Al-Najah–Penyelamatan dari Tuhan

KESULITAN MANUSIA

Allah Mencipta, Syetan Membinasa

Apakah Allah Merencanakan Dosa dan Kematian Adam?

Kegentingan Dosa Adam

Apakah Dosa Adam Hanyalah Satu Kelalaian?
Adam Dijerumuskan kepada ‘Tempat yang Serendah-rendahnya’

Pengaruh Dosa Adam Keatas Keturunannya
Mana Jalan Keluar?
Daya-usaha Adam Tidak Mencukupi
Pengampunan Saja Tidak Cukup

PENCIPTAAN SEMULA MANUSIA

Rencana Penyelamatan

Kecakapan-kecakapan Adam

Bagaimana Manusia Bisa Dicipta Semula?

Transaksi Kehidupan

Bantahan

Siapa Yang Bisa Menjadi Perantara?

Bantahan tentang Keturunan Adam

PENGAJARAN-PENGAJARAN DARI ALLAH

Ajaran-ajaran Allah Perkuatkan Ciptaan Baru Itu

Suatu Pelajaran dari Peraturan Pemakanan

Isa adalah Halal Allah Selamanya

Sunna Ibrahim

Suatu Pelajaran dari Berpuasa

Rahmat Sebenarnya

Suatu Pelajaran Dari Alam

Pilihan Yang Paling Jelas


 

AL-NAJAH –PENYELAMATAN DARI TUHAN

KESULITAN MANUSIA

Selama ini kita telah melihat berapa untaian bukti yang berlainan tentang Isa Al Masih dan personanya, dan menyimpulkan bahwa sesungguhnya dia adalah Firman Allah dan Roh Allah yang Kekal. Selanjutnya, kita telah melihat bahwa Firman Kekal yang dalam bentuk seorang manusia, telah mati di atas kayu salib di dunia ini sekitar 2000 tahun lepas. Dia kemudiannya dibangkitkan dari maut dan diangkat untuk berada di sisi Allah.

Bagaimanapun, kita masih mempunyai satu persoalan yang kritis: Mengapa Isa harus mati? Mengapa Firman Allah yang Kekal itu, yang merupakan Wangi Allah dan Nur Cahaya Allah, harus mati didalam orangnya sendiri? Banyak orang berpendapat apa yang dia lakukan adalah telalu heboh untuk dipahami. Apakah tujuan Allah dalam mengizinkan semua ini berlaku?

Sesungguhnya Allah mempunyai tujuan, dan untuk mengetahui tujuan-Nya itu, pertama sekali kita perlu melihat kesulitan umat manusia dan kedudukannya didepan Allah yang Maha Kuasa.

Allah Mencipta, Syetan Membinasa

Setiap orang yang beriman tidak akan menyangkal bahwa setiap sesuatu dicita oleh Allah dan karena itulah, Dia adallah Allah keatas semua ciptaan-Nya. Kuasa-Nya untuk mencipta itulah yang memisahkan-Nya dari dunia ciptaan dan ini merupakan ciri teristimewa-Nya. Dia adalah Tuhan kita karena Dia mencipta kita, dan mereka yang menyembah-Nya berbuat demikian karena Dia adalah Pencipta kita.

Syetan, musuh Allah, menantang Allah sebagai Pencipta dan karena itu Dia adalah Tuhan. Untuk mencapai hasratnya itu, Syetan menggoda Adam dan berjaya membuatnya mengingkari Penciptanya. Akibatnya, Adam mati dan kembali kepada tanah, dia tidak dibenarkan Allah masuk kembali ke dalam Taman Indah yang telah dikenalinya itu. Jadi, Allah mencipta Adam daripada tanah dan Syetan ‘membalik-cipta’nya, menyebabkan tubuhnya dikembalikan kepada tanah.

Memang benar Allah bisa membangkitkan Adam dari mati, tapi masalah keingkaran Adam meskipun begitu tetap tinggal. Kematian jasadnya adalah satu manifestasi kematian rohaninya. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah mencipta manusia dalam keadaan yang sempurna, tapi selepas keingkarannya manusia terjerumus ke tempat yang serendah-rendahnya. [1] Melaui keingkaran Adam Syetan merusak dan membinasakan ciptaan Allah, dan dengan itu ia menantang Allah sebagai Pencipta.

Apakah Allah Merencanakan Dosa dan Kematian Adam?

Ada orang mengatakan bahwa Allah merencanakan untuk kehadiran dosa dan kematian Adam; bahwa dosa telah ditakdirkan untuk Adam dan maut sebagai sebagian dari penciptaannya. Bagaimanapun ini bukanlah kasusnya. Walaupun Allah tahu Adam akan berdosa, Allah tidak menciptakan manusia untuk dosa, menghadapi maut atau tinggal secara kekal di dalam Neraka. Bagaimana kita tahu tentang perkara ini?

Pertama, Allah memberi perintah kepada Adam untuk tidak memakan buah dari pohon larangan itu. Jika Allah telah mentakdirkan bahwa Adam harus berdosa atau menciptanya dengan kecondongan terhadap dosa, mengapa mesti Dia mengarahkannya supaya jangan memakan buah dari pohon terlarang itu? Jika Allah mentakdirkan dia harus berdosa, mengapa mesti Dia mengukum Adam bila dia mengingkari? Kenyataan bahwa Adam berada di Firdaus selagi dia berterusan mentaati Allah membuktikan bahwa maksud Allah untuk Adam bukan untuk berdosa, karena hanya setelah Adam berdosa barulah Allah menyingkirnya dari Firdaus.

Kedua, jika dosa telah diperturunkan ke dalam sifat manusia semasa ia dicipta supaya lumrah baginya untuk berdosa, Allah tidak akan meletakkannya di Firdaus, suatu tempat kesucian dan kebenaran,

Ketiga, Allah tidak mencipta Adam untuk mati, karena Adam akan terus tinggal di Firdaus jika dia terus menaati Allah. Jika maut telah diperturunkan ke dalamnya, Adam mungkin akan mati di Firdaus. Ini adalah tidak mungkin karena tidak ada kematian di Firdaus.

Jadi Allah tidak merencanakan dosa dan maut sebagai sebagian daripada penciptaaan Adam. Adam mempunyai pilihan untuk tidak berdosa dan tidak mati, tapi dia memilih yang sebaliknya. Jadi maut masuk ke dalam dunia melalui keingkaran Adam. Maut bukan satu perbuatan penciptan tapi satu tindakan penghukuman; jadi maut bukan sebagian dari penciptaan Adam tapi sebagai satu tindakan penghukuman ke atasnya.

Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia diciptakan ‘dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsan taqween).’ [2] Kata ‘taqween’ yang diterjemah sebagai ‘sebaik-baiknya’ datangnya dari kata dasar ‘mostaqeem’ yang bermaksud lurus, seperti yang digunakan dalam ungkapan ‘jalan yang lurus’ yang didapati banyak kali dalam Al-Qur’an, terutamanyan dalam Surah pembukaan Al-Qur’an dimana permintaan ‘Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (mostaqeem)’ [3] . Allah mencipta Adam dalam jalan yang lurus dan meletakkan jalan yang lurus di dalamnya. Jadi Allah mencipta manusia lurus dalam sifatnya dengan tidak ada kecondongan kepada dosa.

Kepercayaan bahwa Allah tidak mencipta Adam dengan kecondongan kepada dosa ditegaskan lagi dengan Hadis yang mengatakan: ‘Allah menciptakan Adam di dalam imej-Nya sendiri’. [4] Oleh karena imej Allah tidak dinodai dengan dosa, Adam sesungguhnya telah diciptakan tanpa satu kecondongan kepada dosa.

Kenyataan bahwa maut ialah satu tindakan penghukuman, dan bahwa Allah tidak mencipta manusia untuk mati atau menghabiskan keabadiannya di Neraka, telah diperkuatkan dengan contoh oleh Firman Allah, Isa Al Masih. Walaupun dia dibunuh – selepas menjalani hidup yang sempurna – maut tidak dapat menampungnya di dalam kubur. Dan kini dia berada dalam hadirat Allah di mana dosa tidak hadir dan maut tidak berkuasa. Oleh karena itu, Allah bukanlah pencipta dosa, karena di mana dosa hadir, maut memerintah.

Kegentingan Dosa Adam

Walaupun Adam hanya melakukan satu dosa, dia telah diusir dari Firdaus. Dan walaupun dosa yang satunya telah diampuni semasa dia masih berada di Firdaus, namun Allah tetap mengusirnya dari Firdaus. Dosa ini (walaupun telah diampuni) menghalang Adam daripada terus berada di dalam hadirat Allah. Kita membuat kesimpulan dari sini, bahwa pengampunan saja tidak cukup untuk mengembalikan perhubungan asal Adam dengan Allah. Dari pandangan seorang manusia, dosa Adam bukanlah sesuatu yang berat atau genting – bukan seperti perzinaan atau membunuh – namun jelas sekali bahwa keingkaran Adam mempunyai akibat yang serius dan oleh karena itu tidak boleh diperkecilkan, atau dikatakan sebagai hanya satu kelalaian seperti yang dikatakan oleh setengah orang.

Jika keingkaran Adam tidak berat, apa reaksi Allah yang kita jangkakan? Allah yang sentiasa adil, membuang Adam dari Firdaus! Dosa yang kelihatan begitu tidak signifikan kepada kita tidak dianggap kecil oleh Allah. Apa yang telah dilakukan oleh Adam tidak boleh dibalik-buatkan oleh Adam. Tidak ada jumlah pertobatan atau pengakuan yang bisa menahan Adam di Firdaus Apa yang Adam lakukan adalah begitu drastis, sehingga tidak ada satu peluangpun baginya untuk terus tinggal di Firdaus.

Kegentingan dosa Adam itu ditunjukkan dengan hukuman yang ia bawa. Ianya segenting dengan perbedaan antara kehidupan dan maut, antara Firdaus dengan dunia yang dijangkiti dosa., antara kegembiraan dalam hadirat Allah dengan kepedihan akibat dipisahkan daripadanya.

Al-Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa Allah sudah memberi amaran sekeras-kerasnya supaya jangan memakan buah dari pohon terlarang itu. Jika dia memakannya dan mengingkari Allah, dia adalah seorang yang zalim:

Kami berfirman: ‘Hai Adam! Diamlah di Firdaus ini beserta Hawa, dan makanlah makanan-makanannya sepuas hatimu, namun janganlah kalian mendekati pohon ini, nanti kalian terbilang orang-orang yang zalim (Zalemeen)’.[5]

Keduanya berkata: ‘Wahai Tuhan kami, kami telah menganiayai diri kami sendiri. Bila engkau tidak mengampuni dan memberi kami rahmat, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’[6]

Amaran Allah adalah jelas dan diboboti dengan akibat-akibat yang serius. Kata yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk ‘orang-orang zalim’ adalah satu kata yang keras, yang boleh diartikan sebagai: ‘sesiapa yang melanggar hukum Allah, mereka adalah orang-orang yang zalim (Zalemoun)’. [7] Adam telah ‘melanggar hukum Allah.’

Hukuman untuk orang-orang zalim ialah Api, seperti yang dinyatakan oleh ayat berikut:

[Habil berkata] ‘Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosaku, bertumpang tindih dengan dosamu sendiri. Maka kamu akan menjadi penghuni neraka dan yang demikian itu adalah pembalasan bagi orang-orang zalim [Zalemeen]’ Maka meluaplah nafsu Qabil untuk membunuh saudaranya. Lalu dibunuhnya. Maka jadilah ia orang yang merugi [Khasereen].[8]

Perhatikan bahwa ayat diatas menerangkan kedua Adam (yang memakan buah dari pohon larangan) dan Qabil (yang membunuh saudaranya) adalah orang-orang yang zalim dan merugi. Ada orang yang berpendapat bahwa memakan buah dari pohon terlarang itu tidaklah sejahat membunuh saudara sendiri, tapi di depan Allah ianya tidak ada perbedaan. Kedua Adam dan Qabil telah melanggar hukum Allah. Walaupun perbuatan ingkar mereka berbeda, dosa Adam adalah sama beratnya dengan dosa Qabil karena yang tersinggung adalah Allah yang sama. Ayat berikut menerangkannya sebagai:

Barangsiapa yang menjadikan Syetan menjadi pelindungnya selain Allah, maka sesungguhnya dia menderita kerugian [Khusranan] yang nyata.[9]

Ianya bukan berapa banyak kerusakan yang disebabkan oleh keingkaran kita atau berapa banyak perintah yang kita langgar, tapi disebelah manakah kita berada itulah yang menentukan berapa genting dosa kita. Jika kita mengikut Syetan walaupun dalam perkara yang terkecil sekali, kita berada di pihaknya, yang sudah cukup untuk menjadikan kita musuh-musuh Allah. Seperti yang dinyatakan oleh Razi, ‘untuk mengingkari Allah adalah menyembah Syetan.’ [10]

Jika kita adalah musuh-musuh Allah, kita adalah orang-orang yang merugi, karena Allah ialah pemenang itu, bukan saja karena Dia adalah agung, tetapi juga karena Dia adalah benar. Adam menerima kata-kata dari Syetan sebagai pengganti kepda firman-firman Allah. Itu adalah dosa. Dan itu adalah asal kepada semua dosa.

Apakah Dosa Adam Hanyalah Satu Kelalaian?

Ada yang memandang keingkaran Adam adalah ringan, karena meraka katakan, menurut Al-Qur’an 20:115 ianya hanyalah satu kelalaian:

Dan kami membuat satu perjanjian dengan Adam sebelumnya, tapi dia lupa, dan Kami dapati didalmnya tidaka ada ketetapan.

Mereka memandang dosa Adam bukan sebagai satu keingkaran yang sebenar. Bagaimanapun, apa yang mereka tidak memahami sepenuhnya ialah kenyataan bahwa kata ‘lupa’ itu ialah satu ungkapan Al-Qur’an yang menyatakan secara tidak langsung akibat-akibat yang memilukan. Ini diterangkan dari ayat berikut:

Apakah yang lebih durhaka daripada orang yang setelah diberi peringatan dengan keterangan-keterangan Tuhannya, lalu dia tidak suka mengindahkannya, dia lupa akan apa yang sudah dilakukannya?[11]

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptanya dari setetes air mani, tetapi menjadi musuh Kami seterang-terangnya. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula.[12]

Dan penghuni neraka berseru kepada penghuni syurga, katanya:’Limpahkanlah kami sedikit air dan makanan yang dikaruniakan Allah kepadamu…. Karena itu pada Hari Kiamat ini, mereka Kami lupakan sebagaimana meraka dahulu pernah melupakan untuk mengunjungi “Hari Mereka” ini,..[13]

Orang-orang munafik … mereka melupakan Allah karena itu Allah melupakan mereka.[14]

Namun mereka dan nenek moyang mereka telah Engkau beri kesenangan hidup, sehingga mereka lupa memuja-Mu. Mereka adalah orang-orang yang binasa. [15]

Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah itu akan mendapat siksaan yang berat, karena melupakan Hari Perhitungan.[16]

Dan janganlah kamu berpolah seperti orang yang melupakan Allah, yang berakibat Allah membuat mereka lupa-diri pula dari mengerjakan kebajikan. Mereka adalah orang-orang fasik. [17]

Jadi, keingkaran Adam sesungguhnya begitu genting sekali. Dengan keingkarannya, Adam mengatakan bahwa Allah tidak memberitahunya kebenaran tentang pohon larangan dan Syetan memberitahu kebenaran kepadanya. Dengan keingkarannya, Adam mengatakan Allah tidak peduli akan kebajikannya tetapi Syetan mempedulikannya. Denag keingkarannya, Adam mengatakan Allah tidak boleh dipercayaai, sebaliknya Syetan yang boleh dipercayai. (Sekali kali tidak!). Jika Allah tidak memberitahu kebenaran itu, dan tidak boleh dipercayai, maka Dia bukanlah Tuhan. Dengan keingkarannya, Adam mengalihkan kepercayaan dan imannya dari Allah kepada Syetan. Dan seperti yang diulas oleh Razi, ‘untuk mengingkari Allah adalah menyembah Syetan.’[18] Pada pokoknya, Adam menolak Allah dan sebaliknya menerima Syetan sebagai tuhannya, sekurang-kurangnya untuk tempoh keingkarannya itu. Dan jika Allah bukan Tuhan sepanjang masa, maka Dia bukan Tuhan langsung. Inilah besarnya keingkaran Adam. Jadi dia bertindak melawan pokok utama iman: laa-illaha-illullah.

Adam Dijerumuskan kepada ‘Tempat yang Serendah-rendahnya’

Allah menciptakan Adam sempurna tapi karena keingkaran Adam, dia djerumuskan kepada tempat yang serendah-rendahnya. Mengulas ayat Al-Qur’an, “Sesungguhnya manusia itu telah kami ciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Kemudian Kami jerumuskan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”[19], ada yang mengatakan:

Dia [Allah] bersumpah bahwa Dia menciptakan manusia pada pertama kalinya dalam pikiran, agama dan pengetahuan yang sempurna sekali, dan kemudian menyatakan bahwa [bila] dia menyimpang dari semua ini, Dia menegembalikannya kepada tempat yang serendah-rendahnya.[20]

Jadi, manusia (Adam) diciptakan dalam pikiran, agama dan pengetahuan yang sempurna – satu kesempurnaan yang dipunyai oleh manusia bila pertama kalinya di dicipta. “Manusia”, menurut Nasafi, membawa arti ‘umat manusia’. Mengenai ungkapan ‘tempat yang serendah-rendahnya’, Baidawi dan Nasafi menyatakan bahwa ada yang mempercayai itu merujuk kepada ‘usia tua’, sedangkan yang lainnya percaya ia berarti bahwa manusia dicipta sebagai ‘penghuni api Neraka’.[21] Mungkin usia tua dianggap oleh setengah orang sebagai titik paling rendah dalam kehidupan mereka, tapi ia tak semestinya ‘tempat yang serendah-rendahnya’. Bagaimanapun, untuk menjadi seorang penghuni Neraka, sememangnya ialah ‘tempat yang serendah-rendahnya’, seperti yang diperkuatkan oleh ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu, ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah di neraka.[22]

Sebelum Adam, Syetan sendiri telah menderita nasib yang sama seperti Adam bila dia disingkirkan dari Firdaus karena mengingkari Allah. Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang sama untuk menerangkan pelarian Syetan sama seperti ketika Adam mengingkari Allah:

Allah berfirman: ‘Turunlah kamu dari syurga itu. Tidak sepatutnya kamu menyombong diri di sana, Sebab itu keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’[23]

Manusia tidak diciptakan untuk ‘keluar dan turun’ dari Firdaus, karena hanya selepas keingkarannya terhadap Allah barulah dia diperintahkan ‘keluar dan turun’. Semenjak hari itu dia telah diturunkan ke paras ‘yang serendah-rendahnya’ bersama Syetan.

Kata lawan (antonim) bagi ‘rendah’ dan ‘serendah-rendahnya’ ialah ‘tertinggi’ atau ‘keluhuran’. Kedua kata-kata ini didapati dari ayat-ayat berikut, dimana ia membawa arti satu peringkat kemenangan dan kebahagiaan di Syurga, yaitu berlawan arti dengan Api:

Allah merendahkan kalimat orang-orang kafir dan meninggikan [‘oliah] kalimat-kalimat-Nya.[24]

…orang-orang yang air mukanya berseri-seri karena gembira.merasa senang melihat hasilnya. Tempatnya dalam Surga tingkat tertinggi [‘aa’eiah].[25]

Peringkat berada di ‘tempat serendah-rendahnya’ adalah cocok dengan pernyataan Al-Qur’an dalam penyingkiran Adam dari Firdaus:

Allah berfirman: ‘Turunlah kalian dari syurga ini bersama iblis sekalian, sebagain kamu menjadi musuh yang lain…’[26]

Ini menerangkan proses di mana ‘tempat yang serendah-rendahnya’ dibawa. Perhatikan kata-kata ‘kalian bersama’, yang ditujukan kepada Adam dan Hawa. Mengenai ungkapan ini, dalam Ikhwan al-Safa ia mengatakan yang ditujukan ialah Adam, Hawa dan keturunan-keturunan mereka. [27]

Pengaruh Dosa Adam Keatas Keturunannya

Dosa Adam tidak hanya mempengaruhinya, karena pengaruhnya kepada keturunan-keturunan Adam juga sama berat kesannya. Menurut Hadis, dosa Adam telah mempengaruhi seluruh dunia:

(Nabi Musa berselisih dan mengambil pengecualian Adam dan berkata,”Ya Adam, engkau adalah bapa kami namun engkau gagalkan kami) – bahwa engkau membuat kami jatuh ke dalam kekecewaan, yakni kehilangan; dan membawa kami keluar dari Firdaus – yakni, engkaulah yang menyebabkan kami disingkir dari tempat yang penuh kebahagian dan keabadian kepada tempat yang penuh penderitaan dan runtuhan.” [28]

Ketika Adam mematuhi Syetan dan bukannya Allah, dia membuang hubungan dengan Syetan semetara memisahkan dirinya daripada Allah. Jadi melalui keingkaran Adam seluruh dunia dijangkiti dengan dosa dan maut.

Keingkaran Adam terutamanya telah mempengaruh keturunan-keturunannya. Bagaimana kita ketahui semua ini? Bagaimana kita ketahui bahwa keingkaran Adam mempengaruhi semua keturunannya?

Pertimbangkan dulu bagaimana kita dicipta. Adakah Allah mengambil segumpal tanah dan membentuk serta meniup kedalamnya dengan Roh-Nya untuk mencipta anda? Adakah Dia mengambil segumpal lagi dan melakukan yang sama untuk mencipta diri saya? Beginilah Dia mencipta Adam, tapi adakah begini caranya Dia mencipta milyaran yang telah memenuhi planet ini?

Tidak! Allah menciptakan satu, Adam, daripada tanah dan di dalamnya Allah menciptakan yang lainnya. Allah sesungguhnya bisa mencipta setiap seorang daripada kita semua dari tanah, dengan cara yang sama Dia mencipta Adam. Tapi dengan kebijaksanaan-Nya Dia tidak memilih untuk berbuat demikian. Allah hanya mencipta seorang saja dari tanah dan di dalamnya Dia mencipta kita semua.

Karena kita telah dicipta ‘di dalam’ Adam, keingkaran Adam tidak hanya mempengaruhi dia seorang saja tapi mempengaruhi kita juga.

Jika kesan daripada keingkaran Adam hanya terbatas kepadanya saja, maka dosanya akan hanya seperti kehilangan satu lengan dalam satu kecelakaan, di mana kesemua anak-anaknya yang lahir berada dalam keadaan yang baik, dengan dua lengan. Dengan arti kata yang lain, kecelakaan itu hanya mempengaruhi seorang saja. Jika sekiranya ini yang berlaku kepada Adma, maka semua keturunannya akan dilahirkan sempurna, bagus dan bebas dari dosa. Bagaimanapun, adalah jelas sekali kita tidak sempurna, tidak bebas dari dosa dan bukan semestinya orang-orang baik. Setiap kita telah berdosa dan mengingkari Allah. Kesemua kita telah melanggar perintah-Nya.

Jadi keingkaran Adam itu lebih merupakan satu penyakit keturunan daripada kehilangan satu lengan. Jika sesuatu penyakit yang menular didapati di dalam anak-cucu serta kesekua keturunan seseorang, kita dapat menyimpulkan bahwa penyakitnya itu adalah penyakit keturunan yang bukan mempengaruhi dia seorang saja. Begitulah keingkaran Adam telah mempengaruhi mkita semua. Jika dosa Adam tidak mempengaruhi anak-anaknya maka kita tidak akan menjangka bayi-bayi yang tak berdosa itu meninggal seperti Adam. Tapi sesungguhnya begitulah halnya.

Di satu pihak yang lain jika seseorang itu akan dilahirkan bebas dari semua dosa dan akan menjalani satu hidup yang sempurna, maka kita akan menjangkakan bahwa dia tidak akan mati dan ‘kembali kepada tanah’ tapi sebaliknya menikmati hadirat Allah seperti yang Adam alami sebelum kejatuhannya. Isa, Firman Allah itulah orangnya. Sifat kemanusiaannya bukan satu hasil daripada perantaraan Adam, karena dia lahirkan oleh seorang perawan dan oleh karena itu dia tidak mewarisi sifat-sifat Adam. Ini sekali lagi membuktikan semua keturunan Adam dipemngaruhi oleh dosanya, karena oleh sebab Isa tidak datang melalui perantaraan Adam, dia tidak mewarisi apa-apapun sifat ketidak-sempurnaan Adam. Tetapi semua yang datang melaui Adam ada mewarisi sifat-siafat kejatuhan Adam.

Mana Jalan Keluar?

Maka umat manusia berada dalam satu kedudukan yang genting. Adam dicipta dalam imej Allah, dan semua yang Allah ciptakan adalah bagus. Tetapi semenjak kemasukan dosa, manusia telah menukarkan imej Allah kepada yang kepunyaan Syetan – pendusta, pembunuh, dan perusak ciptaan-ciptaan Allah. Untuk inilah, manusia ditakdirkan untuk bersama dengan para iblis di tempat ‘ yang serendah-rendahnya’ – yaitu di dalam Neraka.

Daya-usaha Adam Tidak Mencukupi

Sejurus selepas Adam mengingkari Allah dia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang. Segera dia coba menutupi dirinya dengan daun kayu. Tapi ini tidak menyelesaikan apa-apa karena keterlanjangannya hanyalah satu manifestasi luaran msalahnya – seperti kesakitan yang mengiringi satu penyakit berat. Adam telah jatuh dari mata Allah. Ketika dia masih berada dalam kebebenaran, dia diterima walaupun bogel; tapi bila dia ingkar, dia ditolak walaupun ditutupi.

Adam dan Hawa telanjang sebelum mereka mengingkari Allah, tapi tidak menyadari keterlanjangan mereka. Sama seperti seorang yang tidak malu dengan tubuhnya yang bogel bila bersendirian, begiyu jua dengan Adam dan Hawa yang tidak malu dengan kebogelan mereka di depan Allah. Begitulah kuatnya perhubungan yang Adam nikmati bersama Allah. Jubahnya dalah kebenaran.

Tapi selepas mengingkari Allah, Adam dan istrinya diputuskan dari Allah. Bila dia mendapati dirinya telanjang, Adam merasa malu terhadap Yang memghiasi setiap bagian dirinya. Dan Allah Pencipta bagi Adam menjadi seperti seorang asing.

Kini daripada Allah sebagai Raja dan Pusat kehidupan mereka, diri yang bertakhta. Daripada sadar akan Allah, Adam menjadi sadar akan dirinya. Dan rasa malu menyusul. Walaupun pada tingkat yang terbaik, diri dalam hadirat Allah hanya bisa menghasilkan malu. Bila Adam mengingkari, rasa keterlanjangan itu adalah serta-merta, dan ia tinggal kekal bersamanya sebagai satu peringatan yang berterusan bahwa dia telah jatuh dari mata Allah. Ianya masih menjadi peringatan berterusan bagi kita semua. Rasa keterlanjangan itu ialah satu penghukuman.

Ketidak-hadiran rasa malu yang asal adalah karena tindakan ciptaan Allah yang ulung. Maka untuk Adam mengembalikan kemurnian pertamanya, tidak kurang daripada satu lagi tindakan penciptaan diperlukan. Tapi ianya adalah jelas bahwa Adam tidak dapat mencapai semua ini dengan pekerjaan tangannya sendiri, karena dia telah dihalau dari Firdaus walaupun dengan pekerjaan tangannya sendiri untuk menutupinya. Ketetapan hatinya untuk menghilangkan rasa malu dengan menjahit beberapa helai dedaun langsung tidak berguna.

Jika dedaun Firdaus sendiri tidak dapat menutup keterlanjangannya agar dia diterima oleh Allah, tidak ada jumlah kerja-kerja yang baik yang dapat melakukan ini. Mengapakah apa saja kerja-kerja yang baik diiringi dengan dedaun Firdaus tidak bisa lakukannya? Dan jika dedaun Firdaus tidak dapat menutupinya dan menahannya daripada dihalau keluar dari Firdaus, apa agaknya yang akan menutupi anda dan saya? Bagaimana kita bisa ditutupi didepan Allah yang Maha Kuasa?

Sama seperti Adam yang pertama, umat manusia masih lagi bersembunyi daripada Allah. Di mata Allah, tidak ada apa-apa yang kita bisa lakukan untuk menutup diri kita agar diterima oleh Allah. Walaupun dengan kerja-kerja baik yang tertinggi serta berterusan tidak cukup untuk menutupi kita.

Pengampunan Saja Tidak Cukup

Adakah Allah mengampuni Adam setelah dia disingkirkan dari Firdaus, atau ketika dia masih berada di Taman Eden? Adam masih lagi berada di Firdaus ketika dia diampuni, meskipun begitu dia terpaksa juga disingkir daripada Hadirat Allah. Pengampuan saja tidak cukup untuk mengembalikan perhubungan yang asal Adam dengan Allah sebelum keingkarannya. Apa yang kita pelajari dari sini ialah ianya mengambil lebih daripada pengampunan untuk seseorang agar dia bisa kembali ke hadirat Allah.

Ada orang yang mengatakan bahwa Adam sebenarnya kembali ke Firdaus selepas kematiannya karena dia bertobat dan pengampunan Allah saja sudah mencukupi untuk dia dikembalikan ke dalam hadirat Allah. Bagaimanapun, jika pertobatan dan pengampunan saja sudah mencukupi untuk memulihkan perhubungan sempurna dengan Allah, mengapa tidak Allah mengembalikan Adam ke Firdaus sebaik saja dia bertobat? Ini menunjukkan bahwa lebih daripada pengampunan yang diperlukan sebelum kita bisa dipulihkan kepada hadirat Allah.

Selepas keingkaran Adam, kita perhatikan empat fakta-fakta yang tidak dapat diperdebatkan:

1. Adam dan keturunannya mati dan kembali kepada tanah.

2. Keturunan Adam, sama seperti bapa mereka, mengingkari Allah.

3. Daya usaha Adam dan dedaun Firdaus tidak dapat menutupi Adam hingga ke tahap yang dapat diterima semula oleh Allah.

4. Walaupun Adam diampuni, dia tetap disingkirkan dari Firdaus Allah dan tidak dibenarkan masuk kembali.

Keempat-empat perkara mengenai kehidupan manusia ini mengikut keingkaran Adam menunjuk kepada satu kesimpulan yang menggelisahkan: Kita tahu Allah mengampuni Adam, namu dia tetap disingkir dari Firdaus. Ini bermakna pengampunan tidak mencukupi untuk memulihkan dia kepada Firdaus dan Kehidupan Kekal. Dia telah diasingkan dari Firdaus Allah. Dan apa yang benar bagi Adam adalah juga benar bagi setiap orang yang mengingkari Allah. Ini termasuklah kita semua, keturunan Adam itu.

Dalam bab yang berikutnya kita akan melihat bagaimana Allah mendapat kemenangan keatas tantangan Syetan.


PENCIPTAAN SEMULA MANUSIA

Kita telah lihat di atas bahwa bukan usaha Adam, atau pertobatannya, atau pengampunan Allah cukup untuk mengembalikan Adam kepada Firdaus. Ada sesuatu yang lain diperlukan. ‘Sesuatu’ itu didapati dalam Adam Baru, Isa, Firman Allah itu. Walaupun dia memulakan misinya di mana Adam tamat dengan tragis sekali (yaitu di atas bumi), dia tamat lebih tinggi daripada di mana Adam bermula, mengakukan Allah bahkan di dalam Neraka. Maka dari itu, sebaik saja Isa Firman Allah menghabiskan misinya dia diangkat secara fisik untuk berada di sisi Allah. Melalui ini, Allah mengumumkan bahwa dalam dia ialah satu-satunya jalan untuk kembali ke Hadirat Allah.

Allah tidak berhenti dengan yang kedua terbaik. Allah tidak menerima satu kesetiaan yang berbagi dari umat manusia. Allah tidak meninggalkan rencana asal kesempurnaan-Nya ketika Dia mencipta Adam. Umat manusia harus berserah sama sekali kepada-Nya. Allah tidak akan menerima pelacuran spirituil dari ciptaan-Nya, walaupun untuk semenit. Allah sajalah yang mesti menjadi obyek penyembahan. Allah tidak akan puas dengan satu makhluk ciptaan-Nya yang mengikuti-Nya kekadang, dan pada yang lainnya menuruti Syetan.

Allah tidak akan memberi laluan kepada tantangan Syetan bila si Iblis coba memperkecilkan-Nya dengan menjerat manusia untuk mengingkari-Nya.

Jika Allah telah memusnahkan Adam dan bermula sekali lagi dengan mencipta seorang manusia lain dengan tanah, ini akan merupakan seolah-olah satu kebenaran kekalahan – dan Syetan akan hanya perlu melakukan perkara yang sama untuk sekali lagi merusak pekerjaan Allah.

Oleh karena itu, Allah tidak memusnahkan Manusia pertama itu; Dia menyediakan satu Manusia baru dan di dalamnya Allah menyelamatkan umat manusia dari kesulitan dan bahaya.

Rencana Penyelamatan

Allah mencipta umat manusia melalui satu manusia, Adam. Seperti yang telah kita bincang di Bab Pertama diatas Allah tidak mengambil tanah dan membentuk serta menghembus nafas-Nya dengan Roh-Nya untuk mencipta anda dan saya, dan mengulangi proses itu untuk mencipta seluruh umat manusia di dunia. Allah janya melakukan sekali yaitu bila Dia mencipta Adam.

Jadi Allah mencipta satu manusia, Adam, daripada tanah, dan di dalammya Allah mencipta yang lain. Allah bisa saja mencipta setiap kita dari tanah, dengan cara yang sama Dia mencipta Adam. Tapi dalam kebijaksanaan-Nya Dia memilih untuk tidak berbuat demikian. Allah mencipta satu manusia dari tanah dan di dalamnya Dia mencipta kita semua.

Kita juga tahau bahwa Adam mengingkari Allah, dan disingkirkan dari Firdaus dan kemudian mati, dan di dalamnya seluruh umat dianggap sebagai orang-orang berdosa, juga disingkir dari Firdaus dan sepertinya, semuanya mati.

Untuk Allah menuntut semula dan menyelamatkan umat manusia, Dia memperkenalkan seorang Adam baru, dan di dalamnya Dia mencipta semula manusia.. Sama seperti Dia mencipta manusia dalam satu orang, Adam; Dia juga mencipta semula manusia dalan satu orang, Isa, Firman-Nya.

Melalui Adam Kedua inilah Allah mencapai penciptaan semula yang diperlukan untuk umat manusia dipulih-kembalikan kepada imej Allah yang dulunya dimiliki oleh mereka, agar mereka bisa berdiri di depan Hadirat-Nya sekali lagi. Tapi Adam Baru ini mestilah sempurna dalam segalanya. Jika tidak, keturunannya akan tetap sama mempunyai dosa dan diasingkan dari Hadirat Allah sama seperti keturunan Adam yang pertama.

Adam yang lama ialah tanah sebelumnya dengan satu nafas Allah ditambah kepadanya kemudian. Adam yang baru ialah satu Roh dari Allah. Firman Allah ialah satu Roh sebelumnya dengan daging manusia ditambah kemudian.

Isa, seperti yang telah kita lihat, adalah Manusia Sempurna. Sebagai Kalimatullah (Firman Allah) yang Kekal yang dilahirkan oleh seorang perawan dia telah menjalani hidupnya di dunia ini dengan penyerahan kepada Allah yang mutlak. Jika dia telah gagal dalam satu perkara, rencana penciptaan semula Allah akan tergendala. Tapi Alhamdulillah, dia tidak gagal! Dia seorang saja yang telah menyenangkan Allah selalu.

Bagaimanapun, kesempurnaannya harus diuji hingga ke tetesan terakhir. Mungkin di bawah penekanan satu kecacatan bisa ditemui. Banyak orang yang bermula dengan baik tapi bila penekanan dikenakan, serabut sebenar mereka akan diketahui dengan cepat. Kekuatan satu besi keluli bukan diukur dengan kilogram yang pertama dikenakan keatasnya, tetapi yang terakhir. Bukan jam yang pertama dalam sehari yang menentukan penerimaan oleh Allah tetapi yang terakhir. Jadi Isa terpaksa diuji hingga ke hembusan nafas yang terakhir, denyutan jantungnya yang terakhir. Maka Isa melalui setiap pencobaan hinggalah dan termasuk ujian terakhir: kematian di atas kayu salib dan perpisahan dengan Allah. Ujian asid bagi mana-mana manusia diuji dalam bagian hidupnya yang paling disayanginya. Di atas kayu salib Isa diuji bagian yang paling disayangi olehnya, yaitu perhubungan istimewanya dengan Allah.

Seperti yang telah kita rela mengakui, ujian terakhir yang terpaksa dilalui oleh Nabi Ayub bukanlah kehilangan harta-benda atau anak-anaknya, tetapi badannya sendiri:

Akhirnya Syetan kembali dan berkata, “Kepada Ayub kehilangan harta dan anak-anaknya itu perkara yang kecil, tapi kalau Engkau memberi aku kuasa keatas tubuhnya, aku bisa menjamin bahwa jika dia sendiri menderita dalam tubuhnya dia akan mengutuk Engkau,” Maka Allah mengabulkan permintaannya, Syetan merundung tubuh Ayub. Isi badannya dan kulit Ayub mula jatuh, dan walaupun dia mengeluh kepada Allah namun dia tetap tidak menyeranah Allah.[29]

Ujian terakhir Ayub bukanlah harta kepunyaannya, ataupun anak-anaknya, tetapi sesuatu yang dekat kepada jiwanya – yang akan mempengaruhinya secara terus. Ujian asid kesetiaannya kepada Allah ialah sesuatu yang bena-benar pribadi. Sesungguhnya, kerusakan yang menyentuh kita secara peribadi itulah yang akan menyatakan sifat dalaman kita.

Dan kini Syetan datang untuk merundung setiap orang di dalam bagian yang paling terutama untuk mencapai tujuannya. Syetan menyerang di bagian yang mendatangkan kerusakan paling besar. Dia datang untuk merampas dari orang itu apa-apa saja yang mewakili batu dasar, atau aspek yang paling penting dalam pribadi seseorang.

Bila Syetan datang untuk merundung Isa, bagian manakah yang akan diserangnya? Bagian manakah yang mewakili aspek yang paling penting dalam pribadi Isa? Bagian mana, yang bila diserang, akan memberi kerusakan yang terbesar? Kepada Ayub bagian itu ialah tubuhnya sendiri, tapi kepada Isa ianya ialah kesatuannya dengan Allah. Karena inilah yang membedakan Isa dari orang lain. Kesatuan itu adalah kebahagiaannya, kekayaannya, dan harta-miliknya. Ia adalah kekuatan bagi kodratnya. Ke atas bagian inilah kalau serangan ditumpukan – akan menjadi ujian terakhir baginya. Mereka yang datang dari tanah diuji keatas tubuh mereka, tapi dia yang datang dari Allah akan diuji kesatuannya dengan Allah.

Untuk menyerang kesatuan Isa dengan Allah ialah untuk menyentuh dirinya sendiri, sama seperti Ayub diserang ke atas tubuhnya. Ini merupakan serang yang paling pribadi, langsung dan paling merusakkan bagi Isa.

Peninggalan oleh Allah yang dialami oleh Isa merupakan bentuk penderitaan terakhir. Ini menjelaskan pergumulan di Taman Gethsemane. Ianya bukan karena ketakutan akan maut tapi karena ianya merupakan satu pergumulan oleh seseorang yang menikmati kesatuan dengan Allah secara kekal, namun akan tiba saatnya untuk dia mengalami peninggalan oleh Allah.

Isa ketika di atas kayu salib mengalami bahang panas gurun spirituil, ketidak-hadiran yang Ilahi, yakni neraka. Inilah cangkir yang terpahit sekali.

Namun disinilah kita mendengar kata-kata “Ya Allah, ya Tuhanku’. Isa walaupun ditinggalkan oleh Allah, dan dirundung penderitaan terakhir, mengambil pengakuan Allah Tuhannya, kepada ketandusan spirituil ini, yaitu neraka. Bila Adam menyerahkan kehendaknya kepada musuh Allah, dia menyatakan secara tidak langsung bahwa Syetan adalah benar dan Allah adalan salah (Sekali-kali tidak!), dan secara tidak langsung dia menyangkal bahwa Allah itu Tuhan – sekurang-kurannya untuk tempoh ketidak-taatannya. Tapi kalau Allah bukan Tuhan untuk sepanjang masa, Dia tidak boleh menjadi Tuhan langsung. Jadi semasa Adam menyangkal Allah di Firdaus, Isa mengangkat kendatipun ditinggalkan oleh Allah. Pengakuan akan Allah kendatipun dalam Neraka, sehinggalah ke hembusan nafasnya yang terakhir di atas kayu salib, ialah kemenangan dan segel kesempurnaan yang terakhir. Di sanalah melalui ujian tajam itu Adam baru dijadikan sempurna.

Di sanalah dan di dalam Isa, sebagai Adam baru, Allah menyempurnakan ciptaan baru-Nya, dan Allah dimuliakan sebagai Tuhan untuk selama-lamanya.

Di sanalah Isa menyapu bersih semua catatan lama. Jadi Isa adalah sempurna bermula dari kelahirannya sampailah kepada kewafatannya. Dan melalui kesempurnaannya itulah Allah mencapai satu pembalikan apa yang Adam telah lakukan. Dalam cara inilah perbuatan atau tindakan penciptaan semula itu dicapai.

Adam yang pertama mengingkari Allah; Adam kedua, Isa, Firman Allah menaati Allah hingga kepada hembusan terakhirnya.

Adam yang pertama kembali kepada tanah; Adam kedua, Isa, Firman Allah tidak ada kecacatan tapi bangkit dari mati di alam tubuh dan roh, dan tidak akan mati lagi.

Adam yang pertama diusir dari Firdaus; Adam kedua, Isa, Firman Allah, kembali kepada Allah untuk berada di sisi-Nya.

Apa saja yang berlaku kepada Adam yang pertama, terjadi kepada keturunannya; Begitu juga apa saja yang berlaku kepada Adam kedua, akan berlaku kepada keturunannya.

Keturunan Adam yang pertama berkongsi sifatnya, akan juga berkongsi dosa dan akibatnya; Begitu juga dengan keturunan Adam kedua berkongsi kebenaran dan akibatnya: yaitu ciptaan baru Allah.

Kecakapan-kecakapan Adam

Ada yang mungkin bertanya apa yang melayakkan Isa sebagai Adam yang baru, atau apa syarat yang dia penuhi untuk berdiri sebagai Adam? Dan sebagai jawabnya, kita mungkin bertanya “Apa yang membuat Adam, Adam”?

Apa yang membuat Adam, Adam ialah dia adalah yang pertama dari jenisnya. Begitu juga Isa sebagai manusia ialah yang pertama dari jenisnya. Baidawi mengulas tentang Isa:

Ia seperti Adam tanpa ayah, jadi ia seperti suatu keanehan yang secara tanpa diketahui awal dalam penciptaannya secara asli (Al-bid’iyat) yang merupakan kepatuhan dunia terhadap Tuhan atau urusan Tuhan, atau saja ia seperti Kitab Allah.[30]

Pemilihan Isa dalam perbandingan dengan Adam diperkuatkan lagi oleh Ibn ‘Arabi yang menbandingkan Adam dan Isa dalam penyataan berikut:[31]

Segel kesalehan adalah Isa dalam pengertian yang mutlak. Dialah orang suci kenabian yang mutlak di masa kini bagi bangsa ini… Dia akan datang di akhir zaman sebagai waris kepada segel itu, tidak ada orang saleh dan suci selepasnya…Dia adalah Isa. Dia datang dari kalangan kita dan dia adalah tuan kita!

Jadi yang pertama sekali dalam perkara itu ialah seorang nabi, dia adalah Adam, dan yang terakhir juga seorang nabi, dia adalah Isa.[32]

Menurut Ibn ‘Araby, yang pertama mengenai perkara itu ialah Adam, yang menggagalkan kita, tapi penghujung bagi perkara itu ialah Isayang membawa perkara itu kepada satu penakhiran yang penuh kemuliaan. Dia adalah Adam baru yang tidak pernah mengecewakan Allah atau manusia.

Yang lebih penting lagi ialah Isa adalah Adam baru itu karena pertama sekali, dia adalah manusia pertama yang lulus ujian asid kesempurnaan dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah. Ini adalah tujuan dan matlamat utama Adam, (penghasilan keturunan adalah yang sekunder, sesiapa saja di antara kita bisa melakukan kerja yang sama). Seorang penulis moden menyatakan:

Oleh itu Isa bebas dari noda-noda kejahatan dan kotoran … Kesucian ini, yang Adam ada sehingga dia disentuh oleh jari Syetan dan menyebabkan ia kehilangannya, sekarang hanya tinggal ada pada Isa saja.[33]

Jadi, tidak seperti Adam, yang telah dikalahkan oleh Syetan, Isa mengekalkan kesuciannya sepanjang hidupnya, dan dengan itu mengalahkan Syetan dengan kesetiaan sempurnanya kepada Allah.

Kedua, Isa adalah Adam yang baru itu karena dia adalah manusia pertama yang bangkit dari mati, dan tidak akan mati untuk selama-lamanya.

Ketiga, Isa adalah Adam yang baru itu karena dia adalah manusia pertama yang pergi bersama Allah dalam bentuk manusiannya.

Keempat, Isa adalah Adam yang baru itu karena dia adalah manusia pertama yang melaluinya karunia kehidupan kekal diperantarakan. Karena, jika melalui Adam yang pertama karunia kehidupan diperantarakan, begitu juga melalui Adam yang baru yaitu Isa, karunia kehidupan kekal diperantarakan..

Menurut Ibn ‘Araby, akhli sufi yang agung itu:

Isa dibedakan oleh Allah dengan sebagai suatu roh, ditambah dengan sifat-sifat istimewa yang bisa meniupkan kehidupan kepada apa yang ia ciptakan dari tanah liat. Kuasa untuk memberi kehidupan melalui hembusan tidak diberi kepada rasul yang lain oleh Allah kecuali Isa, selain dari diri Allah Yang Maha Tinggi sendiri.[34]

Dia membangkitkan manusia dari mati, sebagai satu bukti bahwa dia mempunyai kuasa untuk membangkitkan semua yang percaya kepadanya dan memberi mereka kehidupan kekal. Ibn ‘Arabi nebgatakan tentang Isa bahwa “Dia dicirikan dengan kesetiaan, karena dalam tangannya adalah kunci-kunci nafas manusia.”[35]

 

Kita juga telah melihat bahwa ‘Roh biasa membangkitkan tubuh yang mati dan hati yang mati kepada kehidupan’ dan dengan demikian ‘dia dipanggil sebagai Roh’ [36] , bahwa dengan kata-katanya ‘agama hidup, jiwa manusia hidup secara kekal, dan membersihkan [manusia] dari dosa-dosa’ [37] . Razi sendiri bersetuju bahwa Isa dipanggil sebagai Roh Allah ‘karena melaluinya Allah membawa manusia kepada kehidupan dan keluar dari penipuan, sama seperti manusia hidup oleh karena roh itu’ [38]

Kesimpulannya, kehidupan yang Isa berikan ialah satu kehidupan yang penuh.

Razi memberitahu kita bahwa bila Isa memanggil murid-muridnya, dia berkata kepada mereka:

Sekarang kalian menangkap ikan, tapi jika kalian mengikut Aku kalian akan menangkap manusia untuk Kehidupan Kekal.’ Lalu mereka meminta satu mukjizat darinya. Simion telah coba menangkap ikan semalaman tapi tidak dapat seekorpun. Isa menyuruhnya menabur jalanya sekali lagi, dan sekarang mereka dapat menangkap begitu banyak ikan sehingga jala mereka hampir koyak. Lalu mereka meminta bantuan dari sebuah perahu yang berdekatan, dan kedua perahu itu sarat dengan ikan. Lalu merekapun percaya akan dia.[39]

Jadi Isa adalah Adam yang baru itu karena keseluruhan hidup, samada fisikal ataupun spirituil, diperantarakan melaluinya.

Jika dalam Adam yang pertama umat manusia jatuh dan disingkirkan, di dalam Adam yang kedua, umat manusia dituntut semula oleh Allah.

Setiap manusia yang datang atau akan datang harus hidup dan menghormati Allah seperti yang dilakukan oleh Isa. Ini adalah tujuan Allah dalam mencipta setiap manusia. Allah menuntut kesempurnaan yang sedemikian rupa. Bahkan manusia sendiri menuntut kesempurnaan seperti itu. Pria mana yang akan gembira jika istrinya hanya taat kepadanya selama tiga puluh tahun tetapi hanya sekali berlaku curang? Untuk menaati orang lain selain Allah adalah satu penzinaan spirituil. Untuk alasan itulah hanya ciptaan baru yang bisa memenuhi kehendak Allah itu. Setiap pria dan wanita mestilah dicipta semula agar layak berada dalam hadirat Allah.

Inilah tujuan Allah untuk semua umat manusia, agar semuanya akan seperti Isa, bukan seperti Adam. Inilah ciptaan baru itu.

Bagaimana Manusia Bisa Dicipta Semula?

Tapi bagaimanakah seseorang bisa menjadi seperti Isa? Bagaimana seseorang bisa diciptakan semula?

Dia yang lahir dari daging adalah daging dan dia yang lahir dari Roh adalah roh. Keturunan Adam adalah persis sepertinya: berdosa. Keturunan Manusia Sempurna, Isa Al-Masih, adalah sepertinya: sempurna (ini tidak bermaksud bahwa pengikut-pengikut Firman Allah, Isa , adalah sempurna di sini di bumi). Terdapat satu kelahiran fisikal dan ada satu kelahiran spirituil (yaitu ketika seseorang itu mengalami kelahiran spirituil, dia mengalami konflik dengan sifat kenafsuannya). Adam yang pertama perlukan satu Hawa, yang kedua tidak perlukan Hawa karena keturunannya adalah spirituil.

Allah bisa saja mencipta Adam dengan hanya berniat. Tapi Allah memulakannya dengan tanah. Di sini Dia menentukan satu pola Ilahi, satu pola yang juga bisa dilihat dari penciptaan kedua.

Kita melihat dua aktiviti Allah yang jelas di dalam penciptaan Adam: pertama Dia membentuk tanah itu, kedua Dia meniupkan nafas kehidupan kedalam tanah yang dibentuk tadi. Kedua aktiviti-aktiviti yang jelas diulangi dalam ciptaan baru.

Sama seperti Allah bermula dengan tanah di dalam penciptaan pertama, begitu juga Dia bermula dengan komponen tanah dalam ciptaan baru – Adam dan keturunannya hidup di dalam tubuh mereka yang bisa mati, karena mereka adalah tanah dari ciptaan baru. Dan sama seperti Allah mehembuskan nafas kehidupan kedalam tanah, Dia menyempurnakan ciptaan baru dengan menghembus Roh-Nya Isa kedalam komponen tanah itu (yaitu ke dalam tubuh kita yang bisa mati). Allah membentuk komponen fisikal dalam langkah yang pertama, dan di dalam langkah yang kedua Dia memberikan komponen Ilahi. Dalam penciptaan pertama inya adalah pembentukan dari tanah diikuti oleh nafas Allah. Di dalam ciptaan baru, keturunan Adam mewakili tanah sementara Isa ialah Roh Allah.

Umat manusia tidak mempunyai pilihan dalam penciptaan pertama. Allah mencipta manusai di dalam imej-Nya sendiri, satu makhluk yang ‘sanggup’, bukan satu mesin ataupun robot. ‘Kehendak’ ini dirusakkan dan bukannya dimusnahkan bila Adam berdosa. Kita masih lagi berupaya membuat pilihan.

Di sini terletaknya pilihan umat manusia yang terbesar: Untuk menerima atau menolak nafas Allah, yaitu Roh dan Firman Allah. Mereka yang memilih Isa Al masih adalah yang dicipta semula untuk kehidupan abadi.

Transaksi Kehidupan

Walaupun suatu masa dulu hanya seorang manusia, Adam, saja yang wujud, namun seluruh umat manusia diwakili olehnya. Begitu juga dengan Adam yang baru – ciptaan baru itu sudahpun wujud di dalamnya.

Begitu juga bila hukuman maut dijatuhkan kepada Adam, kita semua juga mati (walaupun kita belum lagi dilahirkan ke dalam dunia dan menjalani kehidupan). Maka di dalam kebangkitan Adam baru, Isa Al Masih – kita yang percaya akan dia dibangkitkan bersama-sama dengannya pada hari dia dibangkitan dari mati.


Untuk menerangkan perkara ini dengan lebih lanjut, mari kita pertimbangkan keadaan-keadaan hipotesis ini:

Jika pembaca boleh coba bayangkan bahwa dia berada di luar Adam di saat Adam dicoba oleh Syetan, dan ditanya, ‘percayakah anda di saat Adam memakan buah dari pohon larangan itu, dia akan mula mati?’, pembaca mungkin mempunyai kesangsian masakan begitu sekali hasilnya. Dan jika pembaca ditanya apakah dia percaya bahwa di saat Adam makan buah itu, dia akan mesegelkan takdir semua keturunannya, dan mereka juga akan mati seperti Adam?, pembaca akan mendapati yang ini lebih sukar untuk dipercayai. Tapi ini adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dipertikaikan lagi.

Jika sekiranya pembaca bisa bayangkan dia berada di sisi kayu salib Isa, dan ditanya, ‘Apakah anda percaya bahwa di saat Isa menghembus nafasnya yang terakhir, dalam ketaatannya kepada Allah, dia akan bangkit semula dari mati?’, pembaca pasti mendapati ini susah untuk dipercayai. Tapi kebangkitan ini adalah satu kenyataan. Jika pembaca juga ditanya apakah dia percaya di saat Isa menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam ketaatannya kepada Allah, dia akan menyegelkan nasib semua keturunannya, dan mereka juga akan dibangkitkan bersama nya?, pembaca pasti mendapati ini begitu sukar dipercayai. Tapi satu hari nanti ini akan menjadi satu kenyataan yang tidak dapat dipertikaikan.

Maka sama seprti di dalam Adam kita mati, bahkan sebelum kita dilahirkan, begitu juga dalam kebangkita Al Masih kita akan dibangkitkan bersamanya, walaupun sebelum kita mati. Dan sama seperti kematian Adam yang pertama ialah sesuatu yang pasti, tidak kira bagaimana manusia coba melambatkannya, beggitu juga dengan kehidupan dalam Adam kedua yang akan menjadi bagian kepada mereka yang percaya, walaupun jika tubuh mereka dibakar.

Kita dikutuk bersama Adam pertama walaupun sebelum kita melakukan satu perbuatan pribadi yang jahat, dan kita hidup di luar Hadirat Allah. Dalam cara yang sama, kita akan dibawa ke dalam Hadirat Allah dengan Adam kedua, walaupun sebelum kita melakukan suatu perbuatan yang baik. Perbuatan yang satu-satunya kita dapat lakukan ialah menyerahkan hidup kita kepada Isa Al Masih, Firman Allah itu dan meletakkan iman kita kepadanya.

Maka sama seperti kejahatan Adam pertama dikreditkan kepada keturunannya tanpa penglibatan mereka secara pribadi, begitu juga dengan kebenaran Adam kedua yang dikreditkan kepada keturunannya tanpa pencapaian spirituil atau kesalehan pribadi mereka. Sebagai akibatnya tidak ada ruang untuk manusia bercakap besar. Yang kaya tidak boleh bermegah bahwa pemberiaannya telah menyebabkan dia mendapat Kehidupan Kekal lebih daripada yang miskin, yang tidak dapat memberi, tetapi bisa bermegah.

Bantahan

Jika mereka yang percaya akan Isa Firman Allah itu, dibangkitkan di dalamnya karena dia sendiri bangkit dari mati, mengapa mereka juga mati seperti umat manusia yang lain? Mengapa mereka tidak pergi ke Firdaus sebagai ganti kematian?

Jika kita lihat Adam pertama kita bisa melihat pola yang sama berulang, dan satu soalan yang sama bisa ditanya. Ianya juga bisa ditanga: Jika mereka yang ada di dalam Adam berkongsi nasibnya, mengapa mereka tidak mati sejurus selepas dilahirkan, dan mengambil kesamaan penuhnya?

Kita lihat bahwa mereka yang berada di dalam Adam, masih tetap hidup karena perbuatan penciptaan yang lepas, walaupun Adam telah mati tetapi akhirnya mereka akan menyusul dia. Begitu jua mereka yang di dalam Isa akan mati, karena ketetapan kematian yang lepas, walaupun Isa sendiri hidup, tetapi akhirnya mereka akan menyusul dia.

Siapa Yang Bisa Menjadi Perantara?

Bagaimana kebenaran Adam kedua dikreditkan kepada keturunannya, yang tidak mempunyai apa-apa pencapaian spirituil atau kesalehan pribadi? Apakah mungkin bagi seorang manusia, (bahkan Manusia Sempurna itu) mengetengah mewakili yang lain?

Ada dua ayat dalam Al-Qur’an yang bila sekali pandang seolah-olah meniadakan segala kemungkinan ini:

…Sekarang cukuplah kamu bertanggungjawab atas nasib dirimu sendiri. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan petunjuk Allah, maka ia telah berbuat untuk dirinya sendiri… Seseorang tidak berwenang menanggung dosa yang lain.[40]

Seorang penanggung dosa tidak dapat menanggung dosa orang lain. Kalau ada seseorang yang berat dosanya minta tolong kepada orang lain agar supaya suka memikul dosanya, niscaya tidak akan dipikulkan kepadanya meskipun kerabatnya sendiri.[41]

Ayat-ayat ini sesungguhnya menolak bahwa beban dosa seseorang bisa ditanggung atau dipikul oleh orang lain yang sudahpun sarat dengan dosanya sendiri. Tapai ayat-ayat ini tidak mengatakan seorang yang tidak berdosa tidak bisa menanggung dan memikul beban orang lain, hanya tidak ada ‘jiwa yang sarat’ bisa menanggung dosa seorang lagi ‘berjiwa sarat’. Dalam arti kata lain, tidak ada orang yang berdosa boleh menanggung dosa seorang berdosa yang lain. Sebab itulah kebolehan untuk mengenegah atau menjadi perantaraan hanya disediakan bagi orang yang tak berdosa – yang tidak ada bebannya sendiri yang harus dia pikul.

Qartaby menggunkan illustrasi di bawah dalam komentarinya keatas ayat Al-Qur’an 35:18 (memetik Faidel Ibn ‘aiad):

Wanita itu akan bertemu dengan anak laki-lakinya dan berkata,: “Ya anakku: bukankah rahimku itu adalah bejana bagimu? Bukankah buah dadaku tempat engkau minum? Bukankah pangkuanku tempatmu beristirahat?”

Anaknya akan menjawab, “Benar, ibu.”

Dan dia akan berkata lagi, “Ya anakku, dosa-dosaku adalah begitu berat diatas bahuku. Pikullah untukku hanya satu daripada mereka.”

Anaknya akan menjawab, “Tinggalkan aku sendiri, ibu, karena aku terlalu sibuk dengan dosa-dosaku sendiri dan tidak mempunyai masa untukmu.”[42]

Petikan Hadis di atas menggambarkan kesulitan manusia. Maka kelayakan seorang perantara ialah dia haruslah bebas dari semua dosa. Tapi apa yang terjadi jika kita bisa mencari seseorang yang bebas dari dosa dan dia sanggup menanggung dosa orang lain? Orang seperti ini akan dengan serta-merta menjadi seorang ‘jiwa termuat’ karena dia menaggung dosa orang lain. Tidak ada manusia biasa yang bisa melakukan ini. Hanya Isa Firman Allah saja yang disediakan oleh Allah untuk memenuhi kemauan manusia ini.

Ayat-ayat dalam Al-Qur’an adalah benar bagi semua manusia – kecuali Isa Al Masih.

Kita sudah melihat dalam bagian-bagain yang terawal bahwa semua manusia, petani ataupun nabi, telah berdosa. Hanya Isa, Firman Allah itu sajalah yang bebas dari dosa. Al-Qur’an 3:45 menyatakan:

Hai Maryam! Sesungguhnya Tuhan menyampaikan berita gembira dengan sebuah Karya Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah.

Kata Arab yang diterjemah sebagai ‘orang terhormat’ ialah wajihan. Mengenai kata ini mufassirin mengatakan:

Wagaha berarti nubuatan di dalam hidup ini dan hak perantaraan di dunia yang akan datang.[43] (Baidawi)

Wagihan berarti seorang manusia yang bermartabat dan berkedudukan tinggi karena nubuatan untuk hidup kini dan perantaan serta kedudukan tinggi di dunia mendatang. [44] (Galalan)

Isa diperbedakan (wajih) dalam kehidupan dunia ini, karena permohonannya dikabulkan. Ia bisa menghidupkan orang yang mati dan menyembuhkan yang buta dan kusta dengan doa-doanya. Ia besar atau megah (wajih) di kehidupan akhirat karena Allah membuatnya bisa membela dan menyelamatkan umatnya yang benar dan Allah menerima segala doa syafatnya bagi mereka[45]. (Razi)

Ada orang yang akan bertanya “Apakah bukti yang ada untuk membuktikan bahwa Isa, Firman Allah itu, tidak akan menjadi seorang ‘muatan jiwa’ bila dia memperantarakan manusia berdosa?”

Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa Isa sudahpun ‘termuat’ dengan dosa seluruh dunia ketika dia berada di kayu salib, walaupun dia menjalani satu kehidupan yang sempurna. Dia mati sebagai seorang yang menanggung dosa umat manusia, dan bangkit tanpa satu dosapun. Bukti bahwa Isa tidak sebagai ‘jiwa termuat’ diberi pertama sekali oleh Allah sendiri bila Dia membangkitkannya dari mati, dan bukti kedua ialah dia sekarang berada di sisi Allah. Karena jika dia masih lagi seorang ‘jiwa termuat’ dia masih lagi berada di dalam kubur. Jika dia ialah seorang ‘jiwa termuat’ dia akan tenggelam dalam kematian seperti semua manusia yang lainnya. Jika dia seorang ‘jiwa termuat’ dia tidak akan berada di dalam hadirat Allah. Kenyataan bahwa dia sekarang ada bersama Allah, ialah bukti terakhir bahwa dia layak menjadi perantara bagi manusia-manusia yang berdosa.

Dia yang mempunyai hutang dengan sebuah bank tidak bisa menjadi penjamin bagi seseorang yang berhutang. Begitu juga denga seorang ‘jiwa termuat’ tidak bisa menjadi perantara bagi seseorang yang ‘jiwanya termuat’. Firman Allah Isa menebus segala beban hutang-hutang kita, hutang-hutang bagi seluruh dunia, dengan memberikan hidupnya dalam ketaatan yang penuh kepada Allah sehinggalah ke hembusan nafasnya yang terakhir.

Perantaraan dibutuhkan sekarang bukannya di hari kemudian. Hari Akhirat dipanggil sebagai Hari Penghakiman bukan hari perantaraan. Untuk masa kinilah manusia perlu disatukan semula dengan Allah dan bukannya pada Hari Akhirat. Pada hari itu manusia akan sibuk dengan ‘tanggungan dosa mereka sendiri dan tidak akan ada masa untuk orang lain’[46] seperti yang dinyatakan oleh Hadis.

Masa sekarang inilah anda dan saya butuhkan perantaraan Isa Al Masih, Firman Allah itu.

Bantahan tentang Keturunan Adam

Ada yang akan membantah bahwa ajaran tentang keturunan Adam mewarisi semua sifat-sifat berdosanya, sebagai satu yang tidak realistis dan tidak adil. Bagaimana Allah yang Maha Adil mengizinkan manusia yang tidak bersalah menderita untuk satu dosa yang dia tidak lakukan? Atau keturunan-keturunan Adam menjadi orang-orang berdosa secara otomatis karena keingkaran Adam, mengapa Allah harus menghakimi mereka untuk satu dosa yang tidak mereka lakukan? Itu tidak adil. Begitulah banthan yang kita mungkin dengar.

Sebagai jawabannya, mari kita melihat beberapa kenyataan hidup ini yang tidak bisa dipertikaikan. Bayangkan seorang ayah yang merupakan penagih nakoba dan berkongsi jarum dengan seseorang yang merupakan pembawa kuman AIDS. Ada kemungkinan anak yang dilahirkan juga dijangkiti penyakit ini. Atau bayangkan seorang ibu yang penagih heroin. Ada kemungkinan besar anak yang dikandung juga menjadi ketagihan heroin walaupun bayi itu tidak secara sukarela mengambil nakoba itu. Ada yang mengatakan adalah tidak adil anak yang dilahirkan itu dijangkit penyakit begitu karena dia tidak bertanggung-jawab akan perkara sedemikian.

Kita bisa melihata bahwa kenyataan-kenyataan hidup mengatakan ianya satu kemungkinan bagi seorang anak yang tidak berdosa bisa dijangkiti dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, walaupun dia sendiri tidak bertanggung-jawab atas penderitaan yang menimpa itu.

Apakah Allah mencipta satu dunia yang zalim? Jika kita lihat dengan lebih teliti untuk segala sebab-musabab ketidak-adilan ini, kita akan lebih menghayati kesulitan manusia dengan lebih baik.

Ambil contoh ibu yang menagih heroin tadi. Sebab kenaap anaknya menderita ialah karena saluran darah yang membawa makanan kepada bayi dalam kandungan itu juga membawa bersamanya heroin tadi. Saluran darah tidak membedakan antara makanan yang baik ataupun yang berbahaya. Saluran darah itu tidak mempunyai pilihan. Pilihan telah dibuat oleh si ibu. Jadi ketika ada yang mengatakan ‘bahwa adalah tidak adil bagi anak yang dilahirkan itu sudah dijangkiti karena dia tidak bertanggung-jawab atas penderitaan itu’, ini adalah sebenarnya akibat yang natural dan pantas, karena ianya adalah satu hasil dari perintah-perintah baik dan adil yang Allah telah tahbiskan.

Satu saja jalan bagi bayi itu tidak dipengaruhi oleh pilihan ibunya ialah jika dia diciptakan secara bebas dari ibunya. Ianya adalah Allah terpaksa mencipta bayi itu seperti Dia mencipta Adam. Dan jika setiap bayi dilahirkan bebas dari pilihan orang tuanya, maka Allah akan mencipta setiap orang di dunia ini sama seperti cara Dia mencipta Adam. Tapi Allah memilih untuk mencipta setiap orang di dalam seorang manusia, Adam, bukannya bebas dari Adam.

 

Atau bayangkan situasi dalam satu bank darah, di mana semua darah-darah yang bagus dicemari oleh satu penderma darah yang berpenyakit. Semua darah dalam bank itu menjadi tercemar. Jika darah yang bagus itu mempunyai lidah, ia pasti akan mengatakan ‘ini tidak adil’, tapi apa akibatnya adalah lebih parah bukanlah darah itu dikutuk, tapi kehidupan orang-orang yang menerima darah itu. Ianya tidak adil untuk memberi darah tercemar itu kepada seseorang. Begitu juga apa yang lebih parah daripada umat manusia, ialah syurga sendiri dan kemuliaan Allah. Karena jika Allah membenarkan manusia yang dijangkiti dosa masuk ke dalam syurga-Nya, ia akan bertukar menjadi neraka. Lihatlah ada akibat daripada dosa seorang manusia. Tuntutan Allah untuk satu kesempurnaan yang mutlak bisa dilihat dalam ciptaan Allah, yang diperkuatkan dengan bukti kenyataan perubatan: Jika tubuh seorang manusia dijangkiti, untuk memenangi tubuh itu semula, kita perlu membunuh seratus persen kuman-kuman yang menyerang itu. Jika tidak, jika ada hanya satu kuman yang terselamat, sejuta ‘anak-anaknya’ bisa dihasilkan dalam tempoh masa hanya delapan jam. [47]

 

Jadi umat manusia adalah berdosa pada sifat dasarnya karena Adam, juga berdosa karena pilihan, yakni yang dibuat oleh manusia secara dalam keingkaran baru mereka. Umat manusia tetap dicipta dengan kebolehan untuk membedakan apa yang baik dan yang buruk, kebolehan untuk mengikuti Allah atau mengingkari-Nya. Jika mereka memilih untuk mengingkari, maka mereka akan dipertanggung-jawabkan. Tapi syukur kepada Allah karena dengan Adam yang baru, Isa Firman Allah itu, yang membawa satu sifat dasar baru kepada umat manusia, dan satu harapan baru untuk hidup ketaatan yang memuliakan Allah.


PENGAJARAN-PENGAJARAN DARI ALLAH

Mayoritas manusia tidak sadar akan perbedaan antara dua makhluk, dan sememangnya di dalam mata mereka tidak ada perbedaan langsung. Namun perbedaan itu adalah diibaratkan sebagai antara mati dan hidup. Anda bisa memiliki dua biji telur, satu yang subur dan satu lagi tidak. Mereka kelihatan serupa saja dari segi bentuk, saiz dan warna, tapi ada satu perbedaan yang tidak bisa dilihat didalamnya. Dan satu hari nanti perbedaan kcil itu akan menjadi perbedaan bagi segalanya. Karena bila kedua telur tadi diaramkan, satu akan menetas menjadi satu makhluk yang baru dan satu lagi menjadi telur busuk yang hanya layak dibuang ke dalam timbunan sampah.

Mereka yang menyerahkan diri kepada Firman Allah untuk dicipta semula adalah mereka yang mengaku keadaan mereka yang korup dan percaya kuasa penciptaan Allah melalui Firman Kekal-Nya, Isa Al Masih. Mereka yang menolak perintah Allah untuk penciptaan semula adalah yang mengatakan satu daripada dua perkara: Samada mereka menyangkal bahwa tidak ada kesalahan dalam diri mereka, atau mereka mengatakan mereka bisa memperbaiki keadaan mereka sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi seperti yang kita sudah perhatikan, kesulitan manusia perlukan satu aksi penciptaan, yakni satu campur tangan ilahi, bukannya satu aksi pembaikan oleh manusia.

Ajaran-ajaran Allah Perkuatkan Ciptaan Baru Itu

Dalam rahmat-Nya keatas umat manusia, Allah berterusan menyediakan bukti-bukti kewujudan-Nya, kebesaran-Nya dan rencana penyelamatan-Nya. Karena kepentingan rencana penyelamatan-Nya, Allah memberikan kepada umat manusia ajaran-ajaran-Nya dalam kehidupan seharian agar mereka bisa mengerti kehendak-Nya.

Suatu Pelajaran dari Peraturan Pemakanan


Tindakan
Allah dalam menyempurnakan penciptaan semula melalui Isa, Firman Allah itu, adalah sememangnya cocok dengan ajaran Allah. Coba kita lihat dengan peraturan pemakanan daging.

Meminum dan memakan darah binatang adalah dilarang keras. Prinsipal ini diperlakukan dengan pelbagai peraturan memakan bermacam-macam jenis daging yang dibenarkan (halal) dan yang tidak dibenarkan (haram). Contohnya memakan daging binatang yang mati adalah dikira sebagai haram. [48] Binatang-binatang yang dagingnya akan dimakan mestilah disembelih dalam satu cara yang tertentu supaya semua darah dikeluarkan dari badan binatang itu. Kerongkongannya harus disembelih, dan bukan lehernya. Karena badan itu masih bercantum dengan kepala, susunan saraf akan masih berfungsi, dan bersamanya semua deria kesakitan masih terasa. Dengan ini ianya akan memastikan kejangan yang maksimum binatang tersebut yang akan menyebabkan semua darah dikeluarkan.

Dalam agama Islam dan Yahudi, binatang yang bukan disembelih dengan cara begini – termasuklah yang dicekek, mati tenggelam atau diserang oleh binatang lain – tidak harus dimakan. Begitu juga dengan daging babi tidak kira bagaimana ia disembelih. Semua daging jenis begini adalah haram.

Kita tahu bahwa daging seekor babi, walaupun darahnya semua dikeluarkan dengan cara yang betul, adalah tetap dianggap haram.

Berkurun yang lalu, Allah memerintah bani Israil agar jangan memakan binatang yang dibunuh bukan dengan cara yang ditetapkan atau meminum darah binatang. Hari ini, kedua orang-orang Muslim dan Yahudi tahu bahwa binatang yang dibunuh, misalnya dilanggar oleh mobil, adalah haram. Begitu juga dengan memakan daging babi, yang diharamkan oleh agama.

Mengapa Allah melarang manusia untuk memakan binatang mati, atau yang mati tenggelam, atau yang dibunuh oleh binatang lain? Daging binatang yang dilanggar dua jam yang sudah adalah lebih segar dari binatang yang disembelih tiga hari dulu, namun Allah menetapkan yang dilanggar itu adalah haram sedangkan yang disembelih itu adalah halal. Apakah perbedaannya?

Jawabannya adalah darah binatang yang terbunuh dalam kecelakaan itu atau yang mati tenggelam itu tidak dicurahkan semuanya.

Tapi mengapa Allah harus memberi peraturan sedemikian? Jutaan manusia memakan daging yang tidak disembelih dengan cara yang betul dan mereka tetap mempunyai kesihatan yang bagus. Ada di antara mereka yang merupakan pemenang medal emas Olahraga Olimpia, pemenang Hadiah Nobel dan sebagainya. Apakah kebijaksanaan Ilahi di sebalik peraturan ini jika ianya ada kaitan dengan kesihatan atau pemikiran orang yang memakannya? Dan apa perbedaan antara mereka yang memakan daging haram dan yang memakan daging halal?

Sedangkan memakan hati yang mengandungi paling banyak darah adalah dibenarkan. Jadi apakah sebenarnya kebijaksanaan dan signifikan melarang pemakanan daging binatang yang mempunyai darah?

Darah binatang mewakili kehidupannya, dan bila satu binatang itu mati dia masih menyimpan darah dalam badannya. Untuk menjadikan daging itu halal, darah harus dikeluarkan. Dalam arti kata yang lain, pencurahan kesemua darah itu melambangkan pencurahan bagi seluruh kehidupan tersebut. Seekor binatang yang mengalami pendarahan sampai mati karena terluka pada kakinya tidak dianggap sebagai halal karena ia masih menyimpan darah dalam badannya. Tapi seekor binatang yang berdarah di kerongkongannya mengeluarkan semua darah dari badannya.

Ada satu rahasia besar dan pelajaran yang besar bagi kita dalam peraturan-peraturan ini. Allah dalam pemberian ajaran-Nya memberi kita satu pengajaran tentang kebenaran-kebenaran yang tertinggi. Seekor binatang yang menahan semua darahnya melambangkan kehidupan yangg ditahan dari tercurah kepada Allah. Kehidupan begini dianggap haram. Binatang yang menahan sebagian dari darahnya melambangkan hidup yang diserahkan kepada Allah tetapi tidak secara keseluruhan. Hidup ini masih dianggap haram, karena Allah adalah pemberi kesemuanya dan kepada-Nyalah semuanya harus dicurahkan. Jiwa yang memberi hanya sebagian kepada Allah tidak mengaku Dia sebagai sumber segalanya dan pemberi semuanya. Dan jika Dia tidak diperakui sebagai Tuhan bagi segalanya, maka orang itu tidak menganggap-Nya sebagai Tuhan langsung. Jadi hidup yang diberikan hanya sebagian kepada Allah adalah haram karena kehidupan masih lagi ditahan daripada menyerahkan seluruhnya kepada Allah.

Perhatikan bahwa Allah tidak saja persamakan mana yang berdarah sebagian saja sampai mati dengan yang mati, Dia juga persamakan bahwa yang berdarah sebagian itu dengan seekor babi. Kedua-duannya dianggap haram. Mengapa begitu? Karena tidak ada perbedaan antara keingkaran yang kecil dan yang besar di depan Allah. Buka besarnya sesuatu perbuatan yang dianggap sebagai kriminal tapi pengertian si pelaku yang membuat kriminal itu besar. Dan karena Allah Maha Besar, Dia adalah wewenang yang terbesar, kesalahan yang terkecil sekalipun yang melanggar wewenangnya juga akan dianggap besar.

Jadi pencurahan darah itulah yang membuata daging itu halal. Ini bersesuaian dengan prinsip bahwa hanya kehidupan yang telah dicurahkan kepada Allah dengan sepenuh ketaatan sempurna yang dianggap sebagai halal. Ini menuju kepada pencurahan kehidupan Isa di kayu salib dalam ketaatan kepada Allah hingga ke hembusan terakhir. Dia adalah satu-satunya hidup yang halal. Dia adalah Daging Kehidupan – daging kepada hati dan roh yang membawa kepada Kehidupan Kekal.

Daging bagi kehidupan sementara mestilah halal sebelum dimakan dan daging Kehidupan Kekal juga mestilah halal sebelum ianya dimakan. Dan itulah apa yang kita dapati. Allah sendiri telah mengesahkan bahwa seleuruh kehidupan Isa adalah halal dengan membangkitkan dia dari mati.

Adalah mustahil bagi manusia untuk menjadi sempurna walaupun hanya sebagian dari hidupnya, tapi Al Masih itu adalah sempurna sepanjang masa. Tidak ada seorangpun yang sempurna walaupun barang sejam, tapi Al Masih itu sempurna dalam semua hari-harinya di dunia. Kesempurnaannya bukan diukur dari ketidak-hadiran dosa (dan sesungguhnya dia tidak berdosa), tapi ketaatan penuhnya yang positif kepada Allah yang menyenangkan Allah.

Kebangkitan Al Masih dari mati ialah suatu petanda dari Allah ke atas Isa bahwa kehidupannya itu halal. Kehadirannya di sisi Allah sekarang ialah satu bukti dari Allah bahwa dia adalah halal Allah dan kekasih Allah. Kesempurnaan yang Isa tunjukkan adalah kualitas yang sama yang dimiliki Allah; sebab itulah dia ada bersama Allah. Akan ada hari penghargaan bagi setiap pria dan wanita, di mana mereka akan berdiri di depan Allah untuk segala yang telah mereka lakukan. Ini ialah Hari Kiamat. Tapi bagi Isa tidak ada hari penghargaan. Dia sudahpun ada bersama Allah, menatapi wajah-Nya. Apakah ada bukti bahwa dia merupakan satu-satunya kekasih Allah? Kubur tidak bisa menampungnya karena dia adalah kekasih Allah. Allah menerimanya kepada Diri-Nya karena sememangnya dia berada bersama Allah sejak awal lagi.

 

Tidak heranlah Isa dipanggil sebagai Firman Allah dan Roh Allah. Keseluruhan hidupnya adalah halal, dari saat dia dikandung hinggalah ke saat di mana darahnya yang terakhir dicurahkan di kayu salib. Tidak ada kehidupan yang sesempurna itu untuk dipersembahkan kepada Allah. Setiap manusia telah mengingkari Allah pada satu titik dalam hidup mereka lantas menahan sebagian dari hidup mereka. Sesiapa yang menahan sebagian dari hidupnya adalah sama dengan mereka yang menahan seluruh hidup mereka, dan ini disamakan dengan daging seekor binatang mati, atau mati tenggelam, yang dianggap sebagai haram. Hanya satu hidup saja yang layak untuk menjadi daging Kehidupan Kekal, Dia adalah halal dari Allah di mana hati-hati akan dibebaskan untuk hidup. Dia adalah Roh Allah yang membawa kehidupan kepada roh-roh kita. Dia adalah Firman Allah yang menyingkapkan Allah kepada kita.

 

Logik Allah adalah di atas segala logik yang lain. Ianya tidak bisa ditantang atau dicabut. Ia adalah muktamat. Jika Allah telah membuktikan bahwa kehidupan Isa Al Masih adalah keseluruhannya halal dengan membangkitkan dia dari mati, dan mengangkat dia ke sisi Allah untuk bersama dengan-Nya, bagaimana kita dapat menolaknya?

Isa adalah Halal Allah Selamanya

Biar saya gambarkan dengan satu anekdot. Semasa bersama-sama dengan sekumpulan teman, saya telah membeli sesuatu barang. Tapi bila saya mau menggunakan barang itu suatu ketika nanti, saya dapati ianya telah hilang. Sudah puas dicari di seluruh rumah namun ianya tidak juga dijumpai. Jadi saya putuskan untuk melupakan saja untuk mencarinya.

Tapi aneh sekali, bila saya pergi ke kota dengan tujuan yang lain, saya dapati barang yang saya mau itu ada di sana. Bila saya membawanya pulang, salah seorang teman saya menjerit, “Halal! Halal!” Apa yang dia maksudkan ialah barang saya itu didapati dengan cara yang halal. Ianya bukan dicuri atau dibeli dengan cara penawaran yang tidak adil. Walaupun saya kehilangannya, tapi saya dapatinya semula karena ianya didapati dengan cara yang halal.

Kehidupan Isa Al Masih di bumi adalah halal. Pengakuannya bahwa dia adalah Firman Allah yang Kekal adalah halal. Tuntutannya bahwa dia datang dari Allah adalah halal. Dia kehilangan kehidupannya (sama seperti saya kehilangan barang saya) dan mati, tapi Allah membangkitkannya semula agar kita semua bisa menyahut, sama seperti teman saya, “Halal! Halal!”

Tidak kira apa yang manusia buat dengan kebenaran itu ianya tetap tinggal sebagai kebenaran, tetap dengan kemenangannya. Tidak kira bagaimana kuatnya manusia menghentam kebenaran, Allah akan mempertahankannya, dan mengumumkan bahwa ianya adalah satu kebenaran.

Hari ini Isa tetap hidup dan ada bersama dengan Allah, mengatasi semua kekafiran dan maut. Dengan membangkitkannya dari maut, Allah bersaksi bahwa Isa adalah satu-satunya halal yang melaluinya kita bisa mendapat kehidupan kekal.

Sunna Ibrahim

Satu lagi pelajaran yang kita bisa dapati ialah peristiwa Ibrahim mempersembahkan anaknya untuk dijadikan korban. Al-Qur’an menyatakan:

Syahdan, manakala anak itu mencapai usia sanggup berdiri sendiri dalam usaha, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku menyembelihmu. Maka renungkanlah bagaimana pendapatmu’. Ia menjawab: ‘Ya ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku seorang yang sabar menghadapinya.’ Tatkala keduanya sama-sama berserah diri, dan Ibrahim menelungkupkan anaknya … serta-merta dia Kami panggil: “Hai Ibrahim! Sesungguhnya telah engkau penuhi tuntutan mimpi itu. Sesungguhnya ini satu ujian yang besar. Dan kami tebusi anak itu dengan binatang korban yang lebih besar.”[49]

Ibrahim meminta seorang anak dan Allah menjanjikan seorang yang bijaksana baginya. Kemudian Allah menyatakan kepada Ibrahim melalui mimpi bahwa dia harus mempersembahkan anaknya sebagai satu korban. Bila Ibrahim mau menyembelihnya, Allah menghentikannya dan menyediakan satu tebusan untuk anak itu.

Dalam peristiwa ini, kita dapatmelihat satu lagi pelajaran mengenai kematian Isa dalam bentuk alegoris. Perhatikan yang berikut dalam peristiwa Ibrahim mempersembahkan anaknya:

1. Anak perjanjian itu yang akan dikorbankan. Ini tertuju kepada Isa, Firman Allah. Dia dijanjikan oleh Allah dalam semua tulisan para nabi sebelumnya.

2. Anak Ibrahim tidak dikorbankan, maka Allah mengistiharkan bahwa bukan dia yang akan dipersembahkan sebagai satu korban tapi korban itu akan jatuh kepada satu Pengganti yang lain.

3. Jika apa yang Allah kehendaki ialah untuk menguji ketaatan Ibrahim, maka kesanggupan Ibrahim sepenuhnya untuk menyembelihkan anaknya sudah mencukupi. Jika Ibrahim terlambat diberhentikan semasa mau menyembelih kerongkongan anaknya, maka tidak akan ada keperluan untuk satu tebusan. Kenyataan bahwa Allah masih menyediakan satu tebusan berarti ketaatan manusia saja tidak cukup. Ini adalah sejajar dengan perbincangan kita tentang kenyataan bahwa pertobatan, pengampunan dan percobaan manusia tidak cukup untuk mengembalikan manusia ke keadaan asalnya; satu korban dibutuhkan. Isa, Firman Allah itulah yang telah datang sebagai korban tersebut.

4. Allah dan bukannya Ibrahim, yang menyediakan korban gantian kepada anak Ibrahim. Allah bisa saja memerintah Ibrahim mempersembahkan seekor domba atau kibas, tapi sebaliknya Allah menyediakan korban itu. Ini menunjukkan kepada kenyataan bahwa tebusan untuk manusia sudah disediakan oleh Allah. Sesungguhnya, Isa datang dari Allah untuk menjadi tebusan bagi kita semua.

5. Akhir sekali, ianya adalah seorang anak laki-laki yang diminta dari Ibrahim. Maka Allah membayangkan bahwa yang akan menjadi tebusan bagi umat manusia ialah seorang anak laki-laki, bukan malaikat atau apa saja makhluk yang lain. Ia adalah Anak Allah yang akan dijadikan tebusan untuk umat manusia. Kami berharap para pembaca sudah membaca Bagian Ketiga dari siri buku ini di bawah tajuk Apa Yang Dimaksudkan Dengan ‘Anak Allah’ dan Kiasan-kiasan tentang ‘Anak Allah’ untuk mendapatkan penjelasan tentang gelar Anak Allah itu.

Tapi untuk kebaikan kita bersama terutama yang belum membaca Bagian Ketiga, kita ulangi apa yang telah diperkatakan:

Orang-orang Nasrani, sama seperti orang-orang Islam, memanggil Isa Al Masih sebagai Firman Allah, tapi mereka juga memanggilnya sebagai ‘Anak Allah’. Terdapat begitu banyak kesalah-pahaman mengenai gelar tersebut, karena ada setengah memikirkannya sebagai satu istilah dalam aktiviti seksual. Sekali-kali tidak!

Teks-teks Al-Qur’an menyatakan bahwa Al-Qur’an mengutuk hanya konsep fisikal dan seksual keputeraan dan bukannya konsep spirituilnya.

Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi. Bagaimana Dia akan mempunyai anak, padahal Dia tidak beristeri? Dia menciptakan segala-galanya dan Dia mengetahui segala-galanya.[50]

Bahwasanya, Maha Tinggi Kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak pula beranak.[51]

Penyangkalan dan penolakan apa saja dugaan Allah mempunyai seorang anak adalah berdasarkan kepada Allah tidak mungkin mempunyai seorang isteri. Namun di sebalik ketidak-mungkinan itu, Nabi Muhammad bisa membuat ungkapan luar biasa dan bersyarat berikut dengan selamat:

Katakanlah!: ‘Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula menta’ati anak itu.[52]

Bagi Allah mempunyai seorang anak dengan mengambil seorang isteri dalam kelakuan biasa manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dipikirkan. Tapi kemungkinan bagi Allah mengambil dan memilih seorang putera dilihat sebagai sesuatu yang mungkin dan tidak memberengut menurut Al-Qur’an itu sendiri:

Seandainya Allah berkenan mengambil anak, tentu Dia memilih mana yang dikehendakiNya di antara ciptaan-ciptaan yang pernah diciptakanNya. Tapi … Maha Suci Allah, dari hal yang serupa itu. Dialah Allah Yang Maha Esa dan Perkasa.[53]

Jadi sekiranya konsep bahwa Allah bisa mempunyai seorang anak melaui pengambilan seorang isteri dapat dihilangkan, maka Al-Qur’an menyetujui dan mengakui kemungkinan Allah bisa mempunyai seorang anak melalui pengambilan salah satu daripada ciptaan-Nya. Al-Qur’an justru tidak menolak konsep seorang anak Allah, tapi menentang keras konsep Allah mendapat seorang anak melalui pengambilan seorang isteri.

Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa Ibn ‘Arabi tidak keberatan menggunakan satu ungkapan tentang Isa serupa dengan ‘Anak Allah’. Tirimizi, dalam bukunya yang berjudul Kitab Khatm Al-Awliya, menjawab persoalan: ‘Siapakah dia yang layak menjadi segel kesalehan, seperti Muhammad yang layak menjadi segel kenabian?’ Dipetik dari Al-Gawab Al-Mostaqim[54], dia memberi jawaban Ibn ‘Arabi:

Dia yang menerima segel itu, ialah seorang manusia yang kelihatan sama seperti ayah-Nya. Dia bukannya berbangsa Arab, berwatak tenang, dia adalah pilihan terbaik dari kalangan manusia. Melaluinya putaran kerajaan ditutupi, dan melaluinya putaran kesalehan akan ditutupi. Dia mempunyai seorang pendeta yang bernama Yahya. Segel universal ini adalah satu keistimewaan spirituil dan penglihatan secara kemanusiaan.[55] (penekanan ditambah oleh pengarang)

Dalam Al-Fotuhat Al-Makkiah, sebuah lagi buku karangan Ibn ‘Arabi, kita diberi satu lagi keterangan jawaban ini: [56]

Ada dua segel – satu segel di mana Allah menutup kesalehan universal, dan satu lagi segel di mana Allah menutup kesalehan orang-orang Muslim. Segel kesalehan dalam arti kata yang mutlak, ialah Isa Al Masih. Dia ialah orang saleh dari kenabian mutlak di masa zaman bangsa ini … Dia akan datang di akhir zaman sebagai seorang waris dan segel, tidak ada orang saleh selapas dia … Dia ialah Isa Al Masih. Dia datang dari kalangan kita dan Dia adalah tuan kita!

Jadi perkara yang pertama adalah seorang nabi, iaitu Adam, dan yang terakhir ialah seorang nabi, iaitu Isa Al Masih.[57]

Orang yang dikatakan sebagai menyerupai ayahnya dalam Al-Gawab Al-Mostaqim dijelaskan dalam Al-Fotuhat Al-Makkiah sebagai Isa, tuan kita. Yahya berdiri sebagai seorang pendeta atau duta kepada Isa, iaitu segel bagi kerajaan itu. Jadi Isa adalah raja dan Yahya adalah dutanya. Hanya ada satu saja raja, bukan banyak, dan Dia adalah Isa Al Masih, karena itulah yang maksud kata Al Masih seperti yang kita telah lihat sebelum ini.

Apa yang penting kepada kita disini ialah dia yang melihatan menyerupai dengan ayahnya ialah Isa. Siapakah si ayah itu, karena Isa tidak mempunyai seorang ayah berbentuk manusia?

Dr. ‘Afifi menyediakan kita satu pengertian: ‘Jibril adalah seperti kepadanya seorang ayah, dan anak itu ialah satu rahasia ayahnya.’[58]

Mari kita mengkaji perungkapan tersebut:

Pertama, perhatikan perbedaan antara kata-kata yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi dan Dr. Abu al-‘Ala untuk menerangkan keputeraan Isa. Dr. Abu al-‘Ala keberatan untuk menganggap-asal satu perhubungan yang langsung, justru dia mengatakan Jibril adalah seperti seorang ayah (yakni ‘di dalam tempat seorang ayah’) kepada Isa. Ibn ‘Arabi, pada satu pihak yang lain, dengan terus-terang dan berani menyatakan Isa ‘kelihatan sama seperti ayahnya’, bukan ‘kelihatan seperti seorang yang kelihatan seperti ayahnya’.

Lantas, kita perlu ingat bahwa Jibril, seperti yang dipahami oleh Ibn ‘Arabi, bukanlah Malaikat Jibril. Dia ialah ‘Prinsipal Kehidupan di mana segalanya wujud… Kebenaran itu Sendiri yang dimanifestasikan dalam Roh yang total.’ [59] Jibril adalah satu lagi nama untuk Roh Suci. Dia bukan sesuatu makhluk, karena Dia melebihi dan di atas segala skop dan jarak perintah daya cipta Ilahi ‘Jadilah!’ (Kun). [60]

Jadi Roh Total itu, yang juga Prinsipal Kehidupan dan manifestasi Kebenaran itu, ialah ayah kepada Isa Al Masih. Isa ialah anak kepada Roh Total (yang dipanggil oleh Qashani sebagai suatu ‘roh sempurna’[61]). Dia ialah Anak kepada Roh Kehidupan karena dia memanifestasikan Prinsipal Kehidupan dalam banyak jalan yang berlainan, dan dalam Dirinya sendiri. Dia adalah anak kepada Roh Kebenaran karena ia memanifestasikan Nama Allah.[62]

Maka dalam ungkapan ‘dia kelihatan menyerupai ayahnya’, ayah itu bisa berarti Roh Total, yang merupakan manifastasi Allah. Tapi ia juga bisa berarti Allah secara langsung. Ibn ‘Arabi menyatakan:

Adalah layak untuk menganggap-asal Dia [Isa] satu perhubungan pertalian dari Tuhannya dimana dia mempunyai satu pengaruh yang mana satu tinggi dan yang mana satu rendah.[63]

Apakah sifat dasar ‘perhubungan pertalian’ antara Isa dan Allah? Ulasan-ulasan Qashani atas ungkapan di atas sebagai:

… ini bermaksud karena dia datang daripada Allah tanpa sebarang perantaraan, dan bukan datangnya dari sesiapapun, maka adalah layak untuk menganggap-asal kepadanya satu perhubungan pertalian yang akibat dari penjelmaan sifat-sifat Allah didalamnya, dan melakukan aksi-aksi pribadi Allah olehnya – membangkitkan otang yang mati dan mencipta burung, dan pengaruhnya dalam kelas bentuk manusia yang tertinggi dengan membangkitkannya, dan dengan aksi-aksi kelas yang paling rendah seperti membentuk burung dari tanah liat. Kedua-duanya [membangkit dan mencipta] adalah aksi-aksi esklusif Allah, seperti yang Allah berfirman dalam Al-Qur’an 36: 78, 79: ‘Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula. Ia bertanya: “Siapa pulakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur?” Jawablah: “Yang dapat menghidupkannya kembali, ialah Tuhan yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya. Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”[64]

Sifat dasar pertalian itu ialah dia datangnya langsung dari Allah. Inilah alasan paling kukuh tentang kesamaan itu. Ianya satu kesamaan dalam sifat dasar. Dan bukti adanya kesamaan dalam sifat dasar itu ialah kehadiran sifat-sifat Allah dan aksi-aksi pribadi dalam Isa.

Jadi ‘ayahnya’ juga bisa bermaksud Allah, karena, sama seperti apa yang dikatakan oleh Qashani, dia datang langsung dari Allah dan bukan dari Roh Total. Adalah lebih tepat menggunakan ungkapan ‘ayah dan anak’ dalam menerangkan pertalian antara Isa dan Allah daripada pertalian antara Isa dan Roh Total.

Ini mengungkap kembali ungkapan Ibn ‘Arabi, ‘satu roh dari Allah, dan bukan dari sumber lain’[65] Dia adalah satu roh dari allah, bukan satu roh dari Roh Allah. Pertaliannya dengan Allah adalah secara langsung. Ianya satu pertalian hubungan derajat pertama, tapi perhubungannya dengan Roh Allah adalah pertalian derajat kedua. Maka adalah lebih pantas untuk memanggilnya Anak Allah daripada Anak Roh Allah.

Kesimpulan ini cocok dengan kesimpulan di Bab 1, dimana kita melihat (dalam kata-kata Qashani[66] ) bahwa Isa ‘datang dari kodrat Wahadat Tertinggi penyajian terakhir Hadirat Ilahi itu’, dan karena itu ianyan dipanggil oleh Allah sebagai ‘Roh-Nya dan Firman-Nya’. Isa Firman Allah itu ‘adalah dari kodrat Allah dan sifat dasar-Nya yang tersembunyi datannya dari Allah dan Namanya yang berbentuk Jibril’.

Sebab itulah Isa dipanggil sebagai ‘Hamba Allah, dan pembuka rahasia Allah, dan diatasnya hadir sifat-sifat Allah’. Dan itulah sebab dan maksud panggilan ‘Anak Allah’ bagi Isa Al Masih.

Banyak yang dipanggil sebagai pesuruh-pesuruh Allah. Musa dipanggil sebagai orang yang berbicara langsung dengan Allah (kaleemu-Allah, Al-Qur’an 4:164). Ibrahim dipanggil sebagai sahabat Allah (Khaleelu-Allah, Al-Qur’an 4:125). Tapi berlainan dari mereka yang dipanggil pesuruh-pesuruh, Isa adalah perintah itu, karena dia adalah Firman Allah. Tidak seperti orang yang berbicara langsung dengan Allah, Isa adalah Firman dari Allah (Kalimatu-Allah, Al-Qur’an 4:45, 4:171). Tidak seperti orang yang dipanggil sebagai sahabat Allah, Isanadalah Roh Allah (Rohu-Allah, Al-Qur’an 4:171). Ungkapan ‘roh kepada’ menunjukkan intisari dan nadi kepada sesuatu benda, begitu juga dengan ungkapan ‘anak kepada’ yang menunjukkan satu perwakilan sebenar sesuatu dan perhubungan intim di antara kedua mereka. Gelar Roh Allah sama dengan gelar Anak Allah. Untuk Allah memanggil Isa sebagai Roh-Nya menunjukkan satu bentuk wahidah yang intim. Ianya adalah satu dan sama juga sebagai memanggil Isa Anak Allah.

Jadi Isa Al Masih Firman Allah itu adalah Anak yang dijanjikan untuk dipersembahkan sebagai suatu korban bagi dosa-dosa umat manusia.

Ibrahim semestinya begitu mengasihi Allah sehingga dia sanggup mengorbankan anaknya dalam menaati perintah Allah. Tapi kasih Ibrahim tidak mencukupi, satu korban agung harus dipersembahkan. Dan tawaran Allah tidak sama dengan tawaran manusia, karena kasih Allah tidak sama dengan kasih manusia. Memang benar bahwa Allah bisa mengasihi, tapi bukan dengan cara manusia dari tanah, jika tidak makhluk seperti Ibrahim pasti bisa mengasihi sedangkan Allah tidak. Adalah satu penghinaan untuk mengatakan makhluk bisa mengasihi dengan kasih yang sejati sedangkan Allah Pencipta tidak bisa mengasihi seperti itu.

Adalah mustahil bahwa kasih Ibrahim terhadap Allah lebih besar daripada kasih Allah terhadap umat manusia. Allah Maha Besar, tidak kira berapa zalim manusia itu. Ini berarti kasih Allah lebih besar daripada kezaliman manusia dan lebih agung dari sifat baik manusia. Kasih yang agung ini diperlihatkan bila Allah memberi Roh-Nya, dan Anak-Nya Isa Al Masih sebagai tebusan dan korban bagi umat manusia.

Kita bisa melihat satu lagi pelajaran dalam kehidupan Ibrahim. Ibrahim mahu melihat bagaimana Allah bisa membangkitkan orang mati. Menurut Al-Qur’an, Ibrahim berkata:

Dan ingat pulalah ketika Ibrahim berkata: ‘Wahai Tuhanku, bagaimana caranya Engkau menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati?’. Allah berfirman: “Apakah engkau masih belum percaya?” Ibrahim menjawab: ‘Bukan aku tidak percaya, tetapi demi ketenteraman jiwaku’. Allah berfirman: “Kalau begitu tangkaplah empat ekor burung lalu jinakkanlah sampai menurut perintahmu! Kemudian letakkanlah di tiap-tiap bukit, seekor! Sudah itu, panggilah! Nanti kesemuanya akan berdatangan kepadamu dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa dan Bijaksana.”[67]

Maka Allah yang menyuruh Ibrahim mempersembahkan anaknya juga memberi keyakinan kepada Ibrahim bahwa Dia bisa membangkitkan yang mati. Jika Ibrahim hidup panjang untuk mendengar kedatangan Isa, tuntutan Isa sebagai Anak Allah, kematiannnya di kayu salib dan kebangkitannya, Ibrahim pasti akan teringat akan pelajaran-pelajaran yang Allah berikan kepadanya, dan pasti dia akan menjadi orang yang pertama untuk percaya kepada Isa Al Masih. Tidak ada pelajaran yang praktikal seperti dalam mengajar seseorang. Apa yang Allah ajarkan kepada Ibrahim bukan hanya untuk Ibrahim seorang. Allah juga mengajar kita semua agar kita bisa mengenali dan percaya korban agung Allah bila Dia mempersembahkan Isa, dan kuasa agung Allah bila Dia membangkitkan Isa dari mati.

Suatu Pelajaran dari Berpuasa

Prinsipal-prinsipal yang Allah perlakukan dengan manusia adalah sentiasa sama, walaupun ada kemungkinan aplikasinya berbeda. Allah mengajar kita tentang prisipal-prinsipal-Nya dalam pelbagai cara. Pelajaran-pelajaran-Nya adalah yang hidup.

Sebagai contoh, prinsipal yang dalam setiap cara Allah menghendki satu kesempurnaan dari umat manusia. Ini bisa dilihat dari peraturan berpuasa. Ambil contoh dua orang dalam bulan Ramadan. Orang yang pertama berniat untuk berpuasa selama sebulan. Tujuannya adalah baik, tapi sepuluh menit sebelum masa berbuka puasa, dia tidak bisa menahannya lagi. Lidahnya sudah menjadi terlalu kering dan dia mengambil keputusan untuk meletak setitis air untuk membasahi lidahnya.

Orang yang kedua berniat tidak mau berpuasa. Sebaliknya dia berpesta dengan pelbagai juadah. Jika pembaca ditanya siapa di anatar mereka yang berpuasa? Jawabannya ialah tidak seorangpun berpuasa. Jika pembaca ditanya berapa jam orang yang pertama berpuasa? Jawabannya ialah kosong, dia tidak berpuasa. Ada yang akan mengatakan itu tidak adil. Tidak adil menyamakan seseorang yang cuba berpuasa sehari suntuk dan hampir berjaya dengan orang yang berpesta dengan makanan.

Mari kita mengandaikan lagi bahwa orang yang pertama itu mencuba lagi pada hari kedua. Namun di sepuluh menit terakhir sebelum berbuka puasa, dia meletakkan setitis air bagi membasahi lidahnya. Orang yang kedua tetap dengan pesta makanannya. Sekali lagi pembaca ditanya, siapa di antara mereka yang berpuas? Jawabannya, tidak seorangpun berpuasa.

Adakah sebarang kemungkinan bagi orang pertama tadi mengambil sepuluh menit di hari pertama untuk ditambah kepada hari kedua untuk menjadikannya satu hari berpuasa? Tidak, itu tidak mungkin. Bahkan di kedua-dua hari tersebut, tidak ada kemungkinan masa selama sepuluh menit dianggap sebagai dia berpuasa. Jika orang tersebut mencoba untuk sepanjang bulan tapi setipa hari dia mengambil setitis air pada sepuluh menit sebelum masa berbuka puasa, puasanya dianggap batal bagi seluruh bulan tersebut. Dia adalah sama dengan orang yang tidak berpuasa langsung dan memakan sepanjang hari.

Sesungguhnya jika orang tersebut coba untuk berpuasa sepangajng hayatnya dengan cara sedemikian, mengambil setitis air di saat sepuluh menit sebelum berbuka puasa, dia tidak akan dapat dikira sebagai berpuasa walaupun hanya sehari.

Jika semua umat manusia coba berpuasa dengan cara yang begitu, tidak akan dikira sehari walaupun milyaran orang berpuasa. Ianya adalah sama dengan orang kedua yang mengambil keputusan untuk tidak berpuasa langsung. Ini mungkin tidak adil tetapi itulah hukum Allah.

Mari kita membuat kesimpulan penelitian kita:

1. Setitis air membatalkan puasa sehari suntuk, walaupun masa untuk berbuka hanya semenit saja lagi.

2. Bila puasa dibatalkan selepas beberapa jam berpuasa, masa ini tidak boleh dicampurkan dengan hari yang berikutnya untuk menjadikannya satu hari. Sesungguhnya, walaupun seseorang itu cuba berpuasa selama setahun dengan cara memakan semenit sebelum masa berbuka, tidak akan dikira ianya berpuasa walaupun semenit.

3. Seseorang yang berpuasa untuk hampir dua belas jam, tapi di sepuluh menit terakhir dia mengambil setitis air, dia akan dapati bahwa segala jumlah jam dia berpuasa untuk hari itu tidak diambil kira walaupun semenit.

Pengajaran yang Allah mahu mengajar kita melalui berpuasa ialah penyangkalan diri dan memperkuatkan kehendak Allah dalam kehidupan orang yang beriman. Penyangkalan akan apa yang masuk ke dalam perut itu bukanlah tujuan utama amalan berpuasa. Sebaliknya pengajaran itu ialah penyangkalan apa yang menyenangkan diri, dan percobaan untuk menyenangkan Allah.

Maka tempoh berpuasa (lebih kurang dua belas jam) mewakili seluruh kehidupan seseorang manusia, dengan berapa saja bilangan tahun yang dia ada. Dan prinsipal berpuasa dari makanan itu sama dengan prinsipal bagaimana Allah perlakukan dengan kita dalam kehidupan kita. Akhli filsafat Ghazali juga memperhatikan perkara ini. Dia menyatakan:

Sama seperti jangka waktu sehari mewakili masa yang penuh untuk puasa, jangka hayat seorang manusia mewakili tempoh penuh iman seseorang itu … itulah sebab untuk menagis bagi mereka yang takut akan Allah…ukuran sebenar bagi pekerjaan keagamaan seseorang ialah penghabisannya.[68] (Penekanan ditambah)

Perhatikan bahwa puasa seseorang yang makan semenit sebelum tempoh berbuka adalah batal sama seperti seseorang yang berpuasa hanya setengah hari. Kedua-dua orang ini telah melanggari perintah untuk berpuasa sama seperti seseorang yang memakan-minum sepanjang hari. Sesungguhnya, ukuran sebenar pekerjaan keagamaan seseorang ialah penghabisannya.

Di sini kita lihat akan ketetapan hukum-hukum Allah. Seseorang yangmembatalkan puasanya dengan mengambil setitis air semenit sebelum masa berbuka sama seperti daging yang tidak halal karena darahnya hanya sembilan puluh sembilan persen dikeluarkan. Seseorang yang berpuasa setengah hari diibaratkan daging yang masih mengandungi lima puluh persen darah. Kedua-duanya adalah tidak memenuhi kehendak Allah. Dan seseorang yang tidak berpuasa langsung adalah seperti daging dari binatang yang mati tenggelam atau dilanggar mati – atau juga bisa diibaratkan sebagai daging babi. Allah menuntut kesempurnaan, karena Dia adalah sempurna, dan pekerjaan-Nya adalah sempurna.

Pengajaran di atas adalah sejajar dengan hukum-hukum yang Allah berikan kepada kita untuk mengawal kehidupan kita. Bayangkan kesan setitis darah yang tercemar jika dicampur dengan seliter darah yang baik. Bayangkan juga kesan seliter darah yang tercemar ke atas bergalon-galon darah yang baik. Tidak ada perbedaannya. Dalam kedua-dua kasus kesemua darah akan tercemar. Satu titis sama buruknya dengan satu liter darah yang tercemar.

Secara spirituilnya, semua kita telah membatalkan puasa kita. Kita semua telah meletakkan lebih dari setitis air ke atas lidah kita, (saya tidak bermaksud lidah fisikal kit, tetapi lidah spirituil) dan merosakkan puasa kehidupan kita. Kita semua telah menurut dan melayani nafsu kita daripada menyenagkan Allah dan melakukan kehendak-Nya. Apa yang kita bisa lakukan? Kita tau bahwa seseorang dibatalkan puasanya karena memakan sebelum waktu berbuka, dan tidak boleh meminjam waktu dari seseorang yang lain yang juga membatalkan puasanya sebelum waktu berbuka. Kedua mereka adalah jiwa termuat. Keduanya telah melanggari tuntutan kesempurnaan Allah. Kita juga tahu bahwa puasa spirituil bagi semua umat manusia tidak akan memberi apa-apa.

Hanya ada seorang saja yang menyempurnakan puasanya, dan dia kini berpesta di dalam Hadirat Allah. Intisari dari perbuatan Adam memakan buah larangan ialah untuk memenuhi nafsunya; dia mahu melakukan kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah. Sebaliknya, kehidupan Isa adalah satu puasa spirituil yang sempurna – satu ketaatan kepada kehendak Allah yang sempurna – dana maka itu merupakan satu pembalikan kepada keingkaran Adam. Dia adalah satu-satunya yang pekerjaannya diuji sampai ke saat penghabisan, dan didapati menyenangkan Allah. Daripada kesemua puasa spirituil umat manusia, tidak seharipun yang bisa diselamatkan, bahkan tidak juga untuk semenit. Isa adalah satu-satunya yang puasa spirituilnya adalah penuh dan diterima oleh Allah. Puasanya bukan diukur dengan tahun-tahun yang dia jalani di kehidupannya di dunia, tetapi dengan tempat yang Allah berikan kepadanya. Puasanya begitu sempurna sehingga dia memperolehi hadirat Allah. Isa adalah satu-satunya yang masanya Allah benarkan untuk dikira bagi kita, karena dia sekarang hidup di dalam Hadirat Allah, dan satu menit hidupnya di Hadirat Allah sudah mencukupi untuk semua umat manusia. Mencukupi untuk menggenapi segala kekurangan dalam puasa spirituil kita. Mencukupi untuk menggenapi segala kekurangan dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Dia adalah kekayaan Allah kepada kita yang jiwa termuat.

Jadi samada kita makan daging atau berpuasa, pelajaran-pelajaran Allah mengingatkan kita bahwa kita perlukan Firman-Nya, Isa Al Masih; untuk hidup bagi-Nya.

Amal-amal Soleh Tidak Akan Bekerja

Amal keagamaan kita yang terbaik tidak membolehkan kita diterima oleh Allah. Adalah satu kenyataan bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk menebus kegagalan kita untuk hidup dengan penuh ketaatan kepada Allah. Kita telah melihat pekerjaan Adam untuk menutupi dirinya agar diterima oleh Allah namun dia gagal. Kita juga telah melihat dari kehidupan Ibrahim bahwa kendatipun ketaatan dan kesanggupannya mempersembahkan anaknya, satu korban lain masih perlu dipersembahkan. Semuanya ini sama dengan kekosongan segala kutipan-kutipan pahala yang kita cuba usahakan

 

Kita semua seperti hamba yang melarikan diri dari tuannya dan tinggal beberapa hari dari tuannya. Bila dia kembali dengan penuh keaiban, di mana dia bila mencari hari-hari tambahan untuk menggantikan pekerjaan yang dia tidak lakukan? Seorang hamba adalah seorang hamba untuk sepanjang hayatnya; dia adalah kepunyaan tuannya untuk sepanjang masa. Dia tidak mempunyai masa untuk diluangkan, dan tidak ada cara yang dia bisa genapi apa yang telah hilang.

Atau apa kiranya seorang hamba mencuri sesuatu barang dari tuannya? Bagaimana dia bisa menggantikannya? Dia tidak memilki apa-apa. Karena semua yang dimilikinya adalah kepunyaan tuannya. Jadi tidak ada caranya dia bisa membuat pembayaran balik.

Hanya satu cara seorang hamba bisa membayar masanya yang hilang ialah jika ada masa seseorang yang dikreditkan kepadanya. Hanya satu cara dia bila mengembalikan apa yang dicuri ialah sekiranya ada seseorang yang sanggup memberinya wang secara cuma-cuma untuk melunaskan hutangnya.

Kita adalah hamba-abdi Allah, dan Isa ialah otang yang menyediakan apa yang kita tidak bisa sediakan untuk diri kita. Melaluinya kita bisa menerima pengampunan dan penciptaan semula dari Allah Tuan kita yang kita benar-benar butuhkan.

Rahmat Sebenarnya

Ada yang akan mempertikaikan, “Mengapa tidak saja Allah mencucuri rahmat-Nya keatas umat manusia dengan mengampuni dosa-dosa mereka, dan tidak mengutus seseorang untuk mati bagi dosa-dosa mereka?’

Kita telah melihat dalam cerita mengenai Adam bahwa pengampunan saja tidak mencukupi. Pastinya Allah telah mengembalikan Adam atau membiarkan dia tinggal di Firdaus jika pengampunan saja sudah cukup. Tapi bila Adam berdosa, sesuatu yang tidak bisa diperbalikkan terjadi, begitu sekali tidak bisa diperbalikkan sehingga pengampuan tidak cukup untuk memulihkan Adam kepada keadaan asalnya.

Ketidak-dapat diperbalikkan itu ialah Syetan telah menggunakan Hukum Allah untuk menetang Adam. Syetan menggoda Adam untuk ingkari batas-batas Allah. Apabila batas-batas Allah itu dicerobohi, penghukuman tidak bisa dielakkan atau dibatalkan lagi. Penghukuman itu mesti dijalankan, jika tidak Allah akan kelihatan sebagai Tuhan yang tidak menepati kata-Nya. Dosa telah membawa kita keluar dari batas Allah, dan membuat kita terkunci di bawah penghukuman. Ini adalah hukum dan keadilan Allah. Pertimbangkan yang berikut:

Seorang pemerintah mengambil keputusan bahwa hukuman bagi semua pengedar narkoba ialah maut. Satu ketika kemudian, dia dapati bahwa seorang dari keluarganya telah melanggar peraturan yang ditetapkannya itu. Apa reaksi rakyat jika pemerintah itu membatalkan hukumannya? Hukum-hukum Allah tidak bertentangan dengan keadilan dan sifat-sifat-Nya. Jika seorang pemerintah di dunia ini menjunjung peraturannya tanpa mengira bulu, Allah adalah yang teragung dalam keadilan-Nya.

Ada juga yang mungkin akan bertanya, ‘Jika keadilan harus dijunjung tidak kira dalam apa situasipun, bukankah ianya tidak adil bagi orang lain yang akan dihukum bagi pihak yang lain?’ Bukankah tidak adil bagi Isa untuk menderita bagi orang lain?

Pertama: Ianya adalah tidak adil jika seseorang itu menderita tanpa merelakan kehendaknya. Tapi Isa datang secara sukarela untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah sehingga ke akhir hayatnya agar kita bisa dicipta semula. Dia mengetahui dan rela menerima penderitaan itu; jadi itu bukan satu ketidak-adilan.

Kedua: Bila Firman Allah menjadi manusia, dia menjadi satu dengan kita. Sama seperti kemutlakan manusia hadir dalam Adam yang pertama, kemuklakan manusia juga hadir dalam Adam yang kedua. Akhli-akhli Sufi mengatakan tentang kesatuan terakhir antara manusiawi dengan yang ilahi melalui satu pergerakan ke atas jiwa-jiwa dalam ungkapan berikut:

Karena kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan ghairah dan kebutuhan-kebutuhan spirituil penting dan berpengaruh. Maka jika manusia meninggalkan segalanya ini di belakang dan berterusan bersaksi rahasia itu, yaitu asal-usulnya, maka kuasa-kuasa rahasia Ilahi akan bermanifestasi di dalamnya, dan baitnya akan diangkat dari satu tempat yang rendah dan kereputan kemanusiaan kepada Keteramatan Keluhuran Ilahi.(tanzih[69]). Tuhan menjadi pendengaran dan penglihatannya, menjadi tangan dan lidahnya. Sentuhan tangannya akan menyembuhkan yang sakit dan yang berpenyakit kusta. Pengucapan dari lidahnya akan menyebabkan benda-benda diwujudkan, dengan perintah Allah, dan dia menjadi yang diperkuat oleh Roh Suci sama seperti yang Allah katakan dalam kesaksian Isa, sama seperti apa yang dikatakan oleh-Nya: ‘Kami perkuatkan Dia dengan Roh Suci.’ Maka kita akan mengerti bahawa Allah berkata benar, dan menuntun ke jalan yang lurus.[70]

Pergerakan ke atas ini membuat tangan seorang hamba mennjadi tangan Allah, dan lidah hamba itu menjadi lidah Allah. Dalam kedatangan Isa dalam bentuk seorang manusia, pergerakan ke atas ini menjadi satu gerakan songsang. Daripada seorang hamba menjadi satu dengan yang ilahi, yang ilahi itu pula yang menjadi satu dengan hamba tersebut. Jadi Firman Allah yang ilahi menjadi satu dengan kita, dan menjadi tangan serta lidah kita. Dia merendahkan dirinya dan memjadi kemanusiaan kita. Dia menjadi satu dengan kita, bukan’satu lagi’. Dalam arti kata lain kita telah dihukum di dalamnya. Dia adalah ‘bagian belakang’, bagian belakang kita, yang menanggung semua hukuman Allah yang dituntut oleh hukum-hukum keadilan Allah. Dia adalh Kepala, kepala kita, yang mengambil semua pukulan Keadilan Allah. Dia menjadi satu dengna kita supaya dia menjadi bagian tubuh kita yang menerima penghukuman dan kesakitan itu. Jadi kita adalah selamat di dalamnya, ketika Allah mencurahkan penghukuman-Nya ke atas dirinya.

Inilah yang dikatakan rahmat sebenar. Sesungguhnya kata rahmat (rahmah) itu diambil dari kata dasar rahim (rahm). Dan itulah sebenarnya tugas satu rahim – ia melindungi dan menyediakan semua zat makanan yang diperlukan semasa janin itu disempurnakan dalam penciptaannya. Ini sama dengan satu ciptaan baru. Di dalam dia, yakni Isa Al Masih, kita menerima perlindungan dari penghukuman yang adil itu, dan menerima zat makanan semasa kita dicipta-semula untuk kehidupan yang kekal. Dalam dia menjadi seorang manusia, dia menjadi daging dan darah kita. Dia tidak lagi sebagai ‘yang satu lagi’ dan dengan itu adalah adil dan saksama baginya untuk menaggung penderitaan kita. Allah memandang bahwa itu adalah adil dan saksama untuk umat manusia menderita karena perbuatan ingkar Adam yang pertama, karena kita adalah satu dengannya. Allah juga memandang bahwa ianya adil dan saksama bagi Adam yang kedua menderita untuk perbuatan-perbuatan umat manusia, karena dai (Isa Al Masih) menjadi satu dengan kita.

Dalam Isa, Allah menetralkan atau meniadakan ketidak-adilan dan kejahatan dosa Adam. Dosa adalah sesuatu yang sentiasa tidak adil untuk mereka yang melakukannya, untuk orang disekelilingnya dan kepada Allah. Sama seperti keingkaran Adam membawa kepada ketidakadilan yang kejam, ketaatan Isa membawa kepada rahmat dan karunia kepada orang-orang yang bersalah, yang berdosa menurut pilihan mereka. Sama seperti dosa selalu melanggar yang tidak bersalah, karunia melimpahkan rahmat keatas yang bersalah. Jadi Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan mencurahkan karunia-Nya.

Jika kita berbaik dengan mereka yang baik kepada kita, kita hanyalah membayar hutang-hutang kita. Jika kita mengampuni mereka yang melukakan hati kita, kita hanyalah membatalkan hutang-hutang mereka. Jika kita bertindak penuh kemurahan kepada mereka yang melukakan kita, maka kita bukan saja membatalkan hutang-hutang mereka, bahkan lebih daripada itu, kita memberi mereka status persahabatan. Daripada melayani mereka sebagai orang yang di dalam ‘zon merah’, kita dengan murah hati memberi mereka ‘kredit’. Dalam hal ini, keadilan bukan satu yang berlawanan dengan ketidak-adilan, tapi ia adalah karunia. Karunia adalah imej pembalikan dan bertentangan dengan ketidak-adilan. Ketidak-adilan merampas apa yang ada pada mereka yang tidak bersalah, sedangkan karunia ialah melimpahi kepada yang bersalah apa yang dia tidak layak menerimanya.

Beginilah Allah memperlakukan kepada kita. Menurut kekayaan-Nya, Dia mencurahkan berlimpahan karunia-Nya kepada kita, orang-orang yang berdosa, bila Isa Al Masih menderita bagi semua umat manusia.

Suatu Pelajaran Dari Alam Semulajadi

Pencapaian Allah dalam Isa, Adam yang baru itu adalah sejajar dengan hukum-hukum Allah. Peristiwa berikut menggambarkan bagaimana perkenalan Allah tentang Adam yang baru dan sempurna itu membawa kepada ciptaan baru dan memberikan satu sifat dasar yang baru kepada mereka yang percaya akan Isa Al Masih.

Di bawah ini adalah kejadian sebenar yang dilaporkan dalam sebuaah koran:

Seorang wanita, 19, hari ini telah menerima satu transplantasi tulang sumsum yang berpotensi menyelamatkan hidupnya dari adik bayi perempuannya, yang dikandung ketika tidak seorang pendermapun yang bisa diketemui. Marissa Eve Ayala dikandung 23 bulan yang sudah untuk menyelematkan kakanya Anisa, yang mengidap penyakit leukimia. Para doktor di City of Hope National Medical Centre di California berjaya mengambil tulang sumsum dari Marissa yang berusia 14 bulan, dan transplansikannya tanpa sebarang kesulitan.

Ini adalah suatu cerita yang menakjubkan. Seorang wanita muda menderita penyakit leukimia an membutuhkan transplansi/pemindahan tulang sumsum dengan segera, tapi tidak bisa dibantu karena tidak ada seorangpun yang mempunyai tulang sumsum yang cocok dan sihat bisa dicari. Hanya ada satu peluang saja – orang tua wanita tersebut bisa mencuba untuk melahirkan seorang anak dengan harapan ianya akan mempunyai tulang sumsum yang cocok. Jadi selepas hampir dua puluh tahun perkahwinan mereka, keduanya mengambil keputusan untuk cuba mendapatkan seorang lagi anak. Bila anak perempuan kedua mereka dilahirkan, ternyata pemeriksaan menunjukkan bahwa tulang sumsumnya adalah cocok untuk anak pertama mereka. Dengan gembira, tulang sumsum itu memberi satu peluang kepada si pesakit untuk sembuh.

Seluruh umat manusia adalah seperti orang yang menderita penyakit leukimia itu. Dalam penyakit itu, apa saja tulang sumsum yang berfungsi membentuk darah itu keluarkan akan dijangkiti. Hanya satu harapan saja ialah melalui transplansi tulang sumsum. Penyembuhan harus datang dari luar karena semua yang datang dari dalam sudah tercemar atau dijangkiti.

Tapi bukan sembarangan sumsum boleh digunakan. Tidak ada gunanya melakukan transplansi/pemindahan jika sumsum yang tidak cocok atau yang telah dijangkiti dimasukkan kepada orang yang menderita itu. Untuk mendapatkan satu pemindahan yang berjaya, dua syarat haru dipenuhi: sumsum yang yang dipindahkan haruslah cocok dengan si pesakit dan ianya mestilah tidak berpenyakit.

Semua keturunan Adam adalah orang-orang berdosa. Kita tidak bisa menghasilkan penyembuhan kita sendiri. Penyelesaiannya mestilah datang dari luar: dari Allah. Dan sama seperti sumsum tulang yang akan dipindahkan mestilah cocok dengan sumsum si pesakit, begitu juga dengan Firman Allah yang harus datang ke dala dunia dalam bentuk seorang manusia. Jika dia datng dalam bentuk kemuliaan tingginya sebagai Firman Allah yang Kekal, ianya tidak akan cocok.

Begitu juga, sama seperti sumsum tulang yang akan dipindahkan itu mestilah sempurna dan tidak berpenyakit. Begitu juga dengan Firman Allah yang harus hidup dalam satu kehidupan yang sempurna di atas bumi. Jika dia berdosa walaupun sekali, maka penciptaan semula suatu ciptaan baru di dalam diri kita akan menjadi suatu yang mustahil.

 

Pilihan Paling Jelas

Bila manusia tidak percaya kepada Isa Al Masih Firman Allah itu, mereka sebenarnya sedang membuat satu pilihan moral, karena mereka menolak pilihan Allah.

Jika Allah sendiri merasa senang dengan Isa Al Masih sehingga Dia membangkitkannya dari mati dan mengangkatnya ke sisi-Nya, mengapa ada manausia yang mau menolak Isa dari hidup mereka? Jika Allah mengasihi Al Masih lebih dari segalanya, dan mengangkatnya di atas segalanya, mengapa ada manusia yang bisa mengabaikan dan mengapkirkan dia? Jika manusia menolak kesaksian Allah mengenai rencana dan perbekalan-Nya dalam Isa Al Masih, maka mereka berkelakuan seperti Adam, yang percayakan Syetan dan dengan perbuatan-perbuatan mereka yang menganggap Allah sebagai pendusta (sekali-kali tidak!).

Dia kini ada bersama Allah, dan untuk memikirkannya sama dengan untuk memikirkan Allah. Allah memberinya kedudukan yang tertinggi mungkin. Apakah tempat yang anda akan berikan kepadanya?

Untuk memandang dia ialah untuk mengangkat tinggi muka (wajah) seseorang dan penuh dengan harga diri yang Allah memperuntukkan untuk semua umat manusia. Jika Allah meletakkannya lebih tinggi dari semua manusia, bisakah manusia menyamakannya dengan penghuni-penghuni liang kubur? Untuk menyamakan dia dengan penghuni-penghuni liang kubur adalah untuk menentang tujuan dan maksud Allah.

Isa adalah Daging kehidupan dan kekayaan Allah yang membuahkan harga diri, ibadah sebenar, kegembiraan, kehidupan kekal dan penerimaan serta pengampunan dari Allah. Dia adalah Adam yang baru yang didalamnya Allah telah mendapat kemenangan penciptaan-semula. Dia adalah Pemulih Agung yang membuka jalan untuk kita kembali kepada Allahh dan Hadirat-Nya.

Adam tidak mempercayai Allah tapi sebaliknya memilih untuk mendengar musuh Allah. Dan kita juga mempunyai pilihan yang sama. Samada kita memilih untuk mempercayai penyediaan Adam Baru, Isa Al Masih, Firman dan Roh Allah itu; atau kita abaikannya.

Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah di bumi ini yang diberi akal dan kebolehan untuk mengumpul pengetahuan, dan satu jiwa (hati) yang berupaya untuk menyebelahi Allah atau membelakangi-Nya. Allah tidak memberi kita pemberian dan hadiah ini dengan sia-sia. Ini adalah kunci untuk kelangsungan hidup yang kekal bagi setiap orang manusia. Manusia diciptakan Allah untuk mengenali Allah dan menyerahkan diri mereka kepada kehendak-Nya.

 

Isa Al Masih adalah satu-satunya yang Allah asingkan, diangkat tinggi, dan diistiharkan sempurna serta tidak ada tandingannya . Tidak ada seorangpun yang dapat menandingi dan menyamai dengannya di segala sesuatu.

Penyediaan Allah dalam Isa Firman-Nya, memenuhi kerinduan-kerinduan manusia yang diletakkan oleh Allah di dalam setiap orang. Jika Isa tidak mengecewakan Allah, apakah dia akan mengecewakan mereka yang menaruh harapan di dalamnya?

Dalam nur cahaya rencana penyelamatan Allah yang dipenuhi melalui Firman-Nya Isa Al Masih itulah kita mengerti dan paham mengapa Isa Al Masih diistiharkan tidak ada tandingan dalam segala segi:

Jika tidak ada orang lain yang dilahirkan oleh seorang perawan[71], itu adalah karena Allah memperkenalkan Adam yang baru dan sempurna.

Ia juga karena tidak ada orang lain yang pernah digambarkan sebagai tidak berdosa, paling suci[72] dan diberkahi.[73]

Jika tidak ada orang lain yang ditentang dengan begitu hebat seperti Isa[74], itu adalah karena ketaatannya kepada Allah adalah sempurna hingga ke akhir hayat.

Jika tidak ada orang lain yang melakukan segala mujijat yang Isa lakukan[75], itu adalah karena Allah mempertunjukkan kuasa Isa untuk menjadi perantara.

Jika tidak ada orang lain yang membangkitkan orang mati[76] dengan ucapan kata atau mencipta[77] seperti yang dilakukan oleh Isa, itu adalah karena Allah menunjukkan kepada seorang yang mempunyai kunci-kunci kepada nafas-nafas manusia dan akan membangkitkan mereka di akhirat nanti.

Jika tidak ada orang lain yang dinubuat oleh nabi-nabi lain sebelumnya[78], itu adalah karena Allah mengatakan bahwa inilah orang yang paling signifikan yang kita harus memberi sepenuh perhatian kepadanya.

Jika tidak ada orang lain yang dipercayai serta diperkenalkan dengan persujudan seorang nabi lain[79] (yakni Yahya),itu adalah karena Allah mau kita mengikuti contoh Yahya.

Jika tidak ada orang lain yang diberi pembukaan rahasia yang lengkap oleh Allah[80], itu adalah karena Allah mau kita merasa puas oleh dia seorang saja.

Jika tidak ada orang lain yang menikmati kehadiran Roh Suci yang berterusan[81], itu adalah karena Allah merasa senang dengan ketaatan Isa.

Jika tidak ada orang lain yang telah diangkat untuk berada di sisi Allah[82], itu adalah karena Allah mengistiharkan Isa sebagai Halal Allah untuk kita semua, dan semua rekod-rekod lama sudah dilenyap bersih.

Jika tidak ada orang lain yang berkongsi bersama Isa sebagai Pengetahuan Hari Kiamat[83], dan tidaka ada orang lain yang berkongsi dalam tugas menghancurkan si Dajjal[84], itu adalah karena bila Isa datang kembali, dia akan kembali untuk menghakimi semua kejahatan, tidak kira betapa berkuasanya kejahatan itu.

Jika tidak ada orang lain yang digambarkan sebagai yang paling unggul di dunia ini dan dunia yang akan datang[85], dan tidak ada orang lain yang disamakan dengan Malaikat Jibril[86], dan Kitab Allah[87], itu adalah karena Allah mau kita menghargai dia dan tidak perlu melihat yang lain kecuali dia saja.

Jika tidak ada orang lain yang kata-katanya berkuasa memberi kehidupan kekal dan membersihkan manusia dari dosa-dosa[88], itu adalah karena dengan sebab itulah mengapa dia datang.

Jika tidak ada orang lain yang dipersembahkan sebagai contoh yang tertinggi menurut Al-Qur’an[89], itu adalah karena supaya kita bisa mencontohinya.

Jika tidak ada orang lain yang miskin sepertinya, namun kaya dalam Allah[90] seperti Isa, itu adalah karena agar kita bisa berkongsi kekayaannya dalam Allah.

Jika tidak ada orang lain yang dinamakan ‘Isa’ oleh Allah, yang berarti ‘Juruselamat’[91], itu adalah karena dialah satu-satunya yang menyelamatkan manusia dari dosa dan Neraka.

Jika tidak ada orang lain yang dipanggil oleh Allah sebagai ‘Al Masih’, yang berarti raja[92], itu adalah agar kita bisa nobatkan dia di dalam kehidupan, hati dan pikiran kita.

Jika tidak ada orang lain yang dipanggil oleh Allah sebagai ‘Firman Allah’ dan ‘Roh Allah’, itu adalah karena Allah mau kita mengetahui kesatuan (wahidah) dalam perhubungan antara Isa dan Allah supaya bila kita menyerahkan diri kita kepada Isa Al Masih, kita akan tau kita menyerahkan diri kepada Allah sendiri, dan melaluinya kita bisa mendekati Allah.

Ianya amat sukar untuk memilih antara dua pilihan yang sebanding, tapi bila kita mempunyai hanya satu pilihan, dan ianya adalah yang terbaik, maka keputusan itu akan menjadi senang. Ini sesungguhnya adalah rahmat. Ianya adalah rahmat Allah. Bila seorang manusia memilih Isa Al Masih, dia bersetuju dengan Allah, karena sesungguhnya Isa Al Masih adalah pilihan Allah untuk umat manusia.


[1] Al-Qur’an, 95:4,5.

[2] Al-Qur’an, 95:4,5.

[3] Al-Qur’an, 1:5.

[4] Sahih Muslim, terjemahan dalam Bahasa Inggeris oleh Abdul Hamid Saddiqi, Hadis No. 6809.

[5] Al-Qur’an, 2:35.

[6] Al-Qur’an, 7:23.

[7] Al-Qur’an, 2:229.

[8] Al-Qur’an, 5:29, 30. Lihat juga 14:22; 18:29: 7:44; 2:124.

[9] Al-Qur’an, 4:119.

[10] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 36:60.

[11] Al-Qur’an, 18:57.

[12] Al-Qur’an, 36:77, 78

[13] Al-Qur’an, 7:50, 51.

[14] Al-Qur’an, 9:67.

[15] Al-Qur’an, 25:18.

[16] Al-Qur’an, 38:26.

[17] Al-Qur’an, 59:19.

[18] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 36:60.

[19] Al-Qur’an, 95:4, 5.

[20] An-Nozom Al-Fanni Fil Qur’an, hal. 355.

[21] Baidawi dan Nasafi, mengulas ayat Al-Qur’an, 95:4, 5.

[22] Al-Qur’an, 4:145.

[23] Al-Qur’an, 7:13.

[24] Al-Qur’an, 9:40.

[25] Al-Qur’an, 88:8-10.

[26] Al-Qur’an, 20:123. Lihat juga ayat 2:36,38; 7:24.

[27] Ikhwan al-Safa, Dar irut lel-Teba’a wal-Nashir, Birut, 1957, Vol IV, hal. 166.

[28] Irshad as-Sary le-Sharh Sahih al-Bukhary, Jilid 9, hal. 357. Lihat juga Sahih Bukhary, Bagian 8, Bab Tahaag Adam wa Musa.

[29] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 21:83

[30] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

[31] Ibn ‘Araby, Fotuhat Makkiah, 2:49

[32] Tirimizi, Kitab Khatm al-AwiliyaI, Disunting oleh Othman I. Yahya, Imperial Catholique, Beirut, hal. 161.

[33] Ayoub, Mahmoud M, ‘Towards an Islamic Christology II’, Yhe Muslim World, Vol. LXX, No.2, April 1980, hal. 93.

[34] Ibn ‘Araby, Al-Fotuhat Al-Makkiah, 2:51-52.

[35] Ibn ‘Araby, Al-Fotuhat Al-Makkiah, 2:49-50.

[36] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 4:170.

[37] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 5:113.

[38] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,3:39.

[39] Razi, at-Tafsir al-Kabir,ulasan ayat Al-Qur’an 3:52.

[40] Al-Qur’an, 17:13-15.

[41] Al-Qur’an, 35:18.

[42] Qatarby, mengulas ayat Al-Qur’an 35:18.

[43] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.

[44] Galalan, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.

[45] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.

[46] Qartaby, mengulas ayat Al-Qur’an, 35:18.

[47] Dr. Paul Brand & Philip Yancey, In His Image, Hodder and Stoughton, London, 1984, hal. 85.

[48] Al-Qur’an, 2:173. (Arberry).

[49] Al-Qur’an, 37:102-107.

[50] Al-Qur’an, 6:101

[51] Al-Qur’an, 72:3.

[52] Al-Qur’an, 43:81.

[53] Al-Qur’an, 39:4.

[54] Al-Gawab Al-Mostaqim, kertas 242.

[55] Tirimizi, Kitab Khatm al-Awliya, Disunting oleh Othman I. Yahya, Imperial catholique, Beirut, hal. 161.

[56] Fotuhat Makkiah, 2:49.

[57] Tirimizi, Kitab Khatm al-Awliya, Disunting oleh Othman I. Yahya, Imperial catholique, Beirut, hal. 161.

[58] Dr. Abu al-‘Ala ‘Afifi, mengulas Fusus al-Hikam, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1980, hal. 184.

[59] Dr. Abu al-‘Ala ‘Afifi, mengulas Fusus al-Hikam, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1980, hal. 180

[60] Abd Al-Karim Al-Gilani, The Perfect Man, jilid 2, hal. 8, al-Matba’ah al-Azhareiah, Cairo, 1328H.

[61] Qashani, mengulas Fusus al-Hikam, hal. 171.

[62] Qashani, mengulas Fusus al-Hikam, hal. 171.

[63] Ibn ‘Arabi, dipetik oleh Qashani, atas Fusus al-Hikam, hal. 172.

[64] Qashani, mengulas Fusus al-Hikam, hal. 172.

[65] Qashani, mengutip Ibn ‘Arabi ketika memberi mengulas Fusu al-Hikam, hal. 171.

[66] Qashani, mengulas Fusus al-Hikam, hal. 171.

[67] Al-Qur’an, 2:260.

[68] Ghazali, Ihy’a Uloum ed-Din, Dar al-Kotob al-‘Elmeyah, Beirut, Jilid I, Kitab Adab al-‘Ilm, hal. 147,148.

[69] Perkataan Arab ini bermakna ‘pengasingan elemen anthropomorfisdari konsep ketuhanan’ (The Hans Wehr Dictionary of Modern Written Arabic, suntingan J M. Cowan, Edisi 3, Spoken Language services, Ithaca, New York, 1976).

[70] Abd Al-Karim Al-Gilani, The Perfect Man, Jilid 2, Al-Matba’ah Al-Azhareiah, Cairo, 1328H, hal. 9.

[71] Al-Qur’an, 3:45-47.

[72] Al-Qur’an, 19:19.

[73] Al-Qur’an, 19:31.

[74] ‘Abd at-Tafahum’, The Muslim World, Vol. Xivi, no. 2, April 1956, hal. 133.

[75] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 2:253.

[76] Al-Qur’an, 3:48, 49; Lihat juga Al-Qur’an, 5:110.

[77] Al-Qur’an, 3:49. Lihat juga Al-Qur’an, 5:110.

[78] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

[79] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

[80] Al-Qur’an, 3:48.

[81] Razi, mengulas ayat Al-Qur’an, 2:87.

[82] Al-Qur’an, 3:55.

[83] Al-Qur’an, 43:61.

[84] Sahih Muslim, (Edisi Bahasa Arab), Bagian 9, Hadis no. 34-(2897).

[85] Al-Qur’an, 33:69.

[86] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 5:113.

[87] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:39.

[88] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 5:113.

[89] Al-Qur’an, 43:57.

[90] Razi, mengulas ayat Al-Qur’an, 19:19.

[91] Qasemi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.

[92] Ibid.