Kata Siapa Al-Kitab Telah Diubah (Dipalsukan)?

Oleh Hans Wijngaards

Diterbitkan 1985

Saat umat Kristen mengutip dari Injil, umat Muslim acapkali menegur :

‘Nats yang kamu baca itu bukanlah Injil yang benar. Injil Isa al-Masih yang asli itu telah hilang. Generasi Kristen yang terdahulu telah memalsukan Kitab suci kamu, jadi pada hari ini Kitab kamu tidak berguna lagi’.

Prasangka ini begitu meyakinkan bagi kaum Muslim. Sehingga hal ini mengeruhkan hubungan dan komunikasi apapun yang berarti di antara mereka dan saudara-saudara Kristen mereka. Bagaimanakah umat Kristen dapat menjelaskan pemahaman dan akidah (keyakinan.admin) mereka mengenai Hazrat Isa al-Masih jika umat Muslim yakin bahwa ‘Injil yang asli’ menggambarkan Hazrat Isa yang berbeda? Dakwaan itu senantiasa ditonjolkan, bahwa ‘Kamu umat Kristen bergantung pada Kitab-kitab yang sudah dipalsukan.’

Dakwaan-dakwaan ini juga terdapat pada banyak media cetak. Belum lama ini, sebuah buku berjudul ‘Jesus Prophet of Islam’ (Isa Nabi Islam) telah diterbitkan. Seturut dengan ajaran Islam, penulisnya mendakwa bahwa Hazrat Isa telah mengemukakan diri-nya hanya sebagai seorang Rasul dan Ia tidak mati disalib (beliau telah diselamatkan oleh sekumpulan malaikat), juga bahwa Ia telah ‘memberitahukan tentang kedatangan Muhammad’. Akidah umat Kristen pada hari ini merupakan suatu penyelewengan yang telah dikenalkan dengan sengaja pada tahun-tahun setelah kebangkitan Hazrat Isa. Bahkan pemalsu-pemalsu ini, si penulis terus mendakwa, ‘sanggup ‘memotong atau menghilangkan’ sebagian dari kitab suci mereka. Malah mereka telah menerbitkan tulisan-tulisan palsu untuk mendukung ajaran-ajaran mereka.

‘Buku-buku yang berisi ajaran-ajaran Hazrat Isa itu telah dimusnahkan, sengaja ditumpas atau diubah untuk menghindari pertentangan yang ada dalam ajaran baru mereka. Ajaran yang asli itu telah mengalami perubahan secara menyeluruh dan telah hilang selama-lamanya’.

Tidak puas hati dengan menjatuhkan tuduhan umum tersebut, si penulis mencoba untuk menunjuk pada satu titik awal yang menurutnya sangat ‘tepat saat terjadinya proses pemalsuan itu’.

‘Pada 325 Tahun Masihi, Telah diadakan Sidang Nicea yang terkenal itu. Ajaran Tritunggal telah ditetapkan sebagai ajaran resmi bagi ‘Gereja Pauline’ dan salah satu akibatnya, yaitu pada lebih kurang tiga ratus ‘Injil’ yang ada pada masa itu, hanya empat yang telah dipilih sebagai ‘Injil resmi’ gereja. Yang lainnya termasuk ‘Injil Barnabas’ diperintahkan untuk dimusnahan. Satu lagi perintah telah dikeluarkan yang menyatakan bahwa; siapapun yang di temukan memiliki Injil tidak rasmi itu akan dihukum mati. Ini adalah detik-detik awal dimana secara teratur mereka mencoba untuk menghapuskan segala catatan dan data-data tentang ajaran Isa al-Masih, baik didalam ingatan manusia maupun yang tertulis dalam buku’.

Bagi mereka yang mendalami dasar-dasar sejarah, baik itu umat Kristen, Muslim, atau agama lainnya bahkan seorang Atheis-pun akan dengan mudah untuk mematahkan tuduhan-tuduhan dan dakwaan seperti tersebut di atas. Apakah yang dapat dikata kepada mereka yang percaya bahwa kota London terletak di negeri Libya? Akan tetapi bukanlah semudah itu bagi umat Kristen yang kurang mempelajari teologi ataupun sejarah gereja. Mereka mungkin kurang pasti apa jawaban yang seharusnya diberikan terhadap tanggapan dan prasangka saudara-saudara Muslim mereka.

Bagi pihak merekalah, saya akan menguraikan beberapa fakta-fakta dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Injil pada hari ini tidak mengalami perubahan. Tetapi adalah sangat menggelitik untuk mempertanyakan : ‘Dari manakah umat Muslim memperoleh tanggapan tersebut, bahwa Injil Kristen telah dirubah?’

 

Berawalnya suatu mitos (cerita dongeng)

Dalam al-Qur’an umat Muslim diperintahkan untuk menghormati Injil Isa-al-Masih yang dibaca oleh umat Kristen. Al-Qur’an menganggap Injil yang dimiliki oleh umat Kristen pada dasarnya sama dengan yang telah diajarkan oleh Hazrat Isa. ‘Dalam empat abad yang pertama setelah wafatnya nabi Muhammad (600-1000 TM) tidak ada satu pun dari ahli Ulama yang membawa tuduhan bahwa nats-nats Kitab Injil bukan sahih. Mereka mungkin menuduh umat Kristen memberikan tafsiran yang salah pada perkataan-perkataan yang ada didalam Kitab Injil; tetapi mereka tidak mempertikaikan atau memperdebatkan perkataan-perkataan Kitab Injil itu sendiri. Kajian ke dalam apologetik Islam telah membuktikan bahwa tuduhan atas ‘pemalsuan’ ini asalnya hanyalah dari seorang tokoh Islam, Ibn-Khazem yang meninggal dunia di Kordoba pada 1064 T.M.’

Ibn-Khazem memerintah di selatan Andalus (Sepanyol) sebagai pelindung bagi khalifah (pemimpin agama Muslim.admin). Dia selalu keluar untuk berperang dalam banyak peperangan saudara bagi pihak khalifah. Dia juga melibatkan diri didalam pembicaran-pembicaraan polemik agama dan teologi. Ia berpegang pada faham Zahiri dan menentang ahli Shi’a dengan sangat tegasnya. ‘Didalam kedua bidang ini, baik itu politik maupun hal hal keagamaan, dia selalu bersikap bagai seorang pahlawan yang sangat tegas. Siapapun yang berani menentangnya akan mencelakai dirinya sendiri, seumpama dihantam oleh batu karang. ‘Penanya sehebat sebilah pedang pahlawan’. Oleh karena sifatnya yang terlalu bringas dan arogan itulah yang membuat Ibn Khazem gagal mempunyai murid bagi dirinya, tetapi tulisannya sangat berpengaruh pada masa yang akan datang.

nama lengkapnya: Abu Muhammad Ali bin Ahmad ibn-Khazem(994 – 1064 T.M.)

Semasa perjuangannya menentang umat Kristen, Ibn Khazem telah menemukan beberapa pertentangan antara al-Qur’an dan al-Injil. Satu contoh yang jelas adalah nats al-Qur’an sebagai berikut :

‘Padahal bukanlah mereka membunuhnya dan bukan pula menyalibnya’ (Q.4:156).

Pada hemat Ibn Khazem : ‘Qur’anlah yang seharusnya dianggap benar, jadi ajaran Injil yang bertentangan dengan al-Quran itu pastilah salah. Akan tetapi nabi Muhammad telah menyuruh umatnya supaya menghormati Injil, oleh karena itu, dia menganggap bahwa nats-nats al-Kitab itu telah dipalsukan oleh umat Kristen’. Tanggapannya ini tidak berdasarkan kepada fakta-fakta sejarah, tetapi hanya menurut pendapat dan hemat Ibn Khazem semata-mata, dan juga pada niatnya untuk menjaga kebenaran al-Qur’an walaupun tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah yang ada. Setelah dia memutuskan untuk mengambil jalan ini, tidak ada yang berdaya untuk dapat menghentikan Ibn Khazem melakukan keputusannya itu. Nampaknya cara yang paling mudah adalah dengan menyerang dan mengecam musuh-musuhnya. ‘Kalau kita dapat membuktikan kepalsuan Kitab mereka, semua bantahan-bantahan mereka akan kehilangan semua kewibawaannya’. Ini telah mendorongnya sehingga membuat pernyataan sinis ‘Umat Kristen telah kehilangan Injil yang telah diwahyukan bagi mereka kecuali segelintir yang dibenarkan oleh Tuhan sebagai satu kesaksian untuk menentang mereka’.

Penulis-penulis selanjutnya telah menganut dan mengembangkan tanggapan Ibn Khazem ini. Tuduhan pemalsuan Al-Kitab terus dikumandangkan oleh Salikh ibn-al-Khusain (meninggal dunia 1200 TM), Ahmad at-Qarafi (meninggal dunia 1285 TM), Sa’id ibn-Khasan (1320 TM), Muhammad ibn-Abi Talib (1327 TM), ibn-Taimija (1328 TM) dan lainnya. Sejak saat itu tuduhan dan tanggapan ini telah menjadi bahan baku dalam ‘persepsi’ polemik Islam menentang kemuliaan Kristen.

Penulis-penulis ini menuduh Maharaja Konstantine dan Paulus sebagai pemalsu-pemalsu yang utama. Karakter Konstantine yang telah dijadikan kambing hitam oleh penulis-penulis ini (sebab beliau telah melibatkan diri dalam Sidang Nicea) sehingga dipersalahkan oleh karena asumsi bahwa dia yang telah membuat cerita penyaliban Hazrat Isa untuk alasan politik, dan juga yang memerintahkan agar catatan-catatan Injil hanya pada empat jilid saja. Mengenai Pauluspun, banyak juga cerita yang tidak masuk akal telah dibuat oleh mereka. Menurut salah satu cerita, Paulus adalah musuh utama umat Kristen dan sangat ingin menghapus ajarannya-ajarannya. Usaha awalnya melalui kekerasan dan tindakan kejam tidak berhasil sehingga dia mencoba jalan lain, yaitu dengan ‘berpura-pura’ memeluk ajaran Kristen termasuk dibaptiskan. Tujuannya adalah untuk merusak ajaran Kristen dari dalam. Untuk memperkuat lagi kesan pemelukan ajaran Kristennya ini, Paulus ingin dikenang sebagai seorang yang telah mati sahid bagi agama Kristen. Jadi, dia telah mengarang satu cerita bahwa Hazrat Isa telah menjelma kepadanya pada suatu malam dan menyuruhkannya pergi mengorbankan diri di kaki sebuah gunung. Pada hari sebelum kematiannya, menurut cerit ini Paulus memanggil tiga orang raja Kristen yang utama lalu menyampaikan kepada tiap-tiap raja satu wahyu rahasia yang berbeda. Kepada raja yang pertama diberinya wahyu bahwa ‘Al-Masih itu adalah Anak Tuhan’, kepada raja yang kedua diberi wahyu bahwa ‘Siti Maryam itu isteri Tuhan’ dan kepada raja yang ketiga dia memberikan wahyu bahwa ‘Tuhan itu ada tiga’.

Saat matahari terbit pada pagi hari brikutnya maka keluarlah Paulus dengan berkain selubung berwarna kelabu dan membawa sebilah pisau. Dan beliau telah menikam dirinya hingga mati dengan tangannya sendiri. Orang banyak yang menyaksikannya kagum dan menganggap dia sebagai seorang pesuruh Tuhan’.

Inilah cerita yang diriwayatkan bagaimana akhirnya umat Kristen telah menerima ajaran-ajaran serong dan juga sebagai ajaran-ajaran yang berbeda. Menurut cerita-cerita lainnya, Paulus adalah seorang raja Yahudi, atau seorang biarawan di kota Roma 150 tahun setelah kematian Hazrat Isa al-Masih. Semua cerita-cerita ini sependapat dengan tuduhan bahwa beliau adalah seorang yang telah membuat pemalsuan dengan licik, dan ‘telah berpura-pura memeluk agama Kristen supaya dapat merusak agama itu dari dalam.’

Dongeng-dongeng mengenai raja Konstantin dan Paulus ini berasal dari beberapa sumber-sumber anti-Kristen Yahudi, legenda-legenda persia dan tulisan-tulisan Marcion.

Untuk membuktikan bahwa cerita-cerita ini tidak mempunyai kesahihan sejarah bukanlah suatu hal yang sulit. Paulus hidup dari 5 TM ke 67 TM, dan ia mengembangkan ajaran yang sama dengan Hawariyun-hawariyun (murid-murid/sahabat Isa al-Masih.admin) yang lain dan juga telah menulis sebagian besar dari surat-surat dalam kitab Perjanjian Baru. Konstantin adalah Maharaja Roma dari 312 – 337 TM. Beliau mengakui keberadaan umat Kristen yang telah menjalankan agama mereka dengan damai.

Apakah konstantin menceritakan penyaliban Hazrat Isa dan juga mencoba untuk membuat perubahan pada Kitab Injil? Sidang Nicea yang dilakukan pada tanggal 20 Mei hingga 25 Agustus tahun 324 T.M, tidak mengeluarkan perintah apapun tentang tulisan-tulisan ‘apocrypha’. Sebanyak 300 uskup-uskup yang berkumpul di sana hanya membicarakan tentang penafsiran serta pemahaman nats Al-Kitab, dan BUKANNYA tentang isi kandungan Al-Kitab itu sendiri. Semua pemimpin-pemimpin Kristen yang terlibat mempunyai kesepakatan penuh mengenai nats Al-Kitab dan kesahihannya dalam sidang itu. Semua ini adalah fakta-fakta sejarah yang nyata, yang bukan hanya menurut ‘hemat pendapat’ atau ‘asumsi’ serta sekedar ‘persepsi’ seseorang saja untuk membenarkan atau menuduh suatu Kitab dengan memaksakan pemikirannya sendiri yang mana telah mengabaikan fakta-fakta sejarah, yang pada akhirnya hanyalah menjadi suatu cerita dongeng belaka yang tidak mempunyai dasar kebenaran.

Jikalau kita mengetahui apa yang menyebabkan sesuatu penyakit, itulah langkah pertama untuk mencari obatnya. Umat Islam seringkali membaca tulisan-tulisan dan karya-karya mereka sendiri yang hanya mengulangi tuduhan-tuduhan lama terhadap ajaran Kristen, sehingga hanya itulah yang menjadi keyakinan mereka. ‘Seekor katak yang hidup di dalam perigi boleh yakin ia telah mengalami lautan’, seperti inilah keadaan mereka yang sebenarnya.

Bagaimanakah jawaban pada jalan buntu seperti ini? Untuk benar-benar mencapai kemajuan dalam proses berdialog yang ikhlas, kedua belah pihak, baik kaum Muslim maupun Kristen, sudah wajarnya untuk mengabaikan dan melepaskan segala prasangka, salah tafsiran dan tanggapan lamanya masing-masing terhadap Kitab-kitab suci mereka dan mengkaji fakta-fakta OBJEKTIF dengan teliti dan dengan pikiran yang terbuka.

 

Teks al-Injil

Ini akan membawa kita kepada penilaian teks Injil itu sendiri. Dapatkah kita menemukan teks-teks awal dan menentukan ketepatan kata-kata yang diilhamkan Tuhan itu? yang telah dicatat antara 50 dan 90 T.M. Banyak saintis-saintis dan para ilmuan yang lain telah mencurahkan tenaga dan kehidupan mereka untuk memperoleh jawaban pada masalah ini. Pengkajian ‘text criticism’ telah membuat penelitian yang begitu rapi pada banyak tulisan-tulisan yang kuno dan yang telah lama tersimpan; di antaranya adalah buku-buku Perjanjian Baru (New Testament). Saya akan mencoba untuk menjelaskan kesahihan tulisan-tulisan tersebut dalam paragraf-paragraf berikut ini melalui suatu proses yang benar menurut hukum atau prinsip yang cukup rumit dan teliti.

Pada zaman Hazrat Isa al-Masih semua buku-buku dan surat-surat hanya ditulis dengan tangan. Ketika semua tulisan-tulisan Perjanjian Baru tersebut telah sempurna dicatat, tulisan-tulisan ini dapat diperbanyak untuk jemaah-jemaah Kristen diberbagai tempat hanya dengan mengambil catatan-catatan tersebut yang telah disempurnakan penulisannya saja. Jenis surat ini digelar ‘manuskrip’ (dr.bahasa Latin yang artinya ‘ditulis dengan tangan’). Bahan yang digunakan pada masa itu adalah ‘papyrus’, yaitu sejenis kertas berkualitas rendah yang terbuat dari tumbuhan sejenis bambu. Oleh karena kitab-kitab suci sering digunakan, baik sewaktu pembacaan peribadi maupun Ibadah pada hari sabat, manuskrip-manuskrip pertama ini mudah menjadi luntur dan lusuh, sehingga harus diganti dengan catatan-catatan manuskrip yang baru.

Pada abad keempat Tahun Masehi, sejenis bahan yang lebih kuat dari pada bahan yang pertama telah ditemukan, yaitu kertas kulit (parchment). Kertas kulit ini dibuat pada serat-serat kulit kambing atau biri-biri yang telah dikikis, disamak dan dijahit rapi untuk dijadikan gulungan kertas kulit. Gulungan kertas kulit ini jelas lebih mahal untuk pembuatannya, akan tetapi keistimewaannya adalah gulungan tersebut menjadi suatu bahan yang sangat sulit untuk dimusnahkan. Sedikit demi sedikit, lebih banyak lagi buku-buku Perjanjian Baru dicatat di atas gulungan-gulungan kulit tersebut, yang diberi nama ‘Kodis (codice)’ atau buku-buku dimana lembaran-lembaran kulit tersebut disusun satu demi satu sama seperti buku yang ada pada hari ini. Adapun kemajuan dalam bidang penulisan, yaitu pada abad pertama T.M. setiap huruf bahasa Yunani mengunakan huruf besar (tulisan Majuskul). Setelah itu satu jenis yang berbeda telah muncul (tulisan Miniskul). Ketika para ahli sains menjumpai manuskrip yang lama, mereka akan selalu menguji untuk menentukan umur dokumen tersebut. Lalu mereka akan menyalin teks-teksnya dengan teliti dan mengkaji segala ciri-ciri catatan tersebut. Teks-teks yang telah dipindahkan dari suatu manuskrip itu akan dibandingkan dengan teks-teks lain yang telah temukan.

Untuk membuat pengkajian tulisan-tulisan Perjanjian Baru, ahli-ahli sains mempunyai banyak sekali bahan-bahan sejarah. Ada sekitar 4,680 buah naskah yang ditulis dalam bahasa Yunani (Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani). 68 buah diantaranya dalam bentuk papyrus, 241 dalam bentuk majuskul, 2,533 adalah salinan miniskul dalam gulungan kulit (parchments) dan terdapat 1,838 koleksi petikan-petikan nats Al-Kitab untuk ibadah hari sabat.

Juga terdapat lebih daripada 6,000 naskah terjemahan dalam bahasa-bahasa lama, seperti bahasa bahasa Latin, Syria, Koptic Mesir, Eropah tengah (Gothic), Armenia, Habsyah, Georgia, Arab Nubia, Persia dan Slav.

Sumber ketiga untuk tujuan perbandingan adalah petikan-petikan Kitab suci yang terdapat pada lebih dari 220 tokoh-tokoh dan pemimpin gereja awal (church Fathers) dan para ulama-ulama Kristen.

Ada juga di antara naskah-naskah tersebut yang sangat tua, salah satunya adalah koleksi papyrus yang dikenal sebagi ‘P52′ yang berisi bagian dari Injil yang dicatat oleh Yahya (Yohanes.admin) seorang Hawariyun dan murid Hazrat Isa al-Masih. Tahunnya telah ditetapkan pada 130 T.M., yakni salinan Injil ini tidak melebihi empat puluh tahun setelah catatan aslinya. Satu lagi contoh salinan Injil yang sahih adalah Kodeks Sinaiticus yang telah disalin pada tahun 350 T.M. di Mesir. Sebanyak 347 mukadimah telah dipelihara dan ini juga menjangkau lebih kurang keseluruhan jangka waktu Perjanjian Baru. Dengan membandingkan tulisan manuskrip tersebut dapat disimpulkan bahwa tiga orang penyalin telah mengusahakannya.

 

Ciri-ciri dari dalil-dalil tersebut

Untuk membandingkan ribuan naskah-naskah ini dan sumber-sumber lain yang menjangkau jangka waktu lebih kurang dari abad kedua hingga abad keempat-belas merupakan satu tugas yang sangat berat. Tetapi hal ini telah dilakukan!!! Proses penyalinan yang berulang-ulang dari abad ke abad telah menyebabkan penyerapan beberapa perbedaan yang kecil kepada teks-teks. Ini dikenal sebagai ‘perbedaan bacaan’. Sekali terjadinya suatu perbedaan kecil pada isi sesuatu teks, maka akan ‘diwarisi’ oleh naskah-naskah yang telah disalin berikutnya. Dengan menganalisis semua perbedaan-perbedaan kecil ini, ahli sains telah berhasil mengumpulkan banyak naskah-naskah pada beberapa kelompok utama, dan dengan ini dapat menyimpulkan bahwa semua naskah-naskah tersebut berasal dari sumber yang sama. Dengan cara begini, versi-versi teks yang paling awal dapat ditanggapi dan dibentuk kembali dengan rapi dan sangat tepat. Kita dapat mengesahkan bentuk dan keadaan teks pada penghujung abad yang ketiga T.M. menurut empat aliran transmisi, yaitu Iskandariah, Barat, Kaisaria dan Antiokus. Dengan proses ekstrapolasi kearah yang lebih dalam lagi mengenai sejarah teks-teks itu, kita dapat menentukan teks yang asli dari semua teks-teks tersebut.

Hasil dari semua penyelidikan dan kajian-kajian tersebut adalah kesahihan dan kewibawaan teks Perjanjian Baru telah dikukuhkan kedudukannya tanpa adanya keraguan lagi. Kita telah mempunyai dasar untuk mempercayai bahwa teks yang ada pada kita hari ini adalah sama dengan teks Perjanjian Baru yang asli.

 

Untuk menyatakannya dengan cara kuantitatif :

Kesan perbedaan-perbedaan kecil yang telah menyerap kedalam teks dalam proses penyalinan selama berabad-abad ini hanyalah pada satu persepuluhan berbanding lima perseratus dari jumlah teks asli (yakni satu kata dalam setiap enam puluh kata); dan tidak membawa pengaruh apapun pada suatu kalimat pengajaran atau perbedaan pada ajaran Kristen pada hari ini. Sebanyak sembilan puluh delapan persepuluhan berbanding lima perseratus teks Alkitab mempunyai dasar sahih yang kukuh yang tidak dapat dipertikaikan.

Ini membuktikan bahwa teks itu tidak pernah dipalsukan. Sesungguhnya, kalau ada seseorang yang ingin coba membuat suatu pemalsuan, tipuan ini dapat dirasakan dengan mudahnya. Cobalah pikirkan satu skenario berikut, dimana seorang pemilik Bank yang kaya di Singapura telah menulis surat wasiatnya yang menguraikan bagaimanakah harta bendanya akan dibagikan setelah lima puluh tahun yang akan datang. Orang kaya ini mempunyai lima orang anak dan setiap orang dari mereka telah membuat satu salinan dari surat wasiat tersebut untuk masing-masing. Setiap orang di antara mereka berlima ini membawa salinan surat wasiatnya sewaktu berpindah ke lima tempat yang berbeda di dunia, yaitu London, Cape Town, Los Angeles, Sydney dan Rio de Janeiro. Setiap orang anak pemilik Bank kaya tersebut masing-masing mempunyai lima orang anak dan mereka juga telah membuat salinan surat wasiat dari orang tuanya sebagaiman surat wasiat yang asli itu. Cucu-cucu orang kaya inipun masing-masing telah memperoleh lima orang anak dan mereka juga telah membuat salinan surat wasiat kakek buyutnya untuk anak-anak mereka. Pada suatu hari, pemilik Bank yang kaya di Singapura itu telah kehilangan surat wasiatnya yang asli. Lalu dengan membandingkan salinan-salinan yang banyak yang telah dibuat oleh anak-anak, cucu-cucu dan cicit-cicitnya dari seluruh pelosok dunia, surat wasiat yang hilang tersebut dapat diperolehmya kembali dan disahkan keasliannya sebagaimana surat wasiat pertama yang hilang. Jika seandainya ada diantara anak, cucu ataupun cicit si orang tua kaya itu ingin membuat perubahan pada teks Surat warisan yang baru ini, pastilah perubahan dalam pemalsuannya itu akan langsung terlihat karena berbeda dengan salinan-salinan surat asli yang sudah ada hasil dari beberapa surat wasiat yang sudah tersebar tersebut dikumpulkan dan disusun kembali!

Dengan cara yang sama, siapapun yang mencoba untuk memalsukan teks Al-Injil akan terlihat secara langsung karena adanya pertentangan dan perbedaannya dengan beribu-ribu salinan teks-teks lain yang tersebar dan kemudian dikumpulkan serta disusun kembali.

Raja Ashoka yang beragama Buddha telah memerintah di India dari 273 S.M. ke 240 S.M., beliau mengumumkan suatu perlembagaan berlandaskan perikemanusiaan yang unik. Dia memerintahkan supaya perlembagaannya itu diukir pada tempat-tempat umum di istananya, saperti batu-batan besar, tiang-tiang dan tembok-tembok gua. Lebih kurang tiga-puluh lima dari ukiran-ukiran tersebut telah ditemukan dan dipulihkan kembali.

Oleh karena itu kita dapat mengesahkan isi dari perlembagaan Raja Ashoka yang asli. Walaupun seorang dari pengukir-pengukir itu mencoba mengubah teks asli Ashoka untuk memperdaya kita. Pemalsuan itu dapat dibuktikan dengan membandingkan ukiran-ukiran lain yang ada.

Injil merupakan perlembagaan bagi gereja yang awal. Beribu-ribu salinannya telah dibuat sama dengan teks-teks aslinya semenjak awal, kalaulah kabarnya suatu pemalsuan telah terjadi, tentu sekali hal ini dapat dilihat dengan mudah.

H.K.Moulton yang telah menyelidiki dan mengkaji manuskrip-manuskrip Injil lebih dari empat puluh tahun, boleh kita kutip untuk memberi kesimpulan untuk dasar ini. Dia telah mencapai kesimpulan bahwa perbedaan-perbedaan kecil diantara beberapa teks tidak membawa pengaruh yang buruk pada setiap ajaran-ajaran Kristen. Katanya lagi :

‘Setelah semua dokumen-dokumen disaring dan diteliti serapi-rapinya didapati bahwa pada dasarnya dokumen-dokumen ini sangat cocok atau tidak terdapat perubahan…!’

Tidak ada buku yang pernah ada di dunia ini yang telah diuji, diteliti dan diselidik dengan begitu hebatnya seperti buku-buku Perjanjian Baru, bahkan al-Quran-pun tidak (Al-Kitab/Bible Mampu, Tetapi Al-Quran Tidak Mampu Tahan Uji, Menurut Pengakuan Tokoh-Tokoh Islam.admin).

Tidak satupun pemalsuan yang dapat tahan pengujian dan penyelidikan sedemikian rupa (yang telah diadakan terhadap buku-buku Perjanjian Baru). Kita dapat meyakini Kitab-Aslilah yang ada pada kita hari ini, sebab telah dilakukan pengujian yang tajam, tetapi tidak dapat menunjukan kelemahan apapun padanya.

 

Penjaga-penjaga Ajaran.

Jadi, telah dibuktikan di atas bahwa umat Kristen sejak dari awal telah memelihara dengan setia ajaran-ajaran yang diterima mereka dari Isa al-Masih. Inipun bukanlah perkara yang mengherankan. Pengikut-pengikutnya sangat mengutamakan pemeliharaan mutiara-mutiara rohani yang telah dianugerahkan pada mereka oleh Tuhan. Sejak awal 50 T.M. Paulus telah menulis : ‘Saudara-saudaraku, kamu harus tetap percaya dan berpegang kepada ajaran-ajaran yang telah kami sampaikan…’(2 Tesalonika 2 ay.15). ‘Sentiasa mengikut ajaran yang aku berikan kepada kamu (1 Korintus 11 ay.2). ‘Apa yang aku sampaikan kepada kamu adalah apa yang sudah aku terima. Inilah perkara terpenting: Al-Masih mati karena dosa kita, sesuai dengan yang tertulis di dalam AlKitab…Dia dikuburkan dan pada hari ketiga Dia dihidupkan semula…Kami semua mengisytiharkan perkhabaran yang sama dan maku semua percaya kepadanya…Berita Baik itu akan menyelamatkan kamu jika kamu berpegang kepadanya dengan teguh’ (1 Korintus 15:3-4,11,2).

Umat Kristen awal sangat mendahulukan dan mementingkan apa yang telah dikatakan dan dilakukan oleh Isa Al-Masih. Orang-orang Yunani dan Roma telah mempunyai taraf yang lebih tinggi didalam penulisan-penulisan sejarah. Mereka tahu hal ini sangat mereka pelukan dalam melaporkan fakta-fakta yang objektif, yang dapat dibuktikan oleh saksi-saksi dan dokumen-dokumen yang asli.

Para ilmuwan modern telah memutuskan bahwa beberapa ahli-ahli sejarah pada masa kuno dapat diyakini dan dipercayai dalam tulisan-tulisan mereka. Herodotus, Thucydides, Polybius dan Tacitus adalah orang-orang yang cemerlang dalam bidang ini; Josephus, Kaisar(Caesar), Polynius dan Livy adalah orang-orang yang dapat dipercayai. Walaupun mungkin ada di antara mereka yang ceroboh atau kurang berhati-hati, umat Kristen yang awal sangat akrab pada peraturan dan tata cara mencatat kejadian-kejadian yang benar dan sahih. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah kita terima dengan serius kenyataan Lukas, bahwa dia telah merujuk pada saksi-saksi (Lukas 1 ay.2) dan selanjutnya : ‘Saya sendiri telah menyelidiki semua peristiwa itu dari permulaannya, maka ada baiknya saya juga menulis satu laporan yang teratur untuk Tuan, supaya Tuan dapat tahu dengan selengkapnya bahwa apa yang telah diajarkan kepada Tuan memang benar’. (Lukas 1 ay.3-4). Umat Kristen secara wajar ingin mengetahui akan kebenaran tentang apa yang diajarkan kepada mereka.

 

Satu Permulaan Baru

Umat Kristen dan Muslim memiliki banyak kesamaan pada kepercayaannya. Tuhan yang maha Esa, Pencipta segala-galanya dan Sumber segala wahyu. Hakim yang penyayang; yang akan menghukum yang salah dan memberikan ganjaran yang baik pada mereka yang saleh. Pada masa sekarang ini, saat fahaman materialisme menonjol pengaruhnya di seluruh dunia, sangatlah penting dan pantas agar semua ahli-ahli Kitab menekankan bidang-bidang yang sama di antara mereka, dan bukanlah perbedaan-perbedaan yang membawa kepada suatu pertentangan dan perselisihan dikalangan mereka sendiri. Ini berarti bahwa prasangka-prasangka yang tidak berdasar diantara kedua belah pihak seharusnya diruntuhkan. Pada bulan Februari 1976, sebanyak 1,200 para rombongan dari enam puluh negara mengambil bagian di dalam suatu Seminar ‘Dialog Islam-Kristen’. Umat Kristen disitu telah memohon kepada peserta-peserta Muslim supaya mengenal dan mengkaji Perjanjian Baru secara lebih terbuka dan mendalam dan untuk meruntuhkan tuduhan ‘pemalsuan’ terhadap mereka. Untuk berdialog dangatlah diperlukan agar kedua belah pihak menerima kesahihan Kitab-kitab suci mereka masing-masing.

Sesungguhnya kebanyakan tokoh dan pemikir-pemikir Islam yang agung telah menerima kesahihan teks Injil dan Perjanjian Baru. Untuk menguraikan nama-nama mereka disini merupakan penutup yang sesuai untuk artikel ini. Kesaksian mereka membuktikan bahwa dialog di antara umat Muslim dan Kristen jangan dibelenggu oleh tuduhan yang telah dipelopori oleh Ibn-Khazem yang tidak mempunyai dasar kebenaran apapun.

Dua ahli sejarah Islam yang agung, Al-Mas’udi (meninggal 956 T.M.) dan Ibn-Khaldun (meninggal 1406 T.M.) telah mengakui akan kesahihan teks Al-Injil.

Empat orang ahli ulama terkenal yang juga telah menyetujui hakikat ini :

Ali at-Tabari (meninggal 855 T.M.), Qasim al-Khasani (meninggal 860 T.M.), ‘Amr al-Ghakhiz (869 T.M.) dan tokoh yang utama, imam Al-Ghazzali (1111 T.M.).

Pandangan ini juga didukung oleh Abu Ali Husain Ibn Sina, yang lebih dikenal di dunia Barat sebagai ‘Avicenna’ (m. 1037 T.M.). Al-Bukhari (m.870 T.M.) yang terkenal karena mengumpulkan hadith-hadith yang terawal, telah mengutip pada Al-Qur’an sendiri (Surah Ali-Imran 3 ay.72,78) untuk membuktikan bahwa teks Al-Kitab Al-Mukaddis tidak pernah dipalsukan.

Akhir kata, seorang tokoh Muslim terkemuka di zaman moden, Muhammad Abdul Sayyid Ahmad Khan, seorang ‘ulama Islam modern’ yang telah memelopori pembaharuan sosial pada era moden ini, telah menerima keputusan-keputusan sains modern. Beliau berkata :

‘Berkaitan dengan teks Al-Kitab (Bible), ia tidak mengalami perubahan apapun. Juga tidak ada seorangpun yang dapat mengemukakan sesuatu teks (alternatif) yang berbeda sebagai teks yang sahih’.

Bersyukurlah kepada Tuhan karena kesaksian tokoh-tokoh yang jujur ini!

 

NOTA-NOTA

1. MUHAMMAD ATA UR-RAHIM, Jesus Prophet of Islam, Omar Brothers Publications, Singapore 1978, ms. 12, 15 and 40.

2. G. PARRINDER, Jesus in the Qur’an, Faber and Faber, London 1965, bab 15.

3. P. A. PALMIERI Die Polemik des Islams, German tr. Holzer, Salzburg 1902; E. FRITSCH, Islam und Christentum im Mittelalter, Müller & Seiffert, Breslau 1930; see also. H. HIRSCHFELD, `Muhammadan Criticism of the Bible’. Jewish Quarterly Review 13 (1901) 222-240.

4. F. M. PAREJA, Islamologia, Orbis Catholicus, Roma 1951, ms. 460-461.

5. I. DI MATTEO, `Il ‘takhrif’ od alterazione della Bibbia secondo i musulmani’, Bessarione 38 (1922) 64-111; 223-260; `Le preteze contradizzioni della S. Scrittura secondo Ibn-Hazm’, Bessarione 39 (1923) 77-127, E. FRITSCH, op. cit., ms. 66.

6. IBN KHAZEM, Kitab al-fasl fi’l-milah wa’l ahwa’l nikhal, II,6; E. FRITSCH, op cit., ms.55.

7. IBN KHAZEM, ibid.; E. FRITSCH, op. cit, ms. 64.

8. Ringkasan drpd. AL-QARAFI; E. FRITSCH, op. cit., ms. 49.

9. Cerita2 yg.sama terdapat dalam versi Pasri Tustari: ‘Qisas al-anbija (Sejarah Nabi-nabi)’ di dalam manuskrip bertarikh 1330 TM, dan drpd.Ghalal-addin Rumi: ‘Metnewi (Satu Cerita raja Yahudi dan wazirnya, 1273 TM)’; E. FRITSCH, op. cit., ms. 50-65.

10. Bagi penjelasan lebih mendalam mengenai ‘text criticism’ dan kesimpulan2nya, saya syorkan penulis2 F.G.KENYON:The Text of the Greek Bible, London 1937,1949;L.D.TWILLEY, The Origin and Transmission of the New Testament,Edinburgh 1957; V.TAYLOR, The Text of the New Testament, London and New York 1961; J.H.GREENLEE, An Introduction to New Testament Textual Criticism , Grand Rapids 1964; B.M.METZGER, The Text of the New Testament, Oxford 1968.

11. H. K. MOULTON, Pa pyrus, Parchment and Print; the story of how the New Testament text has reached us, London 1967, ms. 9-10, 70-71.

12. A.M. MOSLEY, Historical Reporting in the Ancient World, New Testament Studies 12 (1965) ms.10-26.

13. Teks Pengisytiharan Penutup bagi Seminar Tripoli, L’Osservatore Romano (English Edition), Feb. 26, 1976, ms. 6-7.

14. I. DI MATTEO, loc. cit (nota 5), AT-TABARI dan AL-GHAKHIZ menyatakan bahwa penterjemahannya mungkin kurang tepat, tetapi mereka tidak meragui kesahihan teks bahasa Yunani. Mengenai AL-GHAZZALI pula, lihat F. M. PAREJA, op. cit, ms. 463.

15. G. PARRINDER, Jesus in the Qur’an (‘Isa di dalam Quran), Faber and Faber, London 1965; Terjemahan Belanda, Ten Have, Baarn 1978, ms. 124.

16. M. H. ANANIKIAN, `The Reforms and Religious Ideas of Sir Sayyid Ahmad Khan’. The Moslem World 14 (1934) ms. 61