Mujizat Kesembuhan Ilahi di Meko dan Keunikannya

oleh Pdt. Dr. Tertius Y. Lantigimo

1. PROSES PENYEMBUHAN

Allah Kuasa Melakukan
Segala Perkara
Allahku Mahakuasa
Dia Ciptakan seisi dunia
Atur s’gala masa
Allahku Maha Kuasa

Inilah syair lagu yang dinyanyikan berulang-ulang dengan semangat dan penuh kuasa. Ribuan manusia yang membanjiri desa Meko, baik di baruga (balai desa), di rumah-rumah maupun di tenda-tenda, menyanyikan lagu ini, sehingga lagu ini menjadi sangat populer. Sementara lagu ini dikumandangkan, tiba-tiba saja terdengar tepukan tangan dan teriakan “Puji Tuhan”. Orang-orangpun berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata sementara lagu ini dinyanyikan, tiba-tiba saja orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar, dan kesembuhan lainnya terjadi. “Luar biasa”, “ajaib”, “spektakuler,” “fenomenal”! Mungkin kata-kata inilah yang cocok untuk menggambarkan fenomena mujizat kesembuhan ilahi yang terjadi di Meko. Ada banyak yang melihat dan menyaksikan mujizat-mujizat itu dan kita juga sudah mendengar banyak kesaksian tentang hal itu. Misalnya, seorang ibu dari desa Bancea (Kec. Pamona Selatan), ibu Nande Rutana, yang karena kecelakaan (ditabrak sepeda motor) menjadi bungkuk selama bertahun-tahun, disembuhkan seketika. Hanya dengan jamahan anak kecil (yang sering disapa “dokter kecil”), tiba-tiba ibu yang bungkuk ini berdiri tegak. “Seperti ada yang menarik dan meluruskan badan saya dari belakang setelah dijamah oleh anak itu”, tutur ibu Nande Rutana. Dia sudah sembuh, dan dengan girangnya dia berteriak bahwa dia sudah sembuh. Kemudian ada seorang haji dari Poso yang buta mengalami kesembuhan secara ajaib, dia dapat melihat di Meko. Seorang anak dari Napu, yang buta sejak lahir, tiba-tiba dapat melihat. Hal yang serupa terjadi kepada seorang bapak (ngkai Rinto atau bapak Kogege tua yang sudah berusia 93 tahun dari desa Buyumpondoli). Mata sebelah kiri bapak ini sudah buta selama kurang lebih tiga puluh tahun, dokter mengatakan bahwa urat saraf penglihatan sang bapak sudah mati. Tetapi di Meko sang bapak dapat melihat dengan sempurna dan kaca mata pun ditanggalkan. Hal yang serupa juga terjadi pada bapak S. Ida (84 tahun) di Sangele yang mengalami kegegeran di kepala selama tujuh tahun. Beliau sudah keluar masuk rumah sakit, berganti dokter untuk mengatasi sakit kepala, tetapi hasilnya nihil. Tetapi beliau disembuhkan secara ajaib di Meko. Secara pribadi, saya melihat dengan mata kepala saya beberapa orang yang tadinya dipikul di kursi karena lumpuh, secara spontan setelah mendapat jamahan dari ibu dari Selvi (nama dari “dokter kecil”) berjalan. Saya melihat banyak tongkat atau kursi roda yang ditinggalkan oleh pemiliknya karena mereka sudah sembuh secara ajaib. Dan masih banyak kesaksian lain mengenai kesembuhan ilahi yang dialami, tetapi tentunya tidak dapat dimuat dalam tulisan ini. Banyak penyakit berat yang kronis disembuhkan seketika secara ajaib. Setiap minggu ratusan orang menerima mujizat kesembuhan ilahi. Benarkah semua ini? Banyak orang yang meragukan akan kebenaran mujizat ini. Mau tidak percaya, kesembuhan itu benar-benar terjadi di depan mata, dan fakta yang dilihat dan dialami tidak dapat dipungkiri. Waw! Orang banyak pun diam termangu dan terpesona. Mata terbelalak, mulut mengaga tanpa kata-kata seolah-olah tidak percaya, karena kagum terhadap suatu fenomena yang terjadi di luar batas logika, nalar atau akal sehat dan ilmu pengetahuan. Itulah yang disebut mujizat atau keajaiban. Mujizat adalah suatu fenomena atau peristiwa yang tidak dapat dijelaskan oleh akal budi manusia karena tidak mengikuti hukum alam atau aturan-aturan ilmu pengetahuan. Itu terjadi di luar akal sehat manusia. Dalam Perjanjian Lama (PL), misalnya, Musa membelah laut hanya dengan tongkat (Kel. 14:15-31), Yosua menahan matahari untuk tidak bergerak di atas Gibeon (Yos. 10:12-13). Dalam Perjanjian Baru (PB) kita mengetahui bagaimana Tuhan Yesus meredahkan angin ribut hanya dengan satu teguran (Mk. 4:35-41 dan paralelnya), berjalan di atas air (Mat. 14:22-33), merubah air menjadi anggur (Yoh. 2:1-11), dan lain-lain. Dan seperti diketahui bersama, mujizat yang paling banyak diceritakan dalam PB adalah mujizat kesembuhan ilahi baik yang dilakukan oleh Yesus sendiri maupun oleh murid-murid-Nya.
Mengapa kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus dan murid-murid-Nya yang dicatat dalam PB dikategorikan mujizat kesembuhan ilahi? Karena kesembuhan yang mereka lakukan terjadi tanpa melalui proses medis. Secara spontan dengan perkataan, atau dengan jamahan atau tanpa jamahan sekalipun kesembuhan tetap terjadi. Misalnya, Petrus hanya dengan “nama Yesus Kristus orang Nazaret itu” menyembuhkan seseorang yang sudah lumpuh selama bertahun-tahun. Kesembuhan seperti ini tidak dapat dijelaskan secara medis dan karena itu ia disebut kesembuhan ilahi. Hal itu terjadi karena kuasa Tuhan (sang Ilahi) yang secara langsung menyembuhkan melalui orang-orang yang telah Dia pilih. Menyaksikan hal seperti ini orang-orang “takjub dan tecengang-cengang” (Kis. 3:1-10). Itulah sebabnya orang-orang yang mengandalkan logika atau nalar dan ilmu pengetahuan sulit menerima kenyataan ini, dan akan selalu mencari penjelasan yang logis dan ilmiah. Tetapi kita harus pahami bahwa mujizat tidak mengikuti logika atau hukum alam dan ilmu pengetahuan.
Demikian halnya dengan apa yang terjadi di Meko, hanya dengan jamahan seorang anak perempuan kecil berumur 8 tahun itu yang juga dibantu oleh ibunya, orang-orang yang berpenyakit berat dan sudah menderita selama bertahun-tahun tiba-tiba saja pulih. Orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang bisu berbicara, orang-orang berpenyakit kronis lainnya juga sembuh. Dan hal ini sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir ini (sejak January 2007). Mau tidak dipercaya, kita melihat bukti nyata. Di depan mata mujizat kesembuhan terjadi. Orang-orang yang mengalami kesembuhan itu ada bersama-sama dengan kita dan bersaksi. Mereka adalah rekan, teman, sahabat, saudara, orang tua dan keluarga kita sendiri. Bagaimana mungkin mujizat kesembuhan itu akan dipungkiri? Semua orang yang menyaksikan kagum, tercengang-cengang, dan memuji Tuhan. Luar biasa! Hal seperti ini belum pernah terjadi di bumi Sintuwu Maroso sejak ia diciptakan.
Maka berbondong-bondonglah orang banyak datang membawa orang sakit. Tanpa publikasi atau panitia, tanpa ada yang mengundang, ribuan manusia membanjiri Meko. Hanya melalui kesaksian mereka yang telah mengalami mujizat itu berita sukacita dan menggemparkan ini tersebar. Ribuan manusia dari berbagai golongan yang berbeda-beda datang memenuhi desa Meko untuk menyaksikan dan mengalami keajaiban dari Tuhan. Mereka membuat tenda-tenda di depan balai desa dekat rumah Selvin dan sekitarnya. Hujan dan becek di tempat penyembuhan tidak menjadi penghalang mereka yang mencari kesembuhan. Sampai saat ini arak-arakan rombongan manusia tetap membanjiri desa Meko, dan semakin bertambah jumlahnya.

2. KEUNIKANNYA
Seperti sudah dikemukakan di atas bahwa penyembuhan Ilahi di Meko sangat lain dari pada yang lazim dilakukan. Apa yang dikleim sebagai “penyembuhan ilahi” selama ini diadakan melalui ibadah-ibadah KKR dengan metode khusus dan dilakukan secara domonstratif. Kita mengetahui bagaimana evangelist besar seperti Benny Hinn dari USA dan Reinhard Bonke (asal Jerman) dari Afrika mengadakan ibadah-ibadah KKR besar yang disertai dengan penyembuhan Ilahi. Karena mereka adalah evangelist yang memiliki nama besar, sehingga ibadah mereka akan dihadiri ratusan ribu bahkan juataan manusia. Suatu tabloid yang pernah saya baca menyebutkan bahwa ibadah KKR yang dilakukan oleh Reinhard Bonke dihadiri jutaan pendengar dan jutaan yang menerima Kristus. Ibadah KKR seperti ini membutuhkan panitia pelaksana yang akan mempromosikan dan mempublikasikan acara tersebut dan yang akan mengatur hal-hal teknis pelaksanaan. Pujian dan musik, power-point akan diatur sedemikian rupa, serta pengkhotbah yang juga akan mengadakan penyembuhan Ilahi sudah diundang dan dipersiapkan jauh sebelum pelaksanaan ibadah KKR tersebut, dan kegiatan tersebut akan diliput oleh stasiun-stasiun televisi dan media massa. Pujian-pujian akan diiringi dengan musik yang gegap gempita.
Penyembuhan Ilahi di Meko jauh dari hal-hal yang disebutkan di atas. Kegiatan penyembuhan tidak pernah direncanakan (terjadi secara spontan), itulah sebabnya tidak ada panitia atau publikasi, dan tidak ada musik. Lebih aneh lagi, peliputan oleh media massa pun dilarang oleh Selvin, dan ibadah KKR sekalipun tidak diperbolehkan di tempat itu. Pengambilan foto acara penyembuhan dan anak kecil itu saja tidak diizinkan dan Selvin selalu menolak untuk diwawancarai. Dia akan selalu menghindar kalau hendak dipublikasikan.
Ibadah penyembuhan dilakukan dengan begitu sederhana tanpa musik. Tempat beribadah pun begitu sederhana, seperti di halaman rumah keluarga Bungge-Sologi (keluarga dari “dokter kecil”) di tenda-tenda di lapangan di depan balai desa dan di dalam balai desa, bahkan di emperan rumah-rumah penduduk. Hal ini terjadi karena halaman atau lapangan di depan balai desa dan sekitarnya tidak lagi dapat menampung orang-orang yang datang mencari kesembuhan dan keluarga mereka.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan metode atau cara penyembuhan yang unik ini:
1) Lagu utama dalam penyembuhan itu adalah “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara”. Lagu ini akan dinyanyikan secara berulang-ulang sepanjang hari setiap hari, kecuali pada saat istirahat makan siang dan malam. Hal yang menarik untuk disimak adalah dalam proses penyembuhan di Meko lagu ini dinyanyikan di masing-masing tenda atau tempat menginap sehingga kedengarannya tidak sinkron. Masing-masing tenda memiliki pemimpin pujian dengan gaya yang berbeda-beda dan dengan tempo yang agak berbeda juga. Tetapi ketika lagu ini dinyanyikan dengan penuh iman dan semangat, kesembuhan pun akan terjadi, baik dibarengi dengan jamahan maupun tanpa jamahan. Penyembuhan dengan menyanyikan lagu ini berlaku pada siang hari dan pada malam hari. Pada saat penyembuhan massal, setiap hari Jumat, dari pukul 07.00-19.00, sang Ibu dari “dokter kecil” akan jalan ke tenda-tenda mengadakan penjamahan mereka yang sakit. Dalam proses itu tiba-tiba akan terdengar teriakan, “haleluyah”, “Puji Tuhan”, karena kesembuhan telah terjadi.
Dalam proses penyembuhan ini kita akan melihat suatu pemandangan yang menarik dan mengharukan. Orang-orang yang sudah lanjut usia baik yang masih dapat berdiri maupun yang dalam pembaringan akan menyanyikan lagu ini dengan begitu semangat dengan bertepuk tangan. Ketahanan mereka yang sudah lansia untuk berdiri dan menyanyi dalam waktu yang lama demi suatu kesembuhan adalah hal yang patut dicontohi.
2) Pada malam hari, pukul 24.00 wita akan diadakan ibadah yang begitu sederhana. Akan tetapi puji-pujian untuk menghentar kepada ibadah tersebut sudah akan dimulai sejak pukul 18.00. Ketika jam yang ditentukan tiba, ibadah pun di mulai dengan lagu yang dintentukan Selvin (“dokter kecil”). Sebelum pembacaan Firman Tuhan akan didahului dengan “Doa Bapa Kami,” dan akan diakhiri pula dengan “Doa Bapa Kami” juga. Bagian Alkitab yang akan dibaca ditentukan oleh Selvin, tetapi yang paling sering dibaca adalah Efesus 5:1-21. Bagian Alkitab yang dibaca tidak diuraikan, tetapi direnungkan sejenak. Setelah itu akan dilajutkan dengan pujian yang lazim “Allah Kuasa” berulang-ulang seperti biasanya, dan mujizat pun terjadi. Tiba-tiba saja ada yang akan membawa tongkat yang selama ini dipakai bertahun-tahun ke depan, karena yang susah berjalan telah sembuh, bahkan ada yang tiba-tiba berdiri dan kursi roda pun ditinggalkan, dan penyakit-penyakit lain pun disembuhkan. Dan mereka yang sembuh akan maju ke depan memberi kesaksian kesembuhan mereka, menyampaikan penderitaan yang selama ini mereka alami tetapi telah disembuhkan dan dipulihkan oleh Tuhan Yesus di tempat itu.
3. Penyembuhan Ilahi secara masal dilakukan pada hari Jumat. Tetapi hal ini tidak berarti kesembuhan hanya terjadi pada hari Jumat, karena kesembuhan juga terjadi pada hari-hari lain, bahkan setiap hari.
4. Doa yang dianjurkan dalam penyembuhan Ilahi di Meko adalah “Doa Bapa Kami” yang harus diucapkan dengan penuh iman.
5. Penyembuhan tidak hanya dilakukan sekali dalam satu ibadah seperti yang lazim terjadi, misalnya dalam satu ibadah KKR. Di Meko penyembuhan dilakukan setiap hari dan hari Jumat adalah penyembuhan massal. Itulah sebabnya akan lebih banyak pengunjung pada hari Jumat.
Analisa teologis dari metode ini akan dibicarakan secara tersendiri di bawah.
Memperhatikan metode penyembuhan yang terjadi di Meko, dapat dikatakan bahwa penyembuhan Ilahi di Meko adalah unik sehingga menimbulkan banyak pertanyaan. Keunikan inilah barangkali yang membuat sebahagian orang meragukan keabsahan penyembuhan Ilahi di Meko dan pada akhirnya memicu kontroversi.
Selain keunikan yang sudah disebutkan di atas, ada beberapa hal lain yang perlu disimak dalam hubungannya dengan penyembuhan Ilahi tersebut:
1. Karunia penyembuhan Ilahi di Meko tidak diberikan kepada orang dewasa atau hamba Tuhan, tetapi diberikan kepada seorang anak kecil bernama Selvin Bungge (anak perempuan) berusia 8 tahun lebih.
2. Seperti sudah disinggung di atas, penyembuhan Ilahi di Meko tidak diselenggarakan secara sengaja atau terencana. Penyembuhan itu terjadi secara spontan dan sangat alamiah tanpa ada faktor lain yang mempengaruhi. Tidak ada panitia atau publikasi melalui radio atau tertulis dengan menggunakan brosur-brosur atau surat undangan seperti yang dilakukan oleh mereka yang mengaku dapat melakukan kesembuhan Ilahi. Orang-orang berdatangan hanya mendengar berita dari mulut ke mulut, melalui kesaksian orang-orang yang disembuhkan secara ajaib.
3. Karena penyembuhan Ilahi di Meko tidak dilakukan dalam ibadah KKR seperti yang sering dilakukan, sehingga tidak ada pengumpulan “persembahan”, bahkan upaya-upaya untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus sekalipun dalam bentuk apapun tidak dibenarkan sama sekali oleh Selvin. Penyembuhan Ilahi yang dilakukan dalam suatu ibadah KKR akan dilakukan dengan dilakukan dengan tujuan pengumpulan “persembahan”, tetapi penyembuhan Ilahi di Meko, walaupun ada ibadah setiap pukul 24.00, sama sekali TIDAK memungut “persembahan”.
4. Berbeda dengan penyembuhan Ilahi yang dilakukan melalui ibadah-ibadah KKR di mana penyembuhan hanya dilakukan sekali pada saat ibadah tersebut, penyembuhan Ilahi di Meko terjadi setiap hari.
5. Mujizat kesembuhan yang terjadi di Meko tidak selamanya karena jamahan, tetapi karena kehadiran Roh Kudus dalam puji-pujian dan penyembahan yang terus menurus dipanjatkan kepada Tuhan Yesus yang adalah Dokter yang sesungguhnya. Di tenda-tenda atau di mana saja orang berkumpul menaikkan pujian akan terjadi kesembuhan.
6. Penyembuhan disertai dengan seruan untuk bertobat, dan hal ini sangat Alkitabiah. “Datang di sini bukan untuk berobat tetapi bertobat”, himbau ibu Bungge (ibu dari Selvin). Karena, seperti yang dituturkan oleh Selvin, yang paling penting bukanlah kesembuhan jasmani tetapi rohani. Karena itu ada orang yang datang mencari kesembuhan justru diminta untuk bertobat terlebih dahulu supaya kesembuhan itu dapat terjadi.
7. Penyembuhan di Meko diberikan kepada semua orang sakit yang datang tanpa melihat agama, golongan atau latar belakang. Tidak terjadi pengajakan, apalagi pemaksaan, terhadap golongan lain untuk menjadi Kristen setelah menerima kesembuhan Ilahi tersebut. Itulah sebabnya kita akan melihat mereka yang berasal dari golongan lain akan merasa betah tinggal berdampingan dalam satu tenda atau ruangan.
Memperhatikan keunikan-keunikan yang sudah disebutkan di atas, dapat dikatakan bahwa metode penyembuhan Ilahi di Meko adalah suatu fenomena unik yang belum pernah terjadi sebelumnya (unprecedented). Juga metode-metode atau cara menyembuhkan yang dipakai dalam proses penyembuhan itu sangat unik dan tidak konvensional, sehingga menimbulkan kontroversi.

3. “KEANEHAN-NYA”
Hal-hal yang membuat fenomena mujizat kesembuhan di Meko lebih menarik adalah terjadinya beberapa hal yang juga dapat dikategorikan mujizat. Saya menggunakan istilah “aneh” dalam arti sesuatu yang tidak biasa atau tidak bisa terjadi, tetapi terjadi selama fenomena Meko ini. Kalau kita memperhatikan suasana di Meko, khususnya di tempat penyembuhan, ada hal-hal yang dapat dianggap tidak biasa.
– Tidak seperti pada perayaan-perayaan atau di tempat-tempat pesta di mana kepulan asal rokok dari para perokok akan terlihat jelas, di tempat-tempat penyembuhan di Meko bebas asap rokok, karena tidak diperbolehkan merokok. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan merokok yang adalah bagian dari kehidupan banyak orang di Indonesia termasuk di wilayah kabupaten Poso, di mana Meko adalah salah satu desanya. Demikian pula hal minum minuman keras dilarang keras, dan hal ini memang ajaran Kristiani, tetapi yang selalu dilanggar.
– Adanya kesabaran yang luar biasa dari para pasien dan pengunjung. Walaupun, karena berdesak-desakan, orang-orang secara tidak sengaja akan menginjak kaki atau tangan orang lain, tetapi tidak ada yang marah atau mengeluarkan kata-kata keras. Jika hal seperti ini terjadi dalam acara-acara lain, dengan melihat banyaknya pengunjung seperti di Meko, maka akan timbul keributan dan kekacauan.
– Satu hal yang penting untuk direnungkan adalah orang-orang Kristen dan non-Kristiani tinggal dalam satu tenda tanpa ada rasa curiga. Padahal di luar sana, kelompok yang berbeda ini tidak dapat bersatu, apalagi dengan latar belakang konflik horizontal yang pernah terjadi di wilayah Poso.
– Keunikan lain yang dapat dilihat di Meko adalah ketertiban dan keteraturan yang terjadi tanpa panitia penyelanggara. Orang-orang yang berdatangan mendirikan tenda-tenda mereka dengan tertib dan teratur di sekitar lapangan di depan balai desa dan di sekitar kantor kecamatan Pamona Barat. Demikian pula kendaraan-kendaraan yang datang diparkir secara tertib. Bukan hanya itu. Jalan raya ke desa Meko di sepanjang pesisir Danau Poso begitu sempit dan meliuk-liuk sehingga tidak dapat dilalui oleh bis-bis besar. Anehnya, selama acara penyembuhan Ilahi di Meko bis-bis besar dari daerah lain dapat melalui jalan itu sekalipun sempit. Masyarakat menjadi heran, karena tidak pernah ada bis besar sebelumnya yang melalui jalan ke Meko yang sempit dan rusak itu. Tidak terjadi kecelakaan walaupun kondisi jalan yang sempit dan lalu lintas yang padat pada hari-hari penyembuhan massal.
– Juga tidak didengar adanya laporan tentang kecurian atau kehilangan harta benda atau kendaraan seperti yang lazim terjadi pada pesta-pesta atau keramaian lainnya. Padahal tidak ada yang menjaga atau mengawasi kendaraan-kendaraan yang diparkir. Orang-orang yang datang di sana menjadi sangat sopan/santun dan peduli. Aparat keamanan yang berkunjung ke sana pun jadi bingung karena pengamanan mereka tidak dibutuhkan, dan situasi tetap aman dan damai.
Melihat hal-hal yang tidak biasa ini orang-orang bertanya “kok bisa ya?” Bukankah hal ini menandakan bahwa “team” atau “panitia” yang tidak kelihatanlah yang mengatur jalannya proses penyembuhan Ilahi di Meko?

3

REAKSI/TANGGAPAN

Fenomena di atas telah memunculkan reaksi-reaksi yang berbeda, yaitu reaksi positif dan negatif atau pro dan kontra. Mereka yang melihat fenomena ini sebagai karunia Tuhan menanggapi hal itu secara positif. Mereka mengakui, percaya, dan turut mengambil bagian dalam proses penyembuhan itu. Mereka datang membuat tenda-tenda, mengikuti ibadah, dan menyaksikan kesembuhan demi kesembuhan yang terjadi. Akan tetapi ada juga yang menanggapi secara negatif bahwa mujizat itu berasal dari nabi palsu atau Setan melalui khotbah-khotbah dan selebaran. Lebih menghebohkan lagi, foto-foto yang katanya berisi gambar ular dan roh-roh di udara yang terdapat di Meko juga disebarkan. Dua hal yang terakhir yang disebutkan di atas akan dibahas secara khusus dalam buku berikutnya (edisi khusus). Padangan negatif ini juga disebarkan melalui Radio Langgadopi dalam suatu dialog interaktif di mana sang pembicara mengatakan bahwa fenomena Meko itu adalah nabi palsu. Khotbah-khotbah di gereja-gereja non-GKST difokuskan pada isu nabi palsu yang katanya bekerja di Meko. Lebih jauh lagi, diadakanlah doa dan puasa untuk menolak dan menantang kuasa kegelapan yang katanya ada di Meko oleh hamba-hamba Tuhan dari kelompok yang kontra. Warga jemaat mereka pun dilarang untuk berkunjung atau berobat ke Meko. Akan tetapi, walaupun sudah dilarang tetap saja ada warga dari gereja yang kontra yang databg menghadiri dan menyaksikan mujizat penyembuhan ilahi di Meko dan mereka juga mengalami mujizat itu. Orang-orang yang bereaksi negatif dapat dikatakan sebagai orang-orang yang tidak mengerti apa dan siapa yang disebut nabi palsu dan apa perbedaannya dari nabi benar, atau perbedaan antara kuasa Tuhan dan kuasa Iblis, atau juga karena alasan lain. Nanti kita lihat sebentar. Karena itu untuk memahami apa sesungguhnya yang terjadi kita perlu melihat apa yang disebut nabi palsu (false prophet) dan yang bagaimana yang dapat dikategorikan sebagai mujizat oleh kuasa Setan dalam Alkitab.

1. Nabi Palsu?
Sebelum menuduh dan menghakimi apakah nabi palsu atau bukan yang bekerja di Meko, kita harus meneliti dan memahami apa sesungguhnya yang dimaksud dengan nabi palsu dalam Alkitab terlebih dahulu.

a. Dalam Perjanjian Lama (PL)
Dalam PL istilah langsung “nabi palsu” tidak ada dan yang dipakai adalah kalimat dan kata kerja dalam bahasa Ibrani seperti “nabi bernubuat palsu”: rq,V,ªb;-WaåB.nI ~yaiúybiN>h; (baca: hannübî´îm nibbü´ûº-baššeºqer – Yer. 5:31; 14:14; 23:25). Jadi istilah “nabi palsu” adalah nabi yang bernubuat palsu. Mengapa palsu? Dalam Yeremia 5:2 disebutkan“mereka berkata: ‘Demi TUHAN yang hidup,” namun mereka bersumpah palsu’.” Hal yang serupa juga dilanjutkan dalam Yeremia 5:31 Firman Tuhan berkata begini:
Para nabi bernubuat palsu dan para imam mengajar dengan sewenang-wenang, dan umat-Ku menyukai yang demikian! Tetapi apakah yang akan kamu perbuat, apabila datang kesudahannya?
Ayat ini muncul dalam konteks di mana nabi benar, yaitu Yeremia, menyampaikan hukuman Tuhan atas bangsa Israel yang telah berbuat dosa. Nabi palsu mengatakan bahwa Tuhan menyayangi umat-Nya dan tidak akan menghukum mereka. Ajaran seperti inilah yang disebut “sewenang-wenang” karena sifatnya tidak menegur dosa dan karena itu tidak menyerukan pertobatan dan ajaran seperti inilah yang disukai oleh umat Tuhan yang berbuat dosa. Nubuat seperti ini palsu karena Tuhan tidak menyampaikan apa yang mereka ajarakan.
Hal ini lebih jelas disampaikan oleh Yeremia dalam pasal 14:
Jawab TUHAN kepadaku: “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri. Sebab itu beginilah firman TUHAN mengenai para nabi yang bernubuat demi nama-Ku, padahal Aku tidak mengutus mereka, dan yang berkata: Perang dan kelaparan tidak akan menimpa negeri ini :Para nabi itu sendiri akan habis mati oleh perang dan kelaparan! (ay. 14-15).
Dosa yang diperbuat oleh orang Israel telah membangkitkan murka Tuhan dan karena itu Tuhan akan menghukum mereka dengan peperangan dan kelaparan. Tetapi nabi palsu dengan nama TUHAN mengatakan bahwa hal itu tidak akan terjadi bahkan meyakinkan umat bahwa “damai sejahtera” mantap berada di tengah-tengah mereka (ay. 13). Selanjutnya, karena dosa ini juga nabi Yeremia bernubuat: “Maka seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan menjadi hamba kepada raja Babel tujuh puluh tahun lamanya” (Yer. 25:11). Tetapi nabi palsu, Hananya, berkata: “Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!” (Yer. 28:11). Apa yang terjadi? Bangsa Israel benar-benar dibuang ke Babel selama tujuh puluh tahun lamanya, dan nubuat Hananya tidak terbukti. Nabi yang menyampaikan “kabar baik” itu disebut nabi palsu karena nubuat itu tidak pernah dikatakan oleh Tuhan.
Hal yang serupa juga terjadi pada zaman Ahab raja Israel. Ketika sang raja hendak berperang dia memanggil semua nabi yang ada dalam kekuasaannya dan meminta nubuatan mereka mengenai hasil dari peperangan itu nanti. Semua nabi memberikan “kabar baik” bahwa sang raja akan menang dalam peperangan. 1 Raja-Raja 22:12 menyebutkan: “Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: ‘Majulah ke Ramot-Gilead, dan engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja’.” Kabar baik ini menyenangkan hati raja. Tetapi Yosafat, raja Yehuda, yang berkunjung pada saat itu yang tahu membedakan mana nabi benar dan mana palsu tidak percaya pada nubuatan yang menyenangkan itu, sehingga dia bertanya kepada Ahab apakah sudah semua nabi dipanggil dimintai pendapat. Ahab menjawab bahwa masih ada satu, Mikha bin Yimla, tetapi raja tidak suka padanya karena nubuatannya tidak menyenangkan karena menubuatkan malapetaka (1 Raja 22:8). Ketika nabi benar itu, Mikha bin Yimla, dipanggil dan dimintai nubuatan yang benar maka dia mengatakan bahwa raja Ahab akan kalah dan mati dalam pertempuran (ayat 17-23). Dan terjadilah seperti yang dinubuatkan oleh nabi Mikha bin Yimla. Dengan kata lain yang menentukan kepalsuan atau kebenaran adalah apakah hal yang dinubuatkan itu benar-benar terjadi atau tidak. Berbeda dengan nabi benar, nubuat nabi palsu tidak pernah tergenapi. Yeremia 28:9 menyebutkan: “Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN.”
Seperti sudah dikatakan di atas ciri lain dari nabi palsu adalah, berbeda dengan nabi benar, tidak pernah mengoreksi atau menegur dosa dan kesalahan, tetapi hanya menyampaikan berita yang “menyenangkan.” Hal ini lebih jelas dalam Yeremia 7:9-10:
Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal, kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!
Selanjutnya, tanda-tanda lain yang dimiliki oleh nabi palsu adalah suka mengumbar-umbar mimpi atau penglihatan mereka, seperti yang disebutkan dalam ayat berikut:
Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi! Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri, yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpinya yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal? (Yer. 23:25-27).
Dalam ayat ini disampaikan bahwa nabi palsu adalah nabi yang suka bermimpi atau mencari penglihatan sendiri dan kemudian mengatakan bahwa hal itu berasal dari Tuhan, dan mimpi itu membuat umat Tuhan menyembah allah lain dan melupakan Tuhan yang benar. Dengan kata lain nabi palsu adalah nabi yang, melalui nubuatnya dan ajarannya, membawa umat Tuhan kepada penyembahan berhala.
Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN (Ul. 13:1-5).
Dengan kata lain nabi palsu adalah nabi yang dengan mimpi, nubuatan atau mujizatnya menyesatkan umat Tuhan. Jadi, kriteria apakah nabi itu benar atau palsu adalah apakah nabi tersebut menghentar umat Tuhan pada penyembahan Allah yang benar.
Dalam PL juga nabi palsu tidak pernah dilaporkan dapat melakukan mujizat yang asli/sungguh (real/genuine miracle). Misalnya, nabi Elia dalam pertarungannya melawan nabi-nabi Baal (nabi palsu) berhasil menurunkan api dari langit dengan iman dan doanya kepada TUHAN, sementara nabi palsu tidak dapat (1 Raja 18:20-46). Pengganti Elia, nabi Elisa juga dapat melakukan mujizat-mujizat luar biasa dengan kuasa TUHAN (2 Raja 4-7).
Pertanyaan di sini adalah: mengapa mereka bernubuat palsu? Kalau memperhatikan latar belakang kehidupan nabi-nabi palsu itu, mereka bernubuat tentang “kabar baik” dan tidak berani menegur kesalahan dan dosa raja supaya mereka tetap mendapat jaminan hidup dari penguasa. Nabi-nabi Baal, misalnya, mendapat jaminan hidup dari raja Ahab dan Izebel, isterinya. Berbeda dengan nabi benar, demi mempertahankan posisi dan demi saku mereka para nabi palsu menjilat kepada penguasa dengan menubuatkan hal-hal yang menyenangkan hati penguasa melalui kata-kata dan mimpi mereka walaupun hal itu tidak berasal dari Tuhan. Dengan kata lain nabi-nabi bernubuat palsu demi posisi dan demi uang atau seperti yang lazim disebut “UUD” (Unjung-Ujungnya Duit).
Setelah melihat ciri-ciri nabi palsu dalam uraian di atas, kita dapat membandingkannya dengan apa yang terjadi di Meko. (1) Adakah nubuatan yang hanya menyenangkan telinga disampaikan? Bukankah, seperti nabi benar, pertobatan yang diserukan? (2) Adakah pemurtadan atau penyesatan di sana? Bukankah semua orang dihimbau untuk taat beribadah kepada Allah dan hidup menurut Firman Allah? (3) Adakah penerimaan uang atau pengumpulan “persembahan” seperti yang biasanya dilakukan kalau ada ibadah kesembuhan ilahi? Bukankah pemberian uang ditolak? Dengan kata lain, ciri-ciri nabi palsu tidak terdapat pada pelaksanaan mujizat kesembuhan ilahi di Meko.

b. Dalam Perjanjian Baru (PB)
Ada sedikit perbedaan pengertian nabi palsu dalam PL dan PB. Dalam PB istilah “nabi palsu” disebut dengan kata yeudoprofh/tai (pseudoprofetai – Mat. 24:11, 24; Kis. 13:6; Why. 16:13; 19:20; 20:10), dan istilah inilah yang sering disalah mengerti oleh banyak orang. Karena itu kita perlu memahaminya menurut latar belakang atau konteksnya. Banyak orang yang memahami bacaan Alkitab hanya dari permukaannya saja, mencabut ayat tertentu dari konteksnya dan menafsirkannya, memasukan pikiran sendiri atau memahaminya separuh-separuh, dan karena itu sering terjadi kesalahpahaman. Karena itu marilah kita memahami isu nabi palsu dalam PB menurut latar belakang atau konteks aslinya. Jangan mencoba menafsir dan menarik applikasi tanpa memahami latar belakang dan konteks dengan benar.
Dalam menanggapi fenomena kesembuhan ilahi di Meko, mereka yang sinis dan tidak percaya menghubungkannya dengan Matius 24:23-24 bahwa fenomena Meko itu adalah dari nabi palsu. Karena itu untuk memahami hal ini kita perlu melihat apa yang dimaksud dengan nabi palsu dalam ayat-ayat ini.
Pertama-tama, kita harus pahami bahwa nas ini adalah bagian dari Khotbah Tuhan Yesus mengenai akhir zaman bahwa menjelang akhir zaman akan “banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang” (Mat. 24:11). Nabi palsu yang bagaimana? Hal ini diperjelas dalam ayat 23-24:
Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.
Perhatikan kalimat-kalimat yang dicetak dengan tebal. Mereka yang tidak percaya bahwa mujizat di Meko itu adalah dari Tuhan memakai ayat ini sebagai “gaco” (ayat andalan) bahwa mujizat kesembuhan ilahi itu adalah pekerjaan nabi palsu atau berasal dari setan. Benarkah? Untuk memahami hal ini kita perlu memahami beberapa hal:

Pertama:
Kita harus memahami siapakah yang dimaksud dengan Mesias palsu dan nabi-nabi palsu menurut konteksnya? Mesias palsu dalam konteks ini harus dipahami dalam kaitannya dengan penantian orang Yahudi akan kedatangan seorang Mesias. Karena pengharapan ini sehingga muncullah tokoh tertentu yang mengaku sebagai Mesias. Kisah Para Rasul menyebutkan bahwa beberapa tokoh Mesianis, seperti Teudas dan Yudas, yang memiliki pasukan tetapi pada akhirnya tokoh-tokoh itu dibunuh dan anggotanya tercerai berai dan berakhirlah riwayat mereka (Kis. 5:36-39). Menurut sejarawan Yahudi, Yosefus, bahwa seorang figur Mesias palsu Teudas pernah mengumpulkan pengikutnya di tepi sungai Yordan dan mengaku sebagai nabi dia akan memerintahkan sungai Yordan untuk terbelah seperti yang dilakukan oleh Musa pada waktu lampau. Tetapi ternyata usahanya tidak berhasil, sehingga dia juga digolongkan sebagai nabi palsu (Ant. 20:97-98). Kemudian, masih dalam perjuangan orang Yahudi muncul lagi seseorang yang dielu-elukan sebagai Mesias bernama Bar Kokhba yang kemudian memimpin pemberontakan Yahudi yang mengakibatkan kehancuran orang Yahudi pada abad ke-2 (tahun 132-135). Para pemimpin agama yang mengagungkan dia adalah nabi-nabi palsu.
Semangat seperti ini terus muncul dalam kehidupan sejarah manusia. Tuhan Yesus menubuatkan hal ini akan terjadi menjelang akhir zaman dari zaman akhir dan zaman akhir itu sesungguhnya sudah dimulai sejak kebangkitan Tuhan Yesus dan dalam masa itu akan muncul orang-orang yang mengaku sebagai Mesias dan mengaku memiliki kemampuan supra natural. Di abad modern ini ada banyak figur atau kelompok yang menganggap dirinya sebagai Mesias. Misalnya Syai Baba dari India mengklaim diri sebagai Mesias bahkan lebih. Syai Baba dipuja-puja oleh pengikutnya karena dapat melakukan mujizat. Selanjutnya, di China juga ada perkumpulan atau sekte yang pemimpinnya menganggap dirinya Mesias. Hal yang sama terjadi di Malaysia. Dalam suatu tayangan dokumenter di salah satu statiun televisi Singapura ditayangkan seorang kepala suku dari salah satu suku di Malaysia yang mengaggap dirinya sebagai titisan Kristus dan para pengikutnya menyembah dia, dan tokoh ini memiliki beberapa isteri. Fenomena seperti ini dapat dilihat sebagai penggenapan khotbah Tuhan Yesus di atas. Apakah kleim-kleim seperti di atas yang terdapat di Meko?

Kedua:
Selanjutnya, dalam PB nabi palsu disamakan dengan guru-guru palsu yang pekerjaannya adalah menyesatkan orang seperti yang disebutkan dalam 2 Petrus:
Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda (2 Pet. 1:1-3)
Dalam bagian Alkitab ini kita dapati bahwa guru-guru palsu (=nabi-nabi palsu) melakukan beberapa hal yang menyesatkan: (1) memasukan pengajaran-pengajaran sesat; (2) menyangkal Penguasa [yaitu Yesus Kristus] yang telah menebus; (3) hidup mereka dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat; (4) mencari keuntungan pribadi dengan ceritera-ceritera isapan jempol. Dengan kata lain bahwa nabi palsu tidak menghentar kepada pertobatan, tetapi kepada kehancuran. Apakah hal seperti ini yang terjadi di Meko? Bukankah pertobatan diserukan kepada setiap orang yang datang? Bukankah nama dan kuasa Yesus yang dianggungkan? Bukankah usaha-usaha mencari untung seperti mengumpulkan persembahan tidak dibenarkan di Meko?
Ayat lain yang dapat dihubungkan dengan nabi palsu atau mujizat palsu ada 2 Tesalonika 2:9-10:
Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan mujizat palsu dalam ayat ini, kita harus memahaminya dalam seluruh konteks bacaan, 2 Tesalonika 2:1-12. Perikop ini diberi judul “Kedurhakaan Sebelum Kedatangan Tuhan”. Bagian ini berbicara mengenai akan datangnya “si pendurhaka” mendahului kedatangan Tuhan yang kedua kali (ay. 3). Ciri-ciri pendurhaka itu adalah sebagai berikut: (1) ia meninggikan diri dan disembah sebagai Allah (ay. 4); (2) dia duduk di Bait Allah dan menyatakan diri sebagai Allah (ay. 5). Siapakah si pendurhaka ini sesungguhnya? Ayat di atas mengindikasikan bahwa Bait Allah masih berdiri ketika surat Tesalonika ditulis, dan hal ini menunjukkan bahwa “si pendurhaka” dalam konteks ini akan muncul sebelum tahun 70 M, tahun dihancurkannya Bait Allah. Dalam sejarah bangsa Yahudi Anthiokus IV yang bergelar “Epifanes”, yang artinya, “manifestasi allah”, pernah memasuki dan menajiskan Bait Allah pada pertengahan abad ke-2 SM. Kemudian jendral Titus, yang kemudian menjadi Kaisar Romawi, pernah meremehkan Bait Allah dan memasukinya pada tahun 70 M. Para pemimpin seperti ini memiliki imam-imam yang dikatakan dapat melakukan mujizat palsu melalui upacara-upacara keagamaan atau melalui “trik” (“tipuan”) yang lazim dilakukan dalam dunia kafir. Paulus, dalam suratnya yang ke dua kepada Jemaat di Tesalonika, memperingatkan Gereja akan terjadinya hal-hal seperti ini sebelum kedatangan Tuhan. Dan fenomena seperti ini memang akan terjadi menjelang akhir zaman. Tetapi untuk zaman ini kita belum tahu siapa sesungguhnya figur yang dapat diidentikan dengan tokoh “si pendurhaka” ini. Dan karena itu perikop ini tidak dapat dijadikan dasar untuk mengeritik mujizat di Meko, karena tidak ada ciri-ciri “si pendurhaka” seperti yang terdapat dalam surat Paulus ini di sana. Di Meko tidak ada upaya meninggikan diri atau menganggap diri Allah, justru pengrendahan dirilah yang diserukan. Juga di sana tidak ada “tipu daya jahat” yang disebutkan dalam perikop di atas. Jelas dalam ayat-ayat ini yang dimaksud dengan “si pendurhaka” itu adalah orang dewasa dan bukan seorang anak kecil.
2. Dari Setan?
Berkaitan dengan isu di atas, ada juga yang berpendapat bahwa mujizat kesembuhan itu dilakukan dengan kuasa Setan atau Iblis, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa hal itu adalah bentuk penyamaran Lucifer. Benarkah semua ini? Untuk memahami hal ini marilah kita melihat apa kata Alkitab tentang kuasa Setan dan kemudian membandingkannya dengan apa yang terjadi di Meko.
Istilah “Setan” berasal dari bahasa Yunani satana/j (baca:Satanas; Wah. 2:9, 13(2x), 24; 3:9; 12:9; 20:2, 7). Dalam PL istilah yang dipakai adalah ??? (baca: Syatan: Ayub 1:6-8, 12; 2:1-7; Zak. 3:1-2), yang diterjemahkan dia,boloj (baca: diabolos) dalam LXX (Septuaginta, PL dalam bahasa Yunani) yang artinya “musuh”, “melawan” atau “pendakwa”. Dalam Wayhu Setan digambarkan sebagai musuh Allah (Why. 12:7-9). Hal ini sama dengan apa yang terdapat dalam Ayub 1:9-12, Mazmur 109:6, dan Zakharia 3:1-10, di mana Setan digambarkan sebagai pendakwa umat Allah di hadapan Allah. Selain dari pada itu, Setan juga digambarkan sebagai “provokator” untuk membuat orang berbuat dosa. Misalnya, 2 Samuel 24:1 dan 1 Tawarikh 21:1 menyebutkan bahwa Setan memprovokasi Daud untuk mengadakan sensus untuk seluruh bangsa Israel, suatu hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, dan sebagai akibatnya malapetaka menimpa umat Tuhan sebagai hukuman Allah atas dosa Daud. Selajutnya, dalam PB Setan digambarkan sebagai “sumber dari segala dusta” (KPR 5:3), “bapa dari segala pendusta” (Yoh. 8:44). Setan juga disebut sebagai kuasa di balik kedegilan hati dan pikiran manusia sehingga tidak dapat mempercayai Firman Tuhan lagi (2 Kor. 4:4). Dia juga adalah pencoba dan penipu/pemerdaya (Mat. 4:1-11; Luk. 4:13l 11:16; 1 Kor. 7:5). Sehubungan dengan hal ini Setan adalah sumber dari “rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat” (2 Tes. 2:9; 2 Kor. 1:11). Karena itu dalam tradisi Yahudi Setan disebut “Prince of Deceit” (“raja penipu” – T. Sim. 3:5; T. Jud. 19:4). Berkaitan dengan pemahaman ini, 2 Korintus 11:14 menyebutkan bahwa Setan dapat menyamar sebagai malaikat terang (juga lihat KPR 13:10). Dan dalam 2 Korintus 4:4, Setan disebut sebagai “ilah zaman ini” yang membuat manusia “tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah”. Selanjutnya, Setan juga digambarkan sebagai pembinasa tubuh (Mk 9:14-27; 1 Kor. 5:5).
Tidaklah mengherankan kalau dalam PB kita juga dapati bahwa Setanlah yang bekerja pada diri nabi-nabi palsu sehingga mereka dapat melakukan mujizat dengan kuasa iblis atau setan. Misalnya, dalam perjalanan misi ke Asia Kecil Paulus bertemu dengan seseorang bernama Baryesus yang adalah “tukang sihir dan nabi palsu”. Dengan kuasa Iblis dia melakukan tipu muslihat sehingga menyesatkan banyak orang (Kis 13:6). Di sini jelas dikatakan bahwa nabi palsu itu sama dengan tukang sihir karena menggunakan kuasa Setan, dan dengan sihir itu dia menyesatkan banyak orang. Penyesatan yang dimaksud di sini adalah membuat orang menyembah Iblis dan bukan Tuhan. Hal yang serupa juga disampaikan dalam Wahyu 13:13-17 di mana dikatakan bahwa binatang kedua yang keluar dari bumi, yang adalah simbol dari pada imam-imam orang kafir (dukun-dukun), yang dengan kuasa naga (yang adalah simbol daripada Setan) dapat melakukan tanda-tanda dahsyat sehingga orang-orang menyembah binatang pertama, simbol penyembahan kaisar, yang adalah manifestasi naga (setan). Dalam konteks ini apa yang disebut “mujizat” itu diadakan dengan menggunakan kuasa Setan (naga). Mujizat yang bagaimana yang dimaksudkan di sini? Dalam ayat 13 dikatakan bahwa mujizat itu adalah “menurunkan api dari langit” dan, dalam ayat 15, “memberi nyawa kepada patung” dan “membuat patung berbicara.” Hal yang menarik untuk diperhatikan di sini adalah bahwa bukan mujizat kesembuhan. Dan mujizat-mujizat ini dilakukan oleh nabi-nabi palsu dengan menggunakan kuasa Setan. Hal ini lebih diperjelas dalam Wahyu 16:13-14:
Dan aku melihat dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.
Di sini tidak dijelaskan perbuatan ajaib yang bagaimana yang dimaksud, karena ada banyak hal yang dapat disebut “perbuatan ajaib”, seperti sulap-sulapan atau seperti yang dilakukan dalam dunia sihir. Kalau kita mempelajari latarbelakang dunia PB, khususnya dunia di mana kitab Wahyu ditulis, kita akan dapati bahwa yang dimaksud dengan perbuatan ajaib adalah penggunaan “trick-trick” atau tipu muslihat dan penggunaan ilmu Setan dalam melakukan tindakan-tindakan supra natural dan melalui sulap-sulap. Dengan demikian mujizat seperti ini adalah juga mujizat palsu.
Apa yang terjadi dalam dunia Wahyu masih berlaku sampai sekarang. Zaman modern ini kita melihat begitu banyak permainan sulap dan semuanya itu adalah tipuan belaka dan karena itu adalah palsu. Ada sekte tertentu beberapa dekade yang lampau yang pemimpinnya dapat melakukan mujizat seperti melakukan operasi mentah dengan tangan, tetapi setelah diselidiki semua itu adalah palsu karena dia menggunakan tipuan mata. Tujuan dari tanda-tanda dahsyat itu adalah menyesatkan umat manusia dan melawan Allah (Why 20:8-9). Karena tujuan mereka adalah mendapat kemuliaan diri sendiri. Dengan kata lain, nabi-nabi palsu dengan mujizat-mujizat yang palsu dipakai bukan untuk memperkuat iman, tetapi untuk menyesatkan sehingga orang tidak menyembah Allah, tetapi menyembah figur tertentu atau Iblis. Seperti “mujizat” kesembuhan yang biasanya dilakukan oleh dukun-dukun bertujuan supaya manusia menyembah Iblis bukan Allah.
Apakah praktek-praktek sihir, atau ritual-ritual khusus yang menggunakan kuasa Setan seperti yang disebutkan di atas yang dilakukan di Meko? Adakah tipuan mata atau “trick-trick” seperti dalam sulap terjadi di Meko? Mujizat kesembuhan di Meko adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri, dan dilakukan di tempat terbuka tanpa melakukan ritus-ritus tertentu, kecuali puji-pujian kepada Tuhan sang pemberi karunia itu yang tak henti-hentinya dipanjatkan.
Kesimpulannya? Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa mujizat kesembuhan di Meko adalah dari Setan atau nabi palsu hal itu sangat tidak mendasar dan bertentangan dengan kesaksian Alkitab. Kita harus pahami bahwa yang melakukan kesembuhan Ilahi di Meko itu adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Menurut informasi dan kesaksian-kesaksian yang kami kumpulkan, anak Selvin sangat beriman kepada Yesus Kristus dan karena itu dia menekankan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juruselamat yang menyembuhkan. Karena itu kalau ada yang mengatakan bahwa mujizat penyembuhan yang dia lakukan adalah dari kuasa Setan, itu sama halnya dengan menuduh bahwa telah terjadi synkritisme (percampuran kepercayaan), yaitu, percaya kepada Yesus dan juga kepada Setan. Dapatkah hal seperti ini terjadi? Ada dua hal yang perlu kita simak:
1) Tidaklah mungkin seorang anak yang begitu beriman kepada Yesus belajar ilmu Setan. Sangat tidak mungkin. Dan tidak mungkin Tuhan akan membiarkan dia dipengaruhi kuasa Setan kalau Tuhan Yesus selalu bersama dia. Menurut kesaksian keluarga dan teman dekatnya, biasanya kalau Selvin sementara bermain tiba-tiba dia akan berhenti dan mengatakan bahwa Tuhan Yesus datang menjumpainya. Dia akan bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus sementara teman-temannya kebingungan melihat Selvin berbicara dengan seseorang yang tidak kelihatan oleh teman-temannya kecuali Selvin sendiri. Selvin juga pernah bercerita bahwa dia pernah dibawa Tuhan Yesus berjalan-jalan dan memperlihatkan kondisi kerohanian desa Meko. Dapatkah kita mengatakan bahwa sosok yang dilihat dan menemani Selvin itu penyamaran Setan? Menurut cerita yang sering kita dengar Tuhan Yesus sering menampakan diri kepada orang-orang tertentu, khususnya anak-anak, dengan cara yang lembut dan bersahabat seperti yang digambarkan oleh Selvin. Dan lagi kalau yang datang kepadanya itu bukan Tuhan, mengapa sosok yang menampakkan diri kepada Selvin sangat menekankan pentingnya pertobatan, sementara seperti kita ketahui bahwa Setan atau nabi palsu tidak pernah mengoreksi dosa dan kesalahan?
2) Seandainya telah terjadi synkritisme, dapatkah kuasa Yesus dicampur dengan kuasa Setan? Dalam beberapa kesaksian dalam PB kita dapati bahwa kuasa Yesus tidak dapat digabungkan dengan kuasa Setan. Bagaimana mungkin dua kuasa yang sangat bertentangan atau bertolak belakang dapat digabung? Dalam Kisah Para Rasul 13:6-12 kita membaca bahwa Baryesus (atau Elimas dalam bahasa Yunani) seorang tukang sihir Yahudi hendak membeli kuasa yang dimiliki oleh Paulus supaya bisa digabungkan dengan kuasa yang ada padanya, tetapi apa yang terjadi, dia menjadi buta karena ditegur oleh Paulus. Kuasa Roh Kudus menghukum Baryesus karena hendak menggabungkan kuasa dari Tuhan dengan kuasa Setan. Kebutaan Baryesus mau memperlihatkan bahwa betapa besar dahysat kuasa Yesus dibandingkan dengan kuasa Setan yang tidak dapat berbuat apa-apa. Hal yang serupa juga terjadi pada anak-anak Skewa yang berusaha menggunakan nama Yesus sebagai jampi-jampi. Tetapi apa yang terjadi?
Tetapi roh jahat itu menjawab: “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?” Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka. Hal itu diketahui oleh seluruh penduduk Efesus, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, maka ketakutanlah mereka semua dan makin masyhurlah nama Tuhan Yesus. (Kis. 19:15-17).
Hal ini mau mengatakan bahwa kuasa Yesus tidak dapat dicampurkan dengan kuasa Setan, dan kalau ada yang hendak menggabungkannya maka kuasa Yesus tidak akan bekerja karena kuasa Yesus sama sekali tidak dapat dicampurkan dengan kuasa yang lain. Ingat, Tuhan kita adalah Tuhan yang cemburu. Karena itu Dia tidak dapat diduakan.
Dengan melihat beberapa hal yang telah diuraikan di atas kita boleh bertanya: Adakah hal-hal seperti yang disebutkan di atas ini yang terjadi di Meko? Adakah tipuan-tipuan; atau adakah penyesatan terjadi di sana; atau adakah upacara-upacara khusus dengan syarat-syarat khusus terjadi di Meko? Menurut penelitian dan pemantauan saya selama ini, saya tidak menemukan sedikit pun adanya hal-hal yang menyimpang dari iman Kristen terjadi di Meko. Terlalu mengada-ada kalau kita mengatakan bahwa kuasa di Meko itu adalah kuasa Setan atau nabi palsu. Dengan melihat adanya pemuliaan nama Yesus dan puji-pujian rohani yang dilantunkan tanpa henti-hentinya dalam penyembuhan di Meko menandakan bahwa mujizat itu terjadi karena kehadiran kuasa Roh Kudus.

Tertius Y. Lantigimo pendeta Gereja Kristen di Sulawesi Tengah, doktor teologi di bidang Perjanjian Baru. Karangan ini bagian dari bukunya Fenomena Mujizat Kesembuhan Ilahi di Meko: Dari Tuhan atau Nabi Palsu/Setan? .