bagian 3_bab16_bagian 2

Bagian 3
Warisan Yesus dan Muhammad Dalam Perkataan dan Perbuatan

Bab 16 Bagian 2
Perlakukan terhadap Wanita 2

Ajaran Yesus pada perempuan dalam perkawinan Tidak seperti Muhammad, Yesus mengajarkan bahwa perceraian harus dilarang.

Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya : ‘Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?’ Tetapi jawab-Nya kepada mereka : ‘Apa perintah Musa kepada kamu?’ Jawab mereka: ‘Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.’ Lalu kata Yesus kepada mereka : ‘Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.’ Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: ‘Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.’

Markus 10:2-12

Yesus memberi nila rohani yang tinggi pada perkawinan. Didukung ajaran Perjanjian Lama, yang berkata Tuhan telah menetapkan yang ikatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, ikatan ini sangat akrab sehingga digambarkan dua orang menjadi ‘satu daging’ (Kejadian 2:24).

Yesus tidak memberikan instruksi lebih lanjut mengenai perkawinan, tetapi pengikut-Nya telah membuat pernyataan lebih lanjut tentang perkawinan dan perceraian yang dicatat dalam Perjanjian Baru.

Sekarang kita lihat peran perkawinan dalam kehidupan pribadi Yesus dan Muhammad.

ISTRI-ISTRI YANG TERKENAL DARI MUHAMMAD

Sebagaimana sikapnya berubah terhadap kafir setelah mereka hijrah ke Madinah, Muhammad juga berubah sikap terhadap istri-istrinya; mari lihat istri yang pertama dan dua belas wanita lainnya yang dinikahi di Madinah.

Khadijah, istri pertama

Saat berusia dua puluh lima tahun, Muhammad menikahi istri pertamanya- Khadijah, yang telah berusia empat puluh tahun waktu itu. Khadijah digambarkan sebagai perempuan yang sangat mendukung moral di saat-saat ia menerima ayat-ayat dan perlawanan dari masyarakat Mekah. Muhammad tetap setia menikah satu istri saja selama dua puluh lima tahun hingga istrinya meninggal.

Aisyah, Pengantin anak

Setelah sekitar setahun setelah hijra ke Madinah, Muhammad memilih istri yang mengejutkan bahkan untuk standar masyarakat Arab : ia adalah seorang gadis kecil berusia enam tahun, puteri Abu Bakr, salah seorang pengikutnya yang paling setia.

Nabi menulis (kontrak perkawinan) dengan Aisyah ketika berusia enam tahun dan berhubungan badan dengan dia sejak dia sembilan tahun. Aisyah tinggal dengan dia selama sembilan tahun (yaitu sampai kematian Muhammad) 13.

Aisyah tidak hanya cerita membingungkan tentang mempelai anak, tetapi menjadi tokoh kunci dalam sejarah Islam. Ia menarasikan ribuan hadis yang menjelaskan kehidupan dan ajaran Muhammad dan telah terlibat dalam suatu ancaman serius bagi kredibilitas Islam.

Ketika Muhammad memimpin tentara dalam peperangan, ia selalu memilih salah satu istri untuk pergi dengan mereka. pada 5H ia membawa Aisyah, dalam penyerangan terhadap Bani Mustaliq, suku Yahudi, saat itu Aisyah berusia sekitar sebelas tahun.

Berikut ini cerita menurut versi Aisyah. Dia bepergian dengan unta dalam ruangan khusus tertutup. Malam hari rombongan berhenti dan Aisyah pergi meninggalkan rombongan untuk buang air di gurun. Saat kembali ke rombongan, ia menyadari ia telah kehilangan kalung, sehingga untuk melihat kembali untuk mencarinya. Saat ia kembali rombongan telah pergi, , karena mereka berpikir bahwa ia ada di ruangan yang sama di bagian belakang unta. Aisyah menunggu di padang gurun, sampai seorang Muslim tentara datang dan mengenalinya. Ia membawanya kembali ke Madinah pagi harinya dengan untanya.14.

Beberapa orang menuduh Aisyah memiliki hubungan gelap dengan prajurit muda Muslim. Muhammad tidak membuktikan Aisyah tidak melakukan itu. jadi orang mulai berkata : ‘Bagaimana mungkin seorang nabi tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya?’ Situasi ini berlangsung lebih dari dua puluh hari, akhirnya Muhammad menerima wahyu dari Jibril yang menyatakan Aisyah tidak bersalah dan mengutuk orang-orang yang telah menuduhnya (Surah 42:11-18 ).

Reaksi dari kejadian ini tidak berhenti di sini. Ali bin Abu Thalib, salah satu sepupu Muhammad yang tumbuh besar bersama, yang mencoba untuk meyakinkan dia untuk bercerai dengan Aisyah. Aisyah mendengar ini memusuhi Ali selama sisa kehidupannya.

Setelah kematian kalifah Islam ke tiga (Usman bin Affan), Ali bin Abu Thalib terpilih menjadi kalifah Islam selanjutnya, tetapi Aisyah menolak mengakuinya sebagai pemimpin dan mengumpulkan tentara berbaris melawannya. Dalam ‘Pertempuran yang Unta’ sepuluh ribu Muslim terbunuh. Ali bin Abu Thalib dibunuh, anaknya menjadi penerusnya sampai ia meninggal karena racun oleh beberapa Muslim.

Jadi Aisyah pengantin kecil, adalah tokoh penting dalam sejarah Islam. Mari perhatikan istri-istri lain yang menarik dari Muhammad.

Zainab, istri anak angkat Muhammad

Satu hari Muhammad pergi ke rumah Zaid bin Haritsah, anak angkatnya. Tiba di sana, melihat bahwa anak angkatnya tidak di rumah dan istrinya, Zainab, di rumah sendirian. Saat wanita itu tiba di pintu, mata Muhammad bertemu mata Zainab, Muhammad berkata: ‘Segala puji bagi Dia yang merubah hati dan pandangan ‘Muhammad merasa getaran cinta pada wanita itu, dan Zainab menyadari bahwa Muhammad memiliki perasaan padanya, Ketika suaminya kembali, dia mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi. Situasi ini menimbulkan dua masalah : pertama, Zainab telah menikah dan kemudian suaminya adalah anak angkat dari Muhammad. Hukum Islam melarang seorang laki-laki untuk menikah istri-istri anaknya.

Bagaimanapun sejak saat itu Zainab tidak memperlakukan suaminya dengan baik yang menunjukkan bahwa ia tidak lagi tertarik kepadanya. Setiap kali Zainab melakukan itu, Zaid pergi menemui Muhammad untuk berkeluh kesah tentang istrinya, berbicara tentang perlakuan kasar yang dia terima dari Zainab. Dan setiap kali Muhammad SAW berkata : ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah’. (Sura 33:37).

Setelah berlangsung beberapa lama, Zaid akhirnya menyerah mempertahankan perkawinannya dan menceraikan Zainab.

Sejarah Islam yang mengatakan bahwa Muhammad memutuskan untuk meminta Zainab untuk menikah, meskipun ini melanggar hukum Islam yang menyatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh menikahi istri-istri anaknya. Anehnya, Muhammad mengirim Zaid mengantar proposal perkawinan untuk dia, yang datang ke rumah mantan istrinya, dia menemukan Zainab mengolah tepung untuk membuat roti. Kemudian, Zaid berkata : ‘Ketika saya melihatnya, saya tidak mampu melihat wajahya, karena masih mencintainya ‘ Akan tetapi, ia harus menyampaikan pesan Muhammad. Mantan istrinya menjawab : ‘Allah telah memberitahu saya untuk menikahinya’ dan ia menambahkan bahwa ia akan pergi ke masjid untuk berdoa. Kemudian Zaid kembali pada Muhammad dan melaporkan apa yang telah terjadi 15.

Sementara Zainab masih di dalam mesjid, Muhammad menyampaikan wahyu yang baru diterima dari malaikat Jibril

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya.

Surah 33:37-38

Wahyu ini khusus mengatakan bahwa Allah telah memerintahkan Zainab untuk menikah dengan Muhammad. Ayat juga mengetahui bahwa perkawinan ini akan membantu Muslim lain, dengan cara menunjukkan bahwa adalah halal bagi manusia untuk menikahi mantan istri dari anak yang diadopsi, asalkan perkawinan telah dibubarkan sepenuhnya.

Muhammad juga menerima wahyu yang meniadakan adopsi : ‘Allah sekali-kali…., dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).’ (Sura 33:4). Akibatnya, Zaid tidak lagi dianggap sebagai anak Muhammad, yang pada akhirnya dapat mengesahkan perkawinan Muhammad SAW dengan Zainab.

Pada akhirnya, Zainab sepakat untuk menikahi Muhammad dan ia menjadi isteri kelima (5 H.). Mantan suaminya meninggal tiga tahun kemudian dalam berperang Jihad.

Zainab cukup senang apa yang terjadi pada dirinya, Hadis mencatat :

‘Zainab sering membanggakan diri dihadapan istri-istri Nabi dengan berkata:’

kamu menikah oleh karena keluargamu, sementara saya menikah (dengan Nabi)

oleh Allah dari langit ke tujuh’ ‘16.

Mari lihat satu lagi contoh spesifik bagaimana Muhammad mendapat salah seorang istri, yang ini adalah seorang tawanan wanita perang.

Safiya, Yahudi yang cantik

Sekitar 7 H, Muhammad telah mengusir sebagian besar Orang-orang Yahudi dari Arab dan hanya tinggal satu desa saja, Khaybar. Muhammad dan tentara mengepung desa ini dimalam hari dan menyerang saat penduduk tidur, membunuh kebanyakan laki-laki, pemuda dan orang dewasa dan mengambil perempuan dan anak-anak sebagai tahanan 17.

Muhammad memperhatikan salah satu tahanan, seorang gadis cantik, Safiya namanya. Ayahnya adalah kepala suku Khaybar dan dia masih seorang pengantin baru. Hari itu ayahnya dan suaminya telah dibunuh oleh orang Islam. Muhammad bertanya pada orangnya : ‘siapa pemiilik tahanan wanita ini? ‘Mereka berkata: ’ia kepunyaan Qais bin Thabet Al-Shammas.‘

Muhammad memberikan orang ini dua sepupu Safiya dan mengambil Safiya untuk dirinya. Gadis ini dibawa ke Madinah oleh Muhammad, dan  selama perjalanan setelah siklus haidnya telah selesai, Muhammad menikahinya. 18

Malam di mana Muhammad berhubungan dengan Safiya, salah seorang pengikutnya tetap berdiri semalaman, berjalan di sekitar tenda dengan pedang di tangan. Pagi harinya ketika Muhammad bertanya mengapa dia melakukannya, pria itu menjawab : ‘Saya kawatir keselamatan anda karena perempuan ini. Tentara Islam membunuh ayahnya, suami dan kaumnya, dan sampai saat ini ia masih kafir, sehingga saya mengkhawatirkan keselamatan Anda karenanya ‘19.

ISTRI-ISTRI LAIN MUHAMMAD SAW

Setiap istri Muhammad memiliki kisahnya masing-masing, saya telah menceritakan beberapa yang paling penting dan menarik. Berikut Daftar Lengkap istri-istrinya 20.

  1. Khadijah Khu-Walid bin (dia menikah dengan Muhammad di Mekkah selama duapuluh lima tahun hingga dia meninggal).
  2. Aisyah bin Abu Bakr (dia muda, pencemburu dan menyebabkan masalah, tetapi salah satu istri favorit., putri Teman dekat Muhammad dan pengganti pertama otoritas Islam).
  3. Hafza binti Ibnu Umar Al-Khattab (puteri salah satu pejuang paling ganas Muhammad).
  4. Umm-Habib Rumleh binti Abi Sufyan (adalah putri kepala suku Qurish dari Mekkah yang mualaf kepada agama Islam tepat sebelum Muhammad menaklukkan kota).
  5. Zainab binti Jahsy (suami pertamanya adalah anak angkat Muhammad, saat keduanya bercerai, ia menikah dengan Muhammad).
  6. Umm Salama binti Abi Ummayah Hende.
  7. Maymuna binti el-Harith al-Hilleliah.
  8. Sauda binti Zema’a el Amawiya.
  9. Juwayriya binti al-Harith (gadis Yahudi yang telah diambil sebagai tawanan perang pada penyerangan Bani Mustaliq, bertepatan waktu yang sama Aisyah dituduh berzina).
  10. Safiya binti Ho-yeah (gadis Yahudi tawanan perang selama penyerangan di Khaybar).
  11. Ra-Hana binti Shumahon.
  12. Maria binti Shumahon.
  13. Umm Sharik.

Seperti yang anda ingat, Quran memperbolehkan untuk Muslim hanya dua, tiga atau empat istri, tetapi Muhammad adalah pengecualian. Ia melaporkan bahwa dia menerima wahyu yang menentukan jumlah perempuan yang diizinkan untuknya menikah :

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.

Sura 33:50

Pada kematiannya, Muhammad meninggalkan sembilan janda, yang dilarang untuk menikah kembali setelah kematiannya (Surah 33:6, 52).

PEREMPUAN LAIN MUHAMMAD

Selain dari istri-istrinya, Muhammad memiliki kelompok perempuan lain yang siap melayaninya. Mereka para budak yang telah dibeli atau diperoleh sebagai tawanan perang. Semua budak, laki-laki dan perempuan, yang disebut dalam bahasa Arab milkelimen, budak laki-laki digunakan Muhammad memperhatikan kesejahteraannya, istrinya, rumah mereka dan binatang peliharaan mereka, dan mempersiapkan makanan juga membawa air yang digunakan untuk wudhu sebelum salat. Dalam sejarah Islam terdaftar nama empat puluh tiga budak laki-laki mereka21.

Para budak perempuan melakukan tugas yang sama, tetapi hukum Islam mengizinkan Muhammad untuk menggunakannya secara seksual tanpa kewajiban untuk menikah. Anak-anak yang lahir, tidak membawa nama Muhammad dan tidak mendapat warisan darinya. Anak itu akan menjadi hamba Muhammad dan bukan anak-anaknya, dan dia mempunyai hak untuk memiliki mereka untuk diri sendiri atau untuk menjualnya (hukum  dalam Islam membolehkan setiap Muslim untuk memiliki milkelimen). Dalam sejarah Islam terdaftar nama dua puluh tiga budak wanita ini. 22.

KESELURUHAN HUBUNGAN MUHAMMAD DENGAN ISTRI-ISTRINYA

Kehidupan sosial Muhammad selalu penuh dengan pergumulan : baik dengan istri-istrinya maupun di antara para istri. Sejarah Islam menunjukkan banyak rincian pertikaian mereka. Suatu waktu istri-istri Muhammad bersikeras menuntut uang dan ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Dalam kejengkelan, ia memisahkan diri dari mereka selama satu bulan (dua puluh sembilan hari). Lalu ia menwarkan pada setiap istrinya kesempatan untuk bercerai. Ia berkata pada Aisyah, pengantin kecilnya, ia perlu bertanya pada orang tuanya pada masalah ini. Pada akhirnya semua sepakat untuk tetap tinggal di rumahnya 23.

Untuk mengatur hubungan dengan istri-istrinya, Muhammad menugaskan seorang istri setiap hari untuk menghabiskan waktu dengan dia. Satu hari Aisyah membuat masalah dan dia ingin mengambil hari istri lain untuk bersama Muhammad, istri tersebut mengeluh tentang hal ini dan Muhammad mengancamnya bercerai. Karena ia sudah tua, ia mengalah ‘Jangan ceraikan saya, saya akan tinggal denganmu dan memberikan malam saya untuk Aisyah ‘

YESUS DAN PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MEMBANTUNYA

Tidak ada bukti dalam injil, maupun dalam sejarah Kristen, Yesus pernah menikah atau telah mempunyai istri. Yesus digambarkan mempunyai persahabatan yang sangat baik dengan dua saudara kandung, Maria dan Martha dan Ia makan di rumah mereka (Lukas 10, Yohanes 12).

Para penulis injil juga menyebutkan segelintir perempuan yang bepergian dengan dia dan murid-murid untuk membantu mereka.

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Lukas 8:1-3

Perempuan-perempuan itu adalah pengikut yang setia dan mereka bersama Yesus, sampai penyaliban-Nya

Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.

Matius 27:55-56

Ketika tubuh Yesus diangkat dari salib, dua dari perempuan ini mengikuti Yusuf dari Arimathea, melihat tubuh Yesus dalam kubur dan batu besar digulingkan untuk menutupi di depan pintu masuk (Matius 27:57-61). Mereka kemudian pergi untuk mempersiapkan rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus setelah sehari istirahat (Sabbath) lewat.

Para perempuan itu adalah orang pertama untuk melihat Yesus setelah kebangkitan-Nya.

‘Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: ‘Salam bagimu.’ Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.’

Matius 28:1, 9-10

Jadi kita dapat melihat bahwa beberapa perempuan mengikuti Yesus dan membantu dia, Yesus bahkan memberi mereka hak istimewa untuk melihat terlebih dahulu setelah kebangkitan. Tidak ada indikasi bahwa Yesus berhubungan seks dengan mereka, masyarakat Yahudi tentu akan mengutuk kelakuan seperti itu.

KESIMPULAN

Apa yang telah kita pelajari tentang sikap Yesus dan Muhammad terhadap perempuan?

Karakter perempuan

Muhammad menjelaskan perempuan dengan negatif. Yesus memperlakukan perempuan dengan cara yang sama dengan laki-laki.

Ajaran tentang perkawinan

Muhammad mengambarkan perempuan menjadi sasaran bagi pria di mana dia diperbolehkan untuk diceraikan di berbagai keadaan. Yesus berbicara perkawinan sebagai persatuan yang ditahbiskan oleh Allah, yang hanya bisa dirusak oleh pasangan yang tidak beriman.

Hubungan dengan perempuan

Muhammad SAW memiliki banyak istri, dan memiliki banyak tantangan bersamanya. Yesus tidak pernah menikah, tetapi ada sekelompok perempuan yang bepergian dengan Dia dan membantu Dia.

Sekali lagi kita melihat perbedaan dalam kepribadian dalam karakter Yesus dan Muhammad. Adalah sangat menarik untuk memperhatikan bagaimana perbedaan yang jelas ini saat keduanya harus menghadapi tantangan serupa. Bab berikutnya menjelaskan peristiwa paralel yang mengherankan dalam kehidupan mereka, dan bagaimana mereka bereaksi.

Bab 17

Kebetulan yang Menarik