bagian 3_bab13_bagian 1

Bagian 3

Warisan Yesus dan Muhammad Dalam Perkataan dan Perbuatan

Bab 13 Bagian 1

Makna Perang Suci

Karena anda telah membaca banyak informasi tentang kehidupan Yesus dan Muhammad SAW, sehingga Anda akan mudah dalam memahami apa yang diajarkan keduanya tentang perang dan penggunaan pedang. Bab ini dibagi menjadi tiga bagian. Pada kesempatan pertama, kita akan lihat apa yang diajarkan Muhammad tentang toleransi terhadap agama lain dan mengapa Muslim moderat percaya bahwa Jihad bukan merupakan perjuangan fisik, tetapi rohani, kemudian saya akan menjelaskan dua ayat-ayat di Injil dimana Yesus berbicara tentang ‘pedang’ : Muslim merujuk ke ayat itu dan berkata Yesus mengajarkan kepada pengikutnya untuk berperang suci (jihad). Kita akan Mengartikan ayat ini menggunakan kisah Injil lainnya.

Pada bagian kedua akan mengetahui apakah Muhammad menganggap sebagai Jihad permanen atau tanggung jawab sementara untuk Muslim. Sebaliknya, kita akan melihat apa yang Yesus ajarkan pada murid-muridNya untuk menanggapi musuh mereka.

Dalam bagian ketiga, kita akan bandingkan apa yang diberikan Muhammad sebagai imbalan bagi pengikutnya yang berjuang jihad, dan apa yang Yesus yang ditawarkan untuk pengikutNya yang memilih untuk tidak melawan. Kesimpulan akan menyajikan isu yang sering ditanyakan oleh Kristen dan Muslim: Islam adalah sejarah berdarah, tetapi Kristen juga memiliki tangan yang dikotori dengan darah. Oleh karena itu, Apakah perbedaan antara perang yang dilakukan oleh Muslim dan perang yang dilakukan oleh orang Kristen?

Toleransi vs. Jihad

Ada ayat-ayat dalam Quran yang jelas ajakan untuk toleransi:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Surah 2:256

Ayat ini mengatakan bahwa anda tidak dapat memaksa setiap orang untuk mengubah agama mereka. Jalan yang benar harusnya jelas. Muhammad mengumumkan ini awal dari periode di Madinah, sebelum Pertempuran Badar.

ini ayat lain dari toleransi:

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri’.

Surah 29:46

Surah ini dipercaya disampaikan di Mekah, ketika Muslim yang disiksa dan dianiaya. Ayat menunjukkan bahwa Muslim seharusnya tidak berdebat dengan orang-orang Yahudi dan Kristen, melainkan, mengundang mereka untuk mengikuti Islam. Di saat itu, Muhammad masih percaya bahwa banyak orang-orang Yahudi dan Kristian akan memeluk Islam karena doktrin Satu Tuhan.

Namun, dalam Qur’an yang sama terdapat ayat-ayat yang jelas menghasut untuk memerangi orang-orang dalam arti fisik, sebuah perjuangan di mana orang dibunuh dan di tawan. Bagaimana mungkin untuk menyeimbangkan kedua pesan ini? Rahasianya adalah untuk memperhatikan saat ayat-ayat ini diturunkan. Misalnya:

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Surah 8:39

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.

Surah 8:65

Ayat-ayat ini yang diturunkan di Madinah setelah Pertempuran Badar (2 H), saat kemenangan mengejutkan pertama Muslim terhadap tentara Mekah. Namun, toleransi pada ayat (Sura 2:256) diturunkan di Madinah sebelum Pertempuran Badar.

Jadi, ayat mana yang harus diikuti? Pada masa Muhammad jawaban telah jelas: yang baru MEMBATALKAN yang lama. Orang-orang memahami bahwa ketika Muhammad mengumumkan bahwa waktunya untuk berperang, ini berarti bahwa saat untuk toleransi telah habis. Prinsip ini dinyatakan dalam Al Qur’an dalam Sura 2:106:

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?

Sura 2:106

Sarjana Muslim menyarankan ini sebagai ‘Prinsip dari naskh’ Hal ini menunjukkan bahwa perwahyuan ayat-ayat yang Muhammad terima bersifat progresif. Ayat yang baru membatalkan ayat yang lebih lama. Pada prinsipnya tidak hanya diterapkan untuk Jihad, tetapi juga banyak masalah lainnya, termasuk yang minum alkohol, validitas adopsi, dan bagaimana orang harus berdoa.

Muhammad tidak melihat perubahan tersebut sebagai kontradiksi, tetapi sebagai pengembangan ayat. Qur’an mengatakan:

Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang Muftari (penipu, pembohong) saja’. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.

Surah 16:101

Jihad yang merupakan peperangan rohani?

Masa kini, Muslim moderat sering berkata bahwa Jihad adalah memerangi batin rohani seseorang untuk mengikuti ajaran Islam. Dari mana mereka menarik gagasan ini? Beberapa Muslim menunjuk ke salah satu cerita yang dilaporkan dalam sebuah hadist:

‘Muhammad telah kembali dari peperangan ketika ia berkata kepada salah seorang teman:’ Kami akan kembali dari Jihad kecil ke yang besar‘.

Temannya bertanya: ‘O Nabi Allah, berkata apa yang Anda maksud dengan pertempuran kecil dan peperangan besar?‘

Muhammad berkata: ’yang kecil adalah apa yang baru saja kami lakukan, kami telah memerangi musuh-musuh Islam, yang besar adalah pergumulan rohani kehidupan seorang Muslim‘ 1.

Dengan kata lain, kembali pulang dari berperang, dilaporkan bahwa Muhammad berkata bahwa ‘peperangan besar adalah dalam rohani. Muslim liberal sering menggunakan istilah tersebut: ‘peperangan besar’.

Ada beberapa sengketa pada hadist iniyang anda harus ketahui

1. Pertama sekali, adalah ketidak konsisten dengan ajaran lain dari Muhammad dan Qur’an. Quran memberikan Muslim banyak petunjuk untuk hidup, tetapi Quran tidak pernah mendefinisikan hal ini sebagai memerangi dalam artian ‘jihad’

2. Dokumentasi yang berhubungan dengan kisah ini pada kehidupan Muhammad yang sebenarnya adalah lemah. Sarjana Ortodoks Muslim percaya bahwa Muhammad tidak pernah mengatakan hal tersebut. Sheik al-Elbeni, sarjana Hadits yang paling dihormati di dunia, mendaftarkan ini sebagai hadist lemah, begitu juga pendapat sejarahwan yang dapat dipercaya.

Sekalipun hadis ini dapat dipercaya, apa yang benar-benar dikatakannya? apakah itu membatalkan panggilan Muslim untuk melakukan peperangan fisik? Tidak tersirat. Apakah itu menjelaskan kapan perang fisik mereka telah berakhir? ‘Tidak..!’ Mari kita lihat jika Muhammad pernah memberikan petunjuk dari akhir masa untuk jihad.

Akhir jihad fisik

Mari kita lihat lagi Qur’an untuk melihat apakah pernah tertulis meminta Muslim untuk menghentikan perang suci terhadap orang-orang kafir.

Sembilan tahun setelah mereka berhijrah ke Madinah (dan kurang dari dua tahun sebelum kematiannya), Muhammad mengumumkan wahyu besar tentang perlakuan Islami terhadap orang-orang kafir. Muhammad membuat pengaturan agar instruksi ini dibaca para Muslim yang telah pergi ziarah ke Mekah 2.

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.

Surah 9:5

Perangilah (1)orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan (2)tidak (pula) kepada hari kemudian, dan (3)mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan (4)tidak beragama dengan agama yang benar (agama Islam), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka (Yahudi dan Kristen), sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Surah 9:29

Sebagaimana yang bisa kita lihat, Muhammad terus memnita Jihad fisik yangberakhir hanya ketika orang-orang kafir tunduk. Hadist yang ini juga berisi desakan dari Muhammad:

‘Saya mendengar Rasul Allah berkata: Aku memerintahkan dalam nama Allah untuk memerangi semua orang sampai mengatakan bahwa tidak ada Tuhan di luar Allah dan bahwa saya adalah rasul. Dan siapaun yang mengatakannya akan menyelamatkan dirinya dan uangnya ‘3.

Muslim beraksi sesuai Perkataan Muhammad SAW, mereka melakukannya pada semua orang, menyerang banyak negara di Asia, Afrika dan Eropa. Sehingga sulit untuk mengatakan bahwa Muhammad telah membuat titik akhir dari jihad. Namun, Muslim modern telah mengembangkan konsep bahwa Muhammad hanya berjuang pada perang yang dapat dibenarkan. Mari perdalam pandangan ini.

Perang yang dibenarkan

Selama saya berbicara di berbagai bagian Amerika, sering saya mendapat pertanyaan ’Muhammad harus berperang karena dia mempertahankan pewahyuannya dan kaumnya, maka perang ini dibenarkan. ’Mari kita perhatikan ayat dari orang yang memberikan kosa kata ‘perang adil’ atau ‘perang yang dibenarkan’.

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

Surah 17:33

Ayat ini tidak berbicara perang, merujuk ke pembunuhan yang dilakukan di masyarakat, ayat berakhir dengan deskripsi hak dari keluarga korban. Ini merupakan salah satu bagian dari dari Quran yang memberikan panduan untuk kehidupan sehari-hari, termasuk menghormati orang tua, menyumbangkan untuk fakir miskin, moralitas dan merawat anak yatim. Ayat ini, namun, memberikan asal dari kata ‘perang adil’. Sekarang kita ingin mengamati ayat-ayat lain yang berbicara langsung dalam topik mengenai perang. Mereka mengatakan bahwa Muhammad hanya berperang ketika ada yang menyebabkan. Dengan kata lain, saat Muslim di aniaya atau di serang terlebih dulu. Berikut ini adalah beberapa ayat-ayat yang digunakan untuk mendukung hal ini :

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.

Surah 22:39

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah)…. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Surah 2:190-193

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Surah 8 :61

Muhammad mempraktekan perang, menyerang hanya setelah diserang lebih dahulu (hanya ‘sebab akibat’)? Ini dapat diterima sebagai alasan penyerangannya terhadap Mekah, karena orang-orang Mekah telah menyebabkan masalah untuk dia dan pengikutnya saat Muhammad tinggal di tengah-tengah mereka. Namun, orang–orang Mekah tidak mengejar Muhammad ke Madinah untuk menyerang di sana, mereka membiarkannya. Muhammadlah yang pertama, menyerang sebuah konvoi yang kembali dari Syria ke Mekah.

Beberapa mengatakan bahwa serangan Muhammad terhadap masyarakat Yahudi dapat dibenarkan karena orang-orang Yahudi telah bekerja sama dengan orang Mekah menyerang Muhammad selama Pertempuran parit. Namun, Orang-orang Yahudi dan orang-orang Mekah gagal sepenuhnya pada peperangan itu, dan tidak merugikan Muhammad sama sekali. Orang-orang Yahudi bukanlah sebuah ancaman serius bagi Islam.

Tapi setelah Muhammad menaklukkan semua suku bangsa yang merupakan ancaman kepada agama Islam, ia terus menyebarkan jihad terhadap negara-negara yang tidak merupakan ancaman baginya. Ia mulai mengirim surat kepada raja-raja dan gubernur di luar Arab, agar mereka tunduk kepada agama Islam.

Setelah kematiannya, pengikutnya juga terus memperkenalkan Jihad pada negara yang tidak pernah agresif terhadap negara Islam, misalnya, Mesir tidak pernah menyerang Muslim, tetapi tentara Islam datang dan menewaskan lebih dari empat juta orang Mesir pada abad pertama Islam.

Kaum muslimin tidak berhenti setelah Mesir, mereka pergi ke selatan, ke Sudan, dan barat untuk menaklukan seluruh Afrika Utara. apa yang bangsa-bangsa Afrika Utara telah lakukan untuk memprovokasi Muhammad atau penerusnya? Tidak ada!

Bahaya apa yang dilakukan Spanyol, Portugal, dan Eropa Selatan pada Islam dan penerus Muhammad? Namun Islam menyerang mereka juga.

Saya telah sampai kepada kesimpulan bahwa baik Muhammad maupun para pengikutnya melakukan apa saja untuk membenarkan perang, satu-satunya cara untuk menghindari pedang Islam adalah tunduk.

Sekarang lihat apa yang Yesus katakan tentang perang.

YESUS DAN PEDANG

Mengapa Muslim berfikir bahwa Yesus memanggil untuk Jihad?

Banyak Muslim percaya bahwa Yesus sendiri telah memanggil untuk perang suci. Mereka menunjuk pada Matius 10:34-36, dimana Yesus memberi petunjuk kepada dua belas murid untuk berkhotbah sendiri saja

‘Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.’

Matius 10:34-36

Muslim berkata: ‘Anda lihat, Yesus dikatakan Ia membawa pedang ke bumi.’ Namun Apa yang dimaksudkan Yesus di kutipan ini sangat jelas jika kita melihat kepada pengajaran yang sama, sebagaimana dicatat dalam salah satu Injil lain. Lukas merujuk kepada kata Yesus:

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.

Lukas 12:51-52

Yesus memperingatkan murid-muridnya bahwa pesannya akan memecah belah, alih-alih mempersatukan orang bersama, tetapi akan memisahkan orang, dan bahkan anggota keluarga yang sama akan menjadi musuh. Yesus menjelaskan bahwa beberapa orang yang menjadi Kristen akan meninggal di tangan saudara-saudara, bapak, atau anak-anak mereka:

Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.

Matius 10:21

Dengan kata lain, Yesus menyatakan bahwa pesan-Nya akan menyebabkan orang menggunakan pedang untuk membunuh orang-orang yang memilih untuk mengikuti-Nya.

Sebagai Kristen dari sebuah bangsa Muslim, saya dapat menjamin Anda bahwa peringatan Yesus masih berlaku hari ini. Saya sangat sedih, setelah memberitahu Ayah saya bahwa saya telah memutuskan untuk mengikuti Yesus, ia mencoba untuk membunuh saya dengan pistol. Namun, saya mengalami hanya sedikit masalah, jika dibandingkan dengan nasib dari beberapa Muslim yang telah memilih menjadi Kristen.

Jika kita melihat bagian lain dari pesan yang Yesus berikan untuk Murid-murid-Nya pada hari itu, kita akan melihat lebih jelas bahwa pedang itu tidak berada di tangan orang-orang yang beriman, tetapi pada leher mereka; daripada menggunakan pedang, justru sebaliknya, merekalah yang akan menjadi korbannya.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.

Matius 10:17

Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Matius 10:28

Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Matius 10:39

Yesus mengatakan kepada murid-muridnya untuk membeli pedang. Beberapa Muslim juga menyebutkan beberapa ayat lain perkataan Yesus tentang pedang. Hal ini terjadi setelah Yesus makan perjamuan terakhir dengan murid-murid-Nya sebelum Ia ditangkap dan mengalami kematian, Ia mengingatkan mereka perjalanan yang telah mereka lakukan sebelumnya.

Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?’ Jawab mereka: ‘Suatu pun tidak.’

Lukas 22:35

Kemudian dia memberi petunjuk baru bagi mereka :

‘Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. Kata mereka: ‘Tuhan, ini dua pedang.’ Jawab-Nya: ‘Sudah cukup.’

Lukas 22:36, 38

Dalam ayat ini, kata pedang merujuk ke belati atau pedang pendek yang digunakan oleh pelancong sebagai perlindungan terhadap perampok atau hewan liar. Lukas tidak mencatat penjelasan lebih lanjut tentang petunjuk ini. Akan tetapi, pada malam harinya, Petrus Mengunakan salah satu dari pedang itu, mari kita melihat bagaimana Yesus menanggapinya.

Seperti biasanya, Yesus pergi untuk berdoa di Bukit Zaitun dan murid-murid pergi bersama Dia. Ada gerombolan orang banyak dengan bersenjata pedang dan pentungan menghentikannya, gerombolan itu mencoba menangkap Yesus, Petrus mengambil salah satu pedang dan menghentam hamba Imam Besar, memotong telinganya. Yesus berkata kepada Petrus :

‘Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?’

Matius 26:52-54

Setelah menegur Petrus, Yesus menyembuhkan telinga hamba itu dan Petrus menaruh pedang itu, gerombolan bersenjata yang membawa Yesus pada imam besar, yang kemudian akan menyalibkan-Nya. Jika kita melihat peristiwa-peristiwa malam ketika Yesus ditangkap, kami dapat melihat bahwa Yesus tidak ingin murid menggunakan pedang untuk membela diri.

Tapi apa tujuan Yesus? Pendapat saya ialah, Yesus menginginkan murid-murid mengetahui bahwa setelah kematiannya, murid-murid tidak akan lebih aman seperti sebelumnya, selama perjalanan mereka akan memerlukan uang untuk membeli makanan dan pedang untuk melindungi dirinya. Apakah Ada kemungkinan bahwa Yesus meminta mereka untuk mengatur militer untuk melestarikan atau menyebarluaskan ajaran-Nya? Tentu saja tidak! Itu akan terlalu tidak konsisten dengan ajaran Yesus sepanjang hidup-Nya. Sebagai pembuktian lebih lanjut, tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa setelah kematian Yesus, para murid mulai mengangkat senjata, karena hanya pedang yang disebutkan dalam Alkitab dari gereja mula-mula, adalah milik seorang sipir penjara yang menjaga Paulus dan Silas (lihat Kisah 16:27).

Bab 13 Bagian 2

Makna Perang Suci 2