.

Aristoteles menulis puisipuisinya sekitar tahun 343 seb.M. Namun demikian salinan tertua yang kita miliki berasal dari tahun 1.100 M. Terdapat 1.400 tahun jarak di antaranya, dan hanya lima manuskrip yang tinggal.

Caesar menulis sejarahnya mengenai perangperang Galia diantara tahun 58 dan 59 seb.M., dan kewibawaan manuskrip didasarkan pada sembilan atau 10 salinan yang ditulis 1.000 tahun setelah kematiannya.

Mengenai kewibawaan naskah dari Perjanjian Baru, jumlah bahannya ternyata amat luar biasa dibandingkan yang lainnya. Setelah penemuanpenemuan naskah papirus tua yang menjembatani jurang antara waktu Almasih hidup di dunia dan abad kedua, muncul bertumpuktumpuk manuskrip lainnya. Kini terdapat lebih dari 20.000 salinan naskah Perjanjian Baru. Iliad memiliki 643 manuskrip dan merupakan naskah berwenang kedua setelah Perjanjian Baru

Sir Frederic Kenyon, bekas direktur dan ahli perpustakaan utama pada Museum Inggris dan yang tak tersaingi kewenangannya dalam mengeluarkan pernyataan mengenai manuskrip, menyimpulkan, “Dengan demikian jarak waktu antara tanggal penulis asli dengan buktibukti tertua yang ada menjadi begitu kecil sehingga malah bisa diabaikan, dan dasar terakhir bagi keraguan manapun bahwa Alkitab telah sampai ke tangan kita tidak seperti yang tertulis sekarang, kini kita singkirkan. Baik keaslian maupun integritas keseluruhan dari kitabkitab Perjanjian Baru akhirnya dapat dianggap terbukti.

Ahli bahasa Yunani Perjanjian Baru J. Harold Greenlee menambahkan,”Karena para sarjana pada umumnya menyatakan bahwa tulisantulisan klasik kuno itu dapat dipercaya, kendatipun manuskripmanuskrip tertuanya ditulis begitu lama semenjak tulisantulisan yang asli dan jumlah manuskripmanuskrip yang ada dalam banyak hal begitu sedikit, maka jelas pulalah bahwa teks Perjanjian Baru pun dapat dijamin bisa dipercayai.”

PENGUJIAN BUKTI INTERNAL

Pengujian bibliografi telah membuktikan bahwa hanya teks yang kita miliki itulah yang asli ditulis. Kita masih harus membuktikan apakah catatan tertulis tersebut patut dipercaya dan seberapa jauh kita bisa mempercayainya. Itu masalah kritik internal, yang merupakan pengujian kedua mengenai historisitas seperti yang didaftar oleh C. Sanders.

Pada titik ini seorang kritikus sastra masih mengikuti perkataan Aristoteles, “Keuntungan dari keraguan harus diberikan kepada dokumen itu sendiri, dan tak boleh diambil oleh si kritikus itu sendiri.” Dengan kata lain, seperti yang diringkaskan oleh John W. Montgomery, “Kita harus mendengarkan pernyataanpernyataan dari dokumen yang dianalisa itu, dan tidak menganggap bahwa ada apaapa yang palsu atau keliru kecuali penulis itu sendiri membatalkan tulisannya dengan memuat kontradiksikontradiksi ataupun kekeliruankekeliruan tentang faktafakta yang sudah diketahui oleh orang lain.”

Dr. Louis Gottschalk, bekas profesor sejarah pada Universitas Chicago, menguraikan metode sejarahnya dalam suatu buku pedoman yang dipergunakan oleh banyak orang untuk melakukan penelitian sejarah. Gottschalk menunjukan bahwa kemampuan penulis ataupun saksi untuk menyatakan kebenaran akan menolong ahli sejarah dalam menentukan apakah tulisan itu bisa dipercaya atau tidak, “bahkan kalaupun bahan itu termuat dalam suatu dokumen yang diperoleh dengan paksa ataupun penipuan, atau didasarkan pada buktibukti kabar angin, ataupun diberikan oleh seorang saksi yang berminat.”

“Kemampuan untuk menyampaikan kebenaran” ini erat hubungannya dengan kedekatan saksi baik secara geografis maupun kronologis kepada peristiwaperistiwa yang dicatat. Kisahkisah Perjanjian Baru mengenai kehidupan dan pengajaran Isa dicatat oleh orangorang yang merupakan para saksi matanya sendiri ataupun mereka yang menceritakan laporanlaporan yang telah mereka dengar dari para saksi mata peristiwaperistiwa tersebut ataupun ajaranajaran dari Almasih.

Lukas 1:13 —- “Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwaperistiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu.”

2 Petrus 1:16 —- “Sebab kami tidak mengikuti dongengdongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Isa Almasih sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya.”

1 Yohanes 1:3 —- “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Isa Almasih.”

Yohanes 19:35 —- “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.”

Lukas 3:1 —- “Dalam tahun kelimabelas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene… .”

Kedekatan dari kisahkisah yang dicatat ini merupakan sarana yang amat efektif dalam memastikan ketepatan dari apa yang diingat oleh seorang saksi. Namun seorang ahli sejarah juga harus menghadapi saksi mata yang secara sadar ataupun tidak sadar mengisahkan kisahkisah palsu kendatipun ia dulu dekat dengan peristiwa itu dan mampu menyampaikan kebenarannya.

Bila kisahkisah Perjanjian Baru mengenai Almasih beredar sesudah keangkatanNya ke sorga, masih ada orangorang yang hidup yang sedang hidup sebelumnya pada Almasih berada di dunia. Orangorang ini tentunya dapat memastikan ataupun membantah ketepatan kisakisah itu. Dalam membela pemberitaan injil mereka, para rasul (bahkan ketika mereka diperhadapkan dengan lawanlawannya yang paling keras sekalipun) telah mengimbau kepada pengetahuan yang umum mengenai Isa. Mereka tidak saja mengatakan, “Kami melihat ini” atau “Kami telah mendengar bahwa… ,”melainkan mereka juga berkata, tepat di hadapan para pengritik mereka yang keras, “Kalian sudah tahu pula mengenai halhal ini…. Kalian sudah melihatnya. Kalian sendiri sudah mengetahuinya.” Seseorang harus berhatihati bila dia berkata kepada lawanya, “Engkaupun mengetahui hal ini,” karena bila dia keliru mengenai rinciannya, maka semua yang dikatakannya akan ditolak mentahmentah.

Kisah Para Rasul 2:22 —- “Hai orangorang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Isa dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatankekuatan dan mujizatmujizat dan tandatanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan dia di tengahtengah kamu, seperti yang kamu tahu… .”

Kisah Para Rasul 26:2428 —- “Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’ Tetapi Paulus menjawab: ‘Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara tidak terjadi di tempat yang terpencil.’’’

Mengenai nilai sumber pertama dari catatancatatan Perjanjian Baru, F.F. Bruce, Profesor Rylands mengenai kritik dan Eksegese Alkitab di Universitas Manchester, berkata, “Dan bukan hanya para saksi mata yang bersifat ramah tamah yang harus diperhitungkan para pengkhotbah purba. Ada pula yang lainnya yang kurang simpatik. Yang juga tahu benar tentang faktafakta utama mengenai pelayanan dan kematian Isa. Para murid tak mendapat mengambil resiko dengan menyampaikan berita yang tidak tepat (apalagi memanipulasi faktafakta itu secara sengaja), yang akan segera ditelanjangi oleh orangorang yang dengan gembira akan melakukannya. Sebaliknya, salah satu dari halhal yang kuat dalam pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para rasul itu adalah himbauan mereka yang penuh keyakinan terhadap pengetahuan para pendengarnya. Mereka tidak saja berkata, ‘Kami adalah saksi dari perstiwaperistiwa ini,’ tetapi juga, ‘seperti yang kamu tahu’ (Kis 2:22). Seandainyaada kecenderungan untuk menyeleweng dari faktafakta dalam segi bahan yang manapun yang dikemukakan, kemungkinan akan kehadiran saksisaksi yang menaruh kebencian terhadapnya diantara para pendengarnaya akan berlaku sebagai alat untuk mengoreksi bahannya lebih lanjut.”

Lawrence J. McGinley, dosen dari Saint Peter’s College, memberikan komentarnya mengenai nilai para saksi yang menaruh kebencian sehubungan dengan peristiwaperistiwa yang tercatat itu, “Pertamatama, para saksi mata terhadap peristiwaperistiwa yang dibicarakan itu masih hidup ketika tradisi itu telah sepenuhnya terbentuk. Diantara para saksi mata itu terdapat musuhmusuh besar terhadap gerakan keagamaan yang baru itu. Namun demikian tradisi itu mengatakan bahwa berita yang sedang disampaikan adalah serangkaian perbuatan yang terkenal luas dan doktridoktrin yang diajarkan.”

 

 

TIDAK ADAKAH
JALAN LAIN ?

Baru-baru ini di Universitas Texas, seorang mahasiswa pasca sarjana mendekati saya dan bertanya, “Mengapa Isa itu satu-satunya jalan untuk berhubungan dengan Allah?” Saya telah menunjukan bahwa Isa menyatakan diriNya sebagai satu-satunya jalan kepada Allah, bahwa kesaksian Alkitab dan para rasul itu dapat dipercaya penuh, dan bahwa ada cukup banyak bukti hingga kita bisa percaya kepada Isa sebagai Juruselamat dan Tuhan.

Namun ia mempunyai pertanyaan lain, “Mengapa Isa? Tidak adakah jalan lain untuk berhubungan dengan Allah? Tak mungkiankah seorang dapat menjalankan hidup yang baik-baik saja agar dia bisa diterima Allah? Kalau Allah begitu mengasihi manusia, tidakkah Ia akan menerima semua orang sebagaimana adanya?”

Seorang pengusaha berkata kepada saya, “Rupa-rupanya anda telah membuktikan bahwa Isa Almasih adalah anak Allah. Selain Isa, masih adakah jalan-jalan lain untuk berhubungan dengan Allah?”

Komentar-komentar di atas merupakan contoh-contoh dari pertanyaan-pertanyaan banyak orang di masakini tentang apa sebabnya seorang harus percaya kepada Isa sebagai Juruselamat dan Tuhan supaya bisa memiliki hubungan dengan Allah dan mengalami pengampunan dosa. Saya menjawab mahasiswa tersebut dengan mengatakan bahwa banyak orang tidak mengerti tabiat Allah. Biasanya pertanyaan begini, “Bagaimana mungkin Allah begitu mengasihi manusia dapat membiarkan seorang berdosa masuk neraka?”

Saya bertanya balik, “Bagaimana mungkin Allah yang kudus, adil dan benar dapat membiarkan seorang berdosa masuk ke dalam kehadiranNya?”

Kesalahpahaman tentang tabiat Allah yang dasar telah menimbulkan begitu banyak masalah theologis dan etis. Kebanyakan orang mengerti bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi manusia. Cuma itu. Masalahnya ialah Bahwa Allah bukan saja Allah yang mengasihi manusia. Ia pun Allah yang benar, adil dan kudus.

Pada dasarnya kita mengenal Allah melalui sifat-sifatNya. Tetapi sifat-sifat itu bukanlah bagian-bagian dari Allah. Dulu saya mengira bahwa bila saya mengumpulkan semua sifat Allah, yaitu kekudusan, kasih, keadilan, kebenaran, dan menjumlahkannya, maka hasil akhirnya akan sama dengan Allah. Tetapi, hal ini tidak benar. Suatu sifat bukanlah sesuatu yang menjadi sebagian dari Allah, melainkan sesuatu yang benar mengenai Allah. Misalnya, bila kita mengatakan bahwa Allah itu kasih, kita tidak bermaksud mengatakan bahwa suatu bagian dari Allah adalah kasih, melainkan bahwa kasih itu merupakan sesuatu yang memang benar tentang Allah. Bila Allah mengasihi maka Dia semata-mata menjadi diriNya yang sebenarnya.

Inilah masalah yang berkembang sebagai akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Allah dalam masa kekekalan yang telah lewat memutuskan untuk menciptakan laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya saya percaya bahwa Alkitab menunjukan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan supaya Dia bisa memberi sebagian dari kasih dan kemuliaanNya kepada mereka. Tetapi ketika Adam dan Hawa memberontak dan mulai mengikuti jalanya sendiri, dosa masuk ke dalam umat manusia. Pada titik ini manusia sudah menjadi berdosa dan terpisah dari Allah. Inilah “kesulitan” yang dihadapi Allah. Ia sudah menciptakan manusia untuk memberi sebagian dari kemuliaanNya kepada mereka. Namun mereka menolak nasihat dan perintahNya dan memilih melakukan dosa. Karena itu Allah menghampiri mereka dengan kasihNya untuk menyelamatkan mereka. Tetapi dia bukan saja Allah yang mengasihi, melainkan juga Allah yang kudus, adil dan benar, maka tabiatNya itu sendiri akan menghancurkan orang berdosa manapun. Alkitab berkata, “Sebab upah dosa ialah maut” (Rm 6:23). Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa menghadapi masalah.

Dalam Trinitas Allah, yaitu Allah Bapa, Anak Allah dan Roh Kudus, suatu keputusan diambil. Isa, Anak Allah, akan mengenakan kepada diriNya tubuh manusia. Ia akan tetap Allah, tetapi akan menjelma menjadi manusia juga. Inilah yang digambarkan dalam Yohanes 1 ketika dikatakan bahwa firman itu menjadi daging dan tinggal di antara kita. Dan juga dalam Filipus 2 dimana dikatakan bahwa Isa mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang manusia.

Isa adalah Allah dan manusia. Dia benar-benar manusia, sama seperti seorang manusia lain yang tak pernah adalah Allah. Begitu pula, ia benar-benar Allah, sama seperti Allah yang tak pernah menjadi manusia. Berdasar pilihanNya sendiri, Dia menjalani hidupNya sebagai seorang manusia tampa melakukan dosa. Dia sepenuhnya taat kepada BapaNya. Pernyataan Alkitab bahwa “ upah dosa ialah maut” tidak berlaku bagi Dia. Karena Dia bukan saja manusia yang terbatas, melainkan juga Allah yang tidak terbatas, Dia mempunyai kemampuan yang tak terbatas untuk memikul semua dosa dunia ini. Ketika Dia disalibkan hampir 2000 tahu lalu, maka Allah Bapa yang kudus, adil dan benar, menumpahkan kemarahanNya pada AnakNya sendiri. Dan ketika Isa berkata, “Sudah selesai,” (Yoh 19:30) maka syarat-syarat tabiat Allah yang adil dan benar itu telah dipenuhi. Kita dapat mengatakan bahwa pada titik itu Allah “dibebaskan” untuk menangani kaum manusia dengan kasih tampa harus menghancurkan seorang berdosa, karena melalui kematian Isa pada salib, maka syarat-syarat tabiat Allah yang benar itu telah dipenuhi.

Sering saya bertanya orang lain, “Untuk siapakah Isa mati?” Jawabnya biasanya adalah, “Untuk saya” atau “Untuk dunia.” Dan saya pun berkata, “Ya, benar, tetapi untuk siapa lagi?” Dan biasanya mereka berkata, “Saya tidak tahu.” Sahut saya, “Untuk Allah Bapa.” Begini, Mesias tidak saja mati untuk kita, melainkan juga untuk BapaNya. Hal ini digambarkan dalam Roma 3 yang berbicara tentang pendamaian. Pendamaian pada dasarnya berarti pemenuhan akan suatu syarat. Dan bila Isa mati disalib, Ia tidak saja mati untuk kita, melainkan juga untuk memenuhi syarat-syarat yang kudus dan adil dari tabiat dasar Allah.

Suatu peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu di California menjelaskan apa yang dilakukan Isa di kayu salib guna memecahkan masalah Allah dalam menghadapi dosa umat manusia. Seorang wanita muda ditangkap karena melanggar batas kecepatan kenderaan. Ia ditilang dan dihadapkan ke muka hakim. Hakim itu membacakan tuntutan dan berkata, “Bersalah atau tidak bersalah?” Wanita itu mengaku, “Bersalah.” Hakim itu mengetuk palunya dan mendendanya $100 atau dipenjarakan selama 10 hari.

Kemudian sesuatu yang mengejutkan terjadi. Hakim itu bangkit, membuka jubahnya, turun dari kursinya menuju tertuduh, mengeluarkan dompetnya dan membayar denda itu.

Apa keterangan dari semua ini? Hakim itu ternyata ayah dari si wanita tersebut. Ia mengasihi anaknya, namun ia seorang hakim yang adil. Anaknya telah melanggar hukum dan ia tak bisa berkata begitu saja kepadanya, “Karena saya begitu mengasihi kamu, saya mengampunimu. Kamu boleh Pergi.” Kalau ia melakukan hal itu, tentulah ia bukanlah seorang hakim yang adil. Dengan demikian ia tidak melaksanakan hukum dengan adil seperti seharusnya. Tetapi dia begitu mengasihi anaknya sehingga dia bersedia membuka jubah hakimnya dan turun ke muka serta mewakili anaknya sebagai ayahnya dan membayar denda itu. Ilustrasi ini menggambarkan sampai batas tertentu apa yang Allah lakukan bagi kita melalui Isa Almasih. Kita telah berdosa. Alkitab berkata, “Upah dosa ialah maut.” Betapapun besar kasihNya pada kita, Allah harus mengetuk palu dan berkata, “Mati” sebagai hukuman kita, karena Dia adalah Allah yang benar dan adil. Namun demikian, sebagai Allah yang pengasih, Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia bersedia meninggalkan takhtaNya dalam rupa manusia Isa Almasih dan membayar harga itu bagi kita, yaitu kematian Almasih di salib.

Di titik ini banyak orang bertanya, “Mengapa Allah tidak bisa mengampuni saja?” Seorang pemimpin perusahaan besar berkata, “Pegawai-pegawai saya sering melakukan suatu pelangggaran atau memecahkan suatu barang, dan saya memaafkan mereka begitu saja.” Kemudian ia menambahkan, “Apakah anda bermaksud mengatakan pada saya bahwa ada sesuatu yang dapat saya lakukan yang Allah tak dapat lakukan?”

Orang sering tidak menyadari bahwa apabila ada pengampunan, ada harga yang harus dibayar. Misalnya, katakanlah anak perempuan saya memecahkan lampu di rumah saya. Saya seorang ayah yang pengasih dan penuh pengampunan. Karena itu saya memangku dan memeluknya serta berkata kepadanya, “Jangan menangis, sayang. Ayah mengasihimu dan mengampunimu.”

Biasanya orang kepada siapa saya ceritakan kisah itu berkata, “Nah, itulah yang harus saya lakukan,”

Kemudian saya bertanya, “Tetapi siapa yang harus membayar harga lampu itu?” Kenyataannya ialah saya. Dalam pengampunan selalu ada harga yang harus dibayar. Misalnya saja seseorang menghina anda dihadapan orang lain dan kemudian anda dengan penuh kasih berkata, “Saya mengampunimu.” Siapa yang menanggung harga penghinaan itu? Anda sendiri.

Inilah yang telah Allah lakukan. Allah telah berkata, “Aku mengampunimu.” Tetapi Dia membayar harga itu sendiri melalui salib.